Wo Ai Ni [Chapter 6 / Final]

image

Title : Wo Ai Ni

Author : Hyeri Choi

Cast : Seo Joohyun (GG Seohyun), Lu Han (EXO Luhan), Jessica Jung (GG Jessica)

Support Cast : Find by yourself

Genre : Romance, Marriage-life, Alternate Universe (AU)

Rated : T

Length : 6 of 6 [Final]

Poster Art : keyunge @ seoexoartfanfic (thanks chingu ^^)

Disclaimer : FF dan story punya saya. Para cast punya Tuhan, orang tua dan manajemen mereka.

Already published at WP pribadi

2013 © Hyeri Choi

Prev.

‘Sudah dua tahun aku tinggal disini,’ batin Seohyun sambil melangkahkan kakinya pergi. ‘Selama itu juga, entah kenapa aku tak pernah bisa melupakanmu, Luhan-ah. Apa kau bahagia sekarang dengan Jessica?’

Seohyun kemudian menatap arah depan, dan matanya membulat melihat seseorang di dekatnya. Waktu seakan terhenti saat pandangan mereka berdua bertemu. Orang tersebut juga menatap Seohyun dengan tidak percaya.

“Lu… Luhan?”

***

Seohyun menatap orang yang mirip dengan Luhan, begitu pun namja itu. Seohyun sangat yakin jika seseorang yang dilihatnya adalah Luhan. Seohyun kemudian berbalik berusaha menghindari tatapan namja itu.

Jamkkanman…” teriak namja itu namun Seohyun berusaha untuk mengabaikannya, dia terus mempercepat langkahnya.

“Tunggu sebentar, Seohyun-ah?” tanya namja itu berhasil mengejar Seohyun dan memegang tangannya, Seohyun kemudian menatap namja itu. Ternyata benar Luhan.

“Apa yang kau lakukan disini, Luhan-ssi?” tanya Seohyun berusaha tenang, meskipun sebenarnya jauh di dalam hatinya dia begitu merindukan tatapan Luhan.

Luhan terkejut saat mendengar Seohyun memanggilnya dengan panggilan formal, apakah dua tahun mereka berpisah membuat segalanya menjadi canggung?

“Aku… Aku mencarimu, Seohyun-ah,” ucap Luhan pelan, dia kemudian menghela nafasnya pelan. “Kenapa kau pergi begitu saja dari Korea?”

“Untuk apa lagi kau mencariku, Luhan-ssi?” tanya Seohyun terdengar meninggi, emosinya begitu memuncak namun ia tak ingin kelihatan lemah di depan Luhan.

“Apa kau tak sadar selama ini? Aku mencintaimu, Seohyun-ah…” ucap Luhan menatap iris mata Seohyun lekat.

Plakk

“Apa kau bisa bilang begitu setelah apa yang kau lakukan kepadaku?” tanya Seohyun setengah berteriak setelah menampar pipi Luhan. Namja itu hanya terdiam seakan enggan untuk menjawabnya.

Mianhae, Seohyun-ah…” gumam Luhan lirih, terpancar kesedihan sekaligus penyesalan dari bola matanya. Seohyun kemudian menghela nafasnya pelan.

“Sudahlah, lebih baik kau kembali ke Korea, Luhan-ssi. Jangan pernah menganggu kehidupanku yang telah ku tata dengan susah payah disini. Kuharap kau bahagia.” ucap Seohyun berbalik dan berjalan meninggalkan Luhan yang masih terdiam di tempat itu.

Seohyun berjalan sambil mengigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan agar isakannya tak terdengar meski air matanya sudah mengalir di pipinya.

‘Maafkan aku, Luhan-ah. Sejujurnya aku membatalkan perceraian kita hari itu juga karena aku tak sanggup melakukannya.’ batin Seohyun menyeka kasar air mata di pipinya.

Flashback

Seohyun menarik keluar koper-koper miliknya dan memasukannya ke dalam bagasi taksi yang sudah dipesannya. Seohyun kemudian berbalik melihat rumah yang ditinggalinya bersama Luhan beberapa bulan ini, banyak hal yang sudah dilaluinya dengan namja berdarah China itu.

Gadis itu kemudian masuk ke dalam taksi setelah menghembuskan nafasnya pelan.

