Innocent Girl And Bad Boy [Chapter 10]

image

Title : Innocent Girl And Bad Boy

Author : Hyeri Choi

Cast : Seo Joohyun (GG Seohyun), Lu Han (EXO Luhan)

Support Cast : Find by yourself

Genre : Romance, School-Life, Alternate Universe (AU)

Rated : T

Length : 10 of ?

Poster Art : milkybaby05 @ HAG (thanks chingu^^)

Disclaimer : FF dan storyline punya saya. Para cast punya Tuhan, orang tua dan manajemen mereka.

2014 © Hyeri Choi

Prev.

“Hey Lu—”

Belum sempat Seohyun mengatakan apapun, Luhan sudah terlebih dulu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Seohyun menghela nafasnya pelan, perasaannya saat ini menjadi tidak nyaman karena Luhan menyatakan perasaannya kepada dirinya lewat sambungan telepon.

“Eotteokke? Apa aku juga menyukainya?”

☆☆☆

“Apa yang membuatmu membatalkan permainan kita, Lu?” tanya Sehun mengerutkan dahinya.

Cukup aneh memang semalam Sehun mendapatkan e-mail dari Luhan yang tiba-tiba saja membatalkan permainan mereka padahal sejak awal Luhan adalah yang paling bersemangat dalam menaklukan Seohyun.

Sehun menatap tajam Luhan yang berada di hadapannya, sang namja berdarah China itu hanya melempar kunci mobil yang tak lain milik Sehun kepada pemiliknya.

“Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu, Lu. Padahal kau sudah dekat dengan Seohyun, lalu kenapa kau tiba-tiba membatalkan perjanjian kita.” ucap Sehun menangkap kunci yang dilempar Luhan.

“Aku hanya tak ingin aku sendiri yang jatuh ke dalam pesonanya, Sehun-ah,” ucap Luhan akhirnya membuka suara sebelum menyesap capucinno hangat di hadapannya.

“Secepatnya aku ingin berhenti sebelum semuanya terlambat.” lanjut Luhan menyeka noda kopi di mulutnya dengan punggung tangannya.

“Apa kau menghentikan permainan ini karena kau mulai menyukai Seohyun?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Sehun, pertanyaan yang tepat sasaran.

Sehun benar, Luhan tidak bisa memungkiri perasaannya jika ia memang menyukai Seohyun. Mungkin memang terdengar bodoh, namun inilah kenyataannya jika pesona gadis bersurai panjang yang terlihat polos itu cukup membuat Luhan terjerat karenanya.

“Tidak,” jawab Luhan berbohong. “Aku tak mungkin menyukai gadis polos yang bahkan sama sekali tidak mengerti arti cinta sepertinya.”

“Lalu apa kau berpikir jika aku akan percaya, Lu?” tanya Sehun tersenyum miring.

“Aku sudah mengenalmu lama, Lu. Baru kali ini aku melihat kau begitu serius mengejar seorang gadis, bahkan apa kau tidak sadar jika kau sudah meninggalkan kebiasaan lamamu pergi ke Club atau menyakiti perasaan gadis di luar sana. Kau sudah banyak berubah, Lu.”

Luhan hanya terdiam mendengar perkataan Sehun, ia memang tidak bisa memungkiri jika perlahan dia mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya sebelum ia mencoba masuk ke dalam kehidupan Seohyun. Ya, sepertinya dengan kehadiran gadis itu mampu mengubah semuanya bahkan memberi warna tersendiri bagi Luhan.

Sehun menghela nafasnya dan bangkit, setengah jam lagi adalah pukul 8.00 KST yang berarti bel tanda masuk sekolah akan berbunyi. Namja berkulit putih susu itu kemudian menepuk pundak Luhan.

“Bukan tanpa alasan aku menyuruhmu mendekati Seohyun, karena aku tahu apa yang terbaik untuk sahabatku.” bisik Sehun sebelum berjalan pergi dan menutup pintu apartemen Luhan dari luar.

Tepat saat pintu ditutup dan suara langkah yang dihasilkan oleh sepatu yang dipakai Sehun terdengar semakin menjauh dan menghilang, Luhan menghela nafasnya. Pikirannya menjadi tidak menentu terlebih saat Sehun membisikkan sesuatu