“Agaeshi, apa kita akan ke kantor catatan sipil?” tanya supir taksi itu dengan sopan. Seohyun kemudian menatap surat perceraian yang telah di tandatangani oleh Luhan, yeoja itu kemudian menghembuskan nafasnya dan menggeleng.

“Tidak ahjussi, kita menuju distrik Gangnam.” jawab Seohyun yang diangguki oleh supir tersebut. Taksi itu kemudian melaju meninggalkan rumah itu.

Flashback END

“Hey, Seohyun-ssi, kau darimana saja?” tanya Kyungsoo menatap bingung Seohyun yang baru saja tiba di Cafe tempat mereka makan siang.

“Hanya menghirup udara segar saja.” jawab Seohyun singkat namun itu malah membuat Yixing menatap tajam gadis itu menyadari sesuatu.

“Kau menangis, Seohyun-ssi?” tanya Yixing terus menatap gadis yang merupakan rekan kerjanya itu, tentu saja karena mata yeoja bersurai panjang itu terlihat sembab.

“Tidak,” ucap Seohyun menggelengkan kepalanya. “Ini karena mataku kemasukan debu. Sudahlah, ayo kembali. Masih banyak pasien yang harus kita tangani.”

Kyungsoo dan Yixing menganggukan kepalanya. Mereka memilih tidak bertanya apa-apa lagi selain terdiam. Ketiga dokter itu kemudian berjalan meninggalkan Cafe itu menuju Rumah Sakit yang berada di seberang jalan.

***

“Hey, Luhan-ah, ada apa denganmu?” tanya Kai bingung mendapati Luhan kembali ke penginapan dengan wajah lesu.

“Tidak ada apa-apa.” jawab Luhan singkat sambil menghempaskan tubuhnya di sofa namun hal itu malah membuat ketiga sahabatnya semakin penasaran.

“Ya! Ada apa denganmu, Luhan-ah?” tanya Sehun menyelidik namun Luhan hanya menggelengkan kepalanya.

“Apa kau bertemu dengan Seohyun?” tanya Kris yang kali ini membuka suaranya.

“Tidak,” jawab Luhan berbohong, namun Kris terus menatap Luhan tajam kemudian menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya, alasan mereka bertiga ikut bersama Luhan ke Jepang adalah membantunya mencari tahu keberadaan Seohyun.

“Tak usah berbohong, Luhan-ah, dari sikapmu yang seperti membuatku tahu jika sebenarnya kau bertemu Seohyun.” kata Kris. Luhan hanya terdiam tanpa berusaha mengelak atau membenarkan perkataan Kris yang sebenarnya benar.

“Percuma saja aku kemari untuk mencarinya, Kris jika akhirnya dia menolakku untuk kembali mencoba masuk ke dalam kehidupannya,” gumam Luhan lirih. “Dia sudah memintaku untuk tidak menganggu kehidupannya disini. Jika saat itu aku langsung mengejarnya kemari, aku tidak perlu merasakan penyesalan seperti saat ini.”

Kris menghela nafasnya, dia tahu bagaimana sebenarnya perasaan sahabatnya saat ini. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuat kedua adik kembar Seohyun, Sulli dan Taemin agar memberitahu tempat dimana Seohyun tinggal setelah mereka berdua bersikukuh tidak akan memberitahu letak pasti Seohyun berada.

“Jangan merasa pesimis, Luhan-ah. Aku tahu kau begitu mencintai Seohyun dan kau harus yakin jika dia juga memiliki perasaan yang sama.” ucap Kris menepuk bahu Luhan, berusaha menyemangati Luhan namun Luhan menggelengkan kepalanya.

“Tidak, Kris, aku sudah kalah saat ini.”

***

“Huft…” Seohyun menghembuskan nafasnya pelan, dia menyenderkan tubuhnya di kursi kerjanya. Pikirannya menjadi tidak menentu akibat pertemuannya kembali dengan Luhan, hal ini membuatnya tidak terlalu fokus dengan pekerjaannya sebagai dokter namun untungnya ia masih dapat bersikap professional dan kredibilitasnya tergolong baik.

“Haissh… Apa yang ku pikirkan?” gumam Seohyun melepas kacamatanya dan memijat pelipisnya. “Ada apa denganmu, Seohyun-ah? Dia sudah mempunyai kehidupannya sendiri dan kau tak berhak untuk mengusiknya sedikit pun.”

Tok tok tok

Hairu! (Silahkan masuk!)” ucap Seohyun dengan bahasa Jepang yang tergolong cukup fasih. Seorang suster kemudian masuk diikuti seorang pasien dibelakangnya. Sang suster kemudian menyerahkan laporan kepada Seohyun.

Arigatou gozaimasu. (Terima kasih.)” kata Seohyun kepada suster itu, sang suster hanya menganggukan kepalanya dan meninggalkan ruangan kerja Seohyun.

Sensei, otetsudai itashimashou ​​ ka? (Ada yang bisa saya bantu, tuan?)” tanya Seohyun membaca hasil laporan kesehatan pasien itu.

“Seohyun-ah?” Seohyun yang merasa namanya dipanggil kemudian menoleh ke arah pasien itu.

“Kris?” gumam Seohyun tak percaya mendapati Kris berada di hadapannya saat ini.

“Lama tak jumpa, Seohyun-ah.” ucap Kris sambil tersenyum.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Seohyun bingung.

“Aku hanya memeriksa kondisi kesehatanku.” jawab Kris sekenanya membuat dahi Seohyun berkerut.

“Bukan,” Seohyun menggelengkan kepalanya. “Maksudku, apa yang kau lakukan di kota ini?”

“Sudah jelas, bukan? Aku berada di kota ini untuk mencarimu bersama Luhan.”

Deg

Tubuh Seohyun melemas mendengar nama Luhan. Apakah harus seperti ini, tidak bisa lepas dari bayangan Luhan walaupun dia berada di tempat yang jauh dari negara kelahirannya?

“Kris, aku tak mau membahasnya lagi saat ini. Dia sudah mempunyai kehidupannya sendiri.” kata Seohyun pelan.

“Lalu apa reaksimu jika aku mengatakan jika Luhan membatalkan pernikahannya dengan Jessica?” pertanyaan Kris membuat Seohyun tersentak, dia kemudian menatap Kris meminta penjelasan darinya.

“Apa maksudmu?”

Ne, Luhan membatalkan pernikahannya dengan Jessica sesaat sebelum mereka mengucapkan sumpah pernikahan. Kakak Kai, Heechul, sudah mengakui jika anak yang dikandung oleh Jessica adalah aegy-nya, bukan aegy milik Luhan. Apa kau akan tetap bersikukuh untuk tetap menolak kehadirannya?” ucap Kris dengan nada serius.

“Aku…” ucapan Seohyun terputus seakan dia tak yakin dengan ucapannya sendiri meski sesungguhnya ia lega karena anak yang dikandung Jessica saat itu bukanlah anak Luhan.

Kris yang melihat Seohyun yang tertunduk terdiam hanya mendesah pelan. Ia sudah tahu jika Seohyun akan bersikap seperti ini. Diam-diam, Kris melirik jari manis Seohyun yang melingkar sebuah cincin dan ia mengukir senyum tipis di wajahnya saat Seohyun masih memakai cincin pernikahannya dengan Luhan.

‘Ia juga masih mencintainya.’ batin Kris lega.

“Besok kami semua termasuk Luhan akan kembali ke Korea. Ku harap kau cepat memutuskan keputusanmu sebelum semuanya terlambat,” ucap Kris dengan cepat memasang wajah datarnya. “Dan sekarang, aku ingin tahu hasil pemeriksaanku.”

Seohyun kemudian membaca kembali hasil laporan kesehatan milik Kris, dia kemudian menulis sebuah resep untuk Kris dengan sesuatu yang mengganjal di pikirannya dan tetap ada bahkan setelah Kris pergi dari ruangannya.

“Haissh… Apa yang harus aku lakukan saat ini?” gumam Seohyun mendesah pelan.

***

Seohyun melangkahkan kakinya dengan gontai menuju apartemennya dan terkejut mendapati Luhan berada di depan pintu apartemennya.

“Luhan-ssi…” gumam Seohyun tak percaya, Luhan kemudian menoleh ke arah gadis itu. “Bagaimana bisa kau—”

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” kata Luhan menatap lekat Seohyun. “Apa masih ada tempat untukku di hatimu?”

Deg

Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab oleh Seohyun, meskipun sebenarnya sejujurnya ada satu tempat yang selalu tersedia di hatinya untuk Luhan namun lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan “iya”.

Seohyun menggelengkan kepalanya, tubuhnya tidak sejalan dengan apa yang ia inginkan saat ini. Melihat reaksi Seohyun yang seperti itu, Luhan hanya menghembuskan nafasnya pelan.

“Baiklah, aku sudah tahu apa jawabannya Seohyun-ah. Aku akan kembali ke Korea besok dan tidak akan menganggu kehidupanmu lagi. Kuharap kau bahagia dan menemukan seseorang yang lebih pantas dariku. Annyeong…” Luhan kemudian berlalu meninggalkan Seohyun yang masih terdiam di tempat itu dengan langkah yang gontai. Ia memang seharusnya tahu jika Seohyun memang tak akan pernah menerimanya bahkan menaruh perasaan yang lebih kepadanya.

Seohyun kemudian menekan password apartemennya dan langsung masuk ke dalamnya. Tubuhnya langsung merosot ke lantai dan air mata yang ia tahan sudah tak dapat dibendung lagi.

“Hiks… Eomma, eotteoke? Apa yang harus kulakukan saat ini?” isak Seohyun dalam tangisnya.

***

Seohyun menyusuri lorong Rumah Sakit dengan gontai hari ini, ia menangis semalaman membuatnya kurang beristirahat.

“Ya! Seohyun-ssi, gwaenchana?” tanya Kyungsoo khawatir melihat penampilan Seohyun yang sedikit acak-acakan, berbeda dari biasanya.

Ne.” jawab Seohyun singkat, ia berjalan gontai menuju ruangannya. Ia mendesah pelan dan menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.

“Apa yang harus ku lakukan?” gumam Seohyun pelan, ia tak tahu saat ini harus melakukan apa. Dilema diantara menahan Luhan agar tak pergi atau membiarkannya pergi dan tak menganggu kehidupannya lagi.

Tok tok tok

Hairu! (Silahkan masuk!)” ucap Seohyun begitu mendengar suara pintu ruangannya diketuk.

“Eoh? Yixing-ah? Kyungsoo-ssi? Ada apa?” tanya Seohyun bingung melihat kedua rekannya masuk ke dalam ruangannya dengan tatapan khawatir.

“Kau harus menjelaskan kepada kami,” ucap Kyungsoo membuka suara. “Ada apa denganmu? Beberapa hari ini sejak kita makan siang saat itu kau terlihat berbeda.”

“Aku tak apa-apa, na gwaenchana.” ucap Seohyun singkat.

“Kami tahu kau berbohong, Seohyun-ah.” ucap Yixing menatap tajam Seohyun, gadis itu kemudian menghela nafasnya pelan.

“Baiklah, aku mengaku. Sebenarnya aku sudah menikah jauh sebelum aku bekerja disini,” ucap Seohyun sambil menatap cincin pernikahannya. “Beberapa hari itu, lebih tepatnya saat itu aku bertemu lagi dengan nae nampyeon setelah dua tahun kami berpisah.”

“Lalu kenapa kalian berpisah?” tanya Kyungsoo.

“Ada sedikit konflik dalam kehidupan kami berdua.” jawab Seohyun singkat. Ia tak mungkin bukan menceritakan alasannya kepada kedua rekannya mengenai hal yang merupakan privasi dirinya?

“Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku, Seohyun-ah. Sebenarnya apa yang membuatmu risau selama beberapa hari ini?” tanya Yixing menatap Seohyun seakan mengerti tentang apa yang baru saja diceritakan Seohyun.

“Aku… Aku hanya ingin tidak ingin kembali terluka saat dia mencoba kembali masuk ke dalam kehidupanku.” ucap Seohyun lirih. Kyungsoo kemudian mendesah pelan.

“Apa kau masih mencintainya?” tanya Kyungsoo membuat Seohyun terdiam.

“Ku rasa aku tahu apa jawabannya, Seohyun-ah,” ucap Yixing menepuk pundak Seohyun. “Kejarlah dia sekarang juga.”

Seohyun hanya menatap Yixing yang menepuk pundaknya.

“Apa belum terlambat?” tanya Seohyun. Yixing kemudian menggelengkan kepalanya.

“Belum terlambat selama kau berniat memperbaikinya.” ucap Yixing.

“Baiklah, Yixing, xie xie,” ucap Seohyun segera mengambil ponsel dan dompet miliknya. “Ingatkan aku untuk berterima kasih kepada kalian.”

Yixing dan Kyungsoo hanya tersenyum melihat Seohyun yang berlari menghilang dari pandangan mereka. Kyungsoo kemudian menepuk pundak Yixing.

Well, aku tak menyangka jika kau bisa berkata seperti itu, Hyung.” kata Kyungsoo.

“Yah… Walaupun aku sendiri tak yakin jika itu adalah ucapanku sendiri,” ucap Yixing menenggok ke arah arloji-nya. “Kurasa kita harus ke Ruang Operasi sekarang. Sebentar lagi kita harus mengadakan operasi terhadap pasien.”

Mendengar hal itu, mata Kyungsoo membulat menyadari sesuatu.

“Tunggu…” ucap Kyungsoo terputus. “Jika hari ini kita operasi besar, berarti seharusnya Seohyun juga ikut.”

Keduanya saling berpandangan, Yixing segera menepuk keningnya meruntuki kebodohannya.

“Haissh… Ya! Seohyun-ah!”

***

Luhan seakan terpuruk duduk di salah satu kursi tunggu di Narita International Airport. Tatapan namja itu seakan kosong kehilangan nyawanya. Baik Kai, Sehun maupun Kris hanya terdiam melihat sahabatnya yang seperti itu.

”Luhan-ah, gwaenchana?” tanya Sehun khawatir namun Luhan hanya menganggukan kepalanya.

“Apa kau yakin akan ikut pulang dengan kami ke Korea?” tanya Kai.

“Aku tak punya alasan untuk tetap berada disini sementara aku sudah tak punya hak untuk masuk ke dalam kehidupannya lagi.” jawab Luhan lirih. Sungguh, baru kali ini ia bisa terpuruk seperti ini hanya karena seorang gadis yang awalnya sangat ia benci.

Luhan menghembuskan nafasnya pelan dan bangkit berdiri setelah mendengar pengumuman pesawat keberangkatan menuju Korea akan berangkat lima belas menit lagi.

“Ayo…” ucap Luhan. Ketiga sahabatnya hanya terdiam tanpa banyak berbicara lagi, Luhan kemudian menoleh ke arah pintu depan Bandara sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya pelan.

‘Selamat tinggal, Seohyun-ah. Kuharap kau berbahagia.’ batin Luhan kemudian berbalik.

Grep

Luhan tersentak saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Luhan jelas mengenali aroma parfum, dan ia tak mungkin salah walaupun aroma wangi parfum itu sudah lama tidak menggoda penciumannya.

“Jangan pergi, Luhan-ah, hiks…” terdengar suara isakan seseorang. Oh, God, apa Luhan sedang bermimpi saat ini? Atau ini hanya halusinasinya semata?

“Se… Seohyun-ah?” gumam Luhan saat berbalik dan melihat Seohyun dihadapannya dengan mata yang sembab. Kali ini, membuat Luhan berpikir jika ini bukan halusinasinya saja.

“A-aku hanya tidak mempercayai perasaanku saja, Luhan-ah. Aku terlalu menyangkal jika pada kenyataannya aku mencintaimu.” kata Seohyun terisak. Luhan kemudian menyeka air mata Seohyun.

“Bodoh,” ucap Luhan membuat Seohyun menatap namja itu. “Apa kau masih belum bisa mempercayaiku sampai aku mencarimu kemari?”

Cup

Luhan segera mengecup bibir Seohyun dengan lembut, membuat Seohyun menutup matanya saat suaminya menciumnya.

Wo ai ni, (Aku mencintaimu,)” bisik Luhan tepat di telinga Seohyun. “Wo de qizi. (Istriku)”

Ketiga sahabat Luhan hanya mendesah lega saat akhirnya sahabat mereka akhirnya kembali seperti semula.

“Wuah… Aku terharu.” ucap Kai sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca dengan mantel yang dipakai Sehun.

“Ya! Ini mantelku, Kai.” gerutu Sehun kesal.

“Haissh… Berbaik hatilah kepada sahabatmu ini, Sehun-ah.” ucap Kai namun mendapatkan jitakan dari namja berkulit seperti albino itu.

“Ya! Kau hanya menyebut kata sahabat ketika kau ada keinginan.”

“Haissh… Tapi kau tak perlu memukulku, Sehun-ah. Kau tahu ini cukup sakit.”

Bla bla bla bla

Sedangkan Kris sepertinya tidak berkeinginan sedikit pun untuk melerai pertengkaran sahabatnya itu. Ia hanya tersenyum melihat sepasang suami istri itu akhirnya bersatu.

***

Luhan terbangun dari tidurnya karena sinar matahari yang merambat masuk ke dalam apartemen milik Seohyun. Ia sedikit merenggangkan tubuhnya akibat ‘kegiatan’ yang ia lakukan bersama Seohyun semalam.

Luhan kemudian menoleh ke arah Seohyun yang masih tertidur pulas di dekapannya dan ia tersenyum mendapati gadis yang saat ini sudah berubah menjadi wanita dewasa tertidur dengan damai.

“Cantik…” gumam Luhan kemudian mencium kening istrinya.

“Eung…” erangan kecil terdengar dari mulut Seohyun, ia mengusap kedua matanya dan tersenyum mendapati Luhan berada di sisinya.

“Sudah lama bangun, Luhan-ah?” tanya Seohyun, Luhan kemudian menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku baru saja bangun.”

Seohyun menoleh ke arah jam dinding dan matanya langsung melebar mendapati waktu menunjukkan pukul tujuh.

Omo! Aku terlambat, hari ini ada operasi jam delapan.” ucap Seohyun panik, dia kemudian menoleh ke arah Luhan.

Wae?” tanya Luhan bingung.

“Berbalik!”

“Eoh?”

“Cepat berbalik!”

“Kenapa? Hey, hey, kenapa aku harus berbalik?”

“Haissh… Kau ini bodoh atau apa, Luhan-ah? Aku mau mandi dan kau harus berbalik sebelum aku mencapai Kamar Mandi.” ucap Seohyun dengan semburat merah merona di pipinya namun ide jahil terlintas di otak Luhan.

“Kenapa aku harus berbalik? Bukankah aku sudah melihat semuanya tadi malam?” ucap Luhan dengan seringai di wajah tampannya.

Pletakk

“Ya! Appo, Seohyun-ah!” Luhan meringgis karena Seohyun memukul kepalanya.

“Haissh… Kau membuang waktuku, Luhan-ah. Cepat berbalik atau aku tak akan pernah mau melakukan ini lagi.” ancam Seohyun membuat mata Luhan membulat.

“Haissh… Arra.” ucap Luhan berbalik. Seohyun kemudian menarik selimut menutupi tubuhnya dan berlari kecil menuju Kamar Mandi.

“Dasar gadis kecil.” gumam Luhan tersenyum saat bunyi kucuran shower mengalir dari Kamar Mandi. Ia kemudian memungguti pakaiannya.

Dan sepertinya sebuah babak baru akan menyapa kehidupan rumah tangga mereka yang lebih baik saat ini.

Epilogue

“Haissh… Luhan-ah, kenapa kau mengajakku kembali ke Korea dengan paksaan?” gerutu Seohyun kesal. Ia memang mengundurkan diri sebagai dokter di Rumah Sakit dan saat ini sedang hamil memasuki usia ke delapan bulan.

“Hey hey, aku tak mau jika uri aegy tak mengenal kampung halamannya sendiri.” ucap Luhan yang berada disebelahnya. Mereka dalam perjalanan menuju rumah mereka, ya, rumah mereka yang lama dimana mereka tinggal disana beberapa tahun yang lalu.

“Tapi kau bukan orang Korea, Luhan-ah.”

“Ya! Aku tahu hal itu, tapi kurasa aku lebih mencintai negara ini daripada China.”

“Haissh…”

Luhan hanya tertawa mendengar gerutuan Seohyun, sejak istrinya tersebut hamil Seohyun memang sedikit sensitif dengan perasaannya. Tiga puluh menit perjalanan dari Bandara, akhirnya mereka sampai di rumah mereka.

“Tidak berubah sama sekali.” gumam Seohyun saat turun dan melihat halaman rumah sementara Luhan menurunkan koper mereka dibantu oleh supir taksi.

“Tentu saja, Seohyun-ah,” ucap Luhan setelah memberikan lembaran puluhan ribu won kepada supir tersebut. “Aku merawatnya selama kau pergi.”

“Begitukah?”

Ne, ayo masuk.” ucap Luhan berjalan dengan mengenggam tangan Seohyun.

Cklek…

“Selamat datang kembali, Seohyun-ah!” teriak semua orang yang ada di dalam rumah begitu Seohyun dan Luhan memasuki rumah itu.

Seohyun terkejut tentu saja, melihat sahabatnya yaitu Jongdae dan Minseok juga Kai, Sehun dan Kris. Dan jangan lupakan juga kedua adik kembarnya yaitu Sulli dan Taemin yang sudah beranjak dewasa.

Aigo… Kakak, aku tak menyangka akhirnya kau kembali ke Korea.” ucap Sulli senang menghampiri Seohyun.

”Dan kau akan memberikan keponakan yang lucu kepada kami.” tambah Taemin riang sambil mengajak masuk Seohyun ke dalam rumah.

Luhan tersenyum melihatnya, dia kemudian menepuk pundak Kris.

Thanks, bro sudah membantuku menyiapkan hal ini.” ucap Luhan. Kris hanya menganggukan kepalanya.

No problem.” kata Kris singkat, dia memang yang merencanakan hal ini untuk menyambut kepulangan Seohyun kembali ke Korea.

“Hey, Seohyun-ah, ini namja atau yeoja?” tanya Minseok sambil mengusap perut Seohyun yang membuncit.

“Menurut hasil pemeriksaan sepertinya ini kembar.” jawab Seohyun singkat membuat kedua sahabatnya takjub.

“Benarkah? Wuah, kurasa aku akan menjadi ahjussi yang tampan untuknya.” ucap Jongdae bangga.

“Ya! Dengan sikapmu yang seperti bebek, sepertinya kau akan mendapat julukan paman bebek.” ucap Minseok sambil tertawa.

“Ya! Apa maksudmu, baozi?” tanya Jongdae tak terima.

Seohyun hanya tertawa melihat pertengkaran kedua sahabatnya yang sudah lama tak ia dengar.

“Eoh? Siapa namamu, gadis kecil?” ucap Seohyun bingung saat seorang yeoja kecil berusia sekitar 4 tahun menghampirinya.

Mi-mianhae Seohyun-ssi, ini anakku.” ucap seorang yeoja sambil menggendong yeoja kecil tersebut. Seohyun menatapnya ibu gadis kecil itu dan terkejut melihat sesosok yang sangat ia kenal.

“Jessica-ssi?” gumam Seohyun tak percaya. Jessica hanya menundukkan kepalanya.

Mianhae, Seohyun-ssi, aku akan segera pergi jika aku menganggu acara ini.” ucap Jessica pelan namun Seohyun menggelengkan kepalanya.

“Tidak,” ucap Seohyun sambil memegang tangan Jessica membuatnya menoleh. “Tetaplah disini sampai acara ini selesai.”

Jessica hanya terdiam melihat Seohyun mengatakan hal itu kepadanya sambil tersenyum lembut. Sungguh, ia tak menyangka jika yeoja yang dulu ia sakiti masih mau berbaik hati kepadanya. Ia merasa malu dengan apa yang dulu ia perbuat.

Luhan kemudian menepuk pundak Heechul yang merupakan kakak Kai sekaligus suami Jessica.

Gomawo Hyung, sudah membawanya kemari.” ucap Luhan. Heechul menganggukan kepalanya.

“Yah, walaupun aku harus berusaha keras untuk membawanya kemari.” kata Heechul.

“Luhan-ah…” panggil Seohyun membuat Luhan menghampiri istrinya.

Waeyo?”

“Kurasa aku akan melahirkan…” ucap Seohyun sambil menahan sakit membuat mata Luhan membulat.

Mwo?”

End

A/n : akhirnya FF ini selesai juga hahaha ^_^ dan mianhae jika endingnya ga sesuai dengan perkiraan kalian ._.

2013 © Hyeri Choi

Advertisements

13 thoughts on “Wo Ai Ni [Chapter 6 / Final]

  1. Thor-nim.. Ffnya bagus ihh..
    So sweet trus ada humornya juga..
    Endnya ituloh greget sekali..
    Nae dah baca dari part 1-end ini..
    Mian kalau part sebelumnya nda ku coment, pingin sekalian aja gituu..
    Buat sequelnya donkk.. Mian ne..

    • haha iya apalagi cerita sebelumnya kan lebih ke romance nya gitu jadinya aku sedikit jahil buat endingnya hahaha gwaenchana ^^ yang penting komen. ne, nanti bakal aku posting kok series nya disini

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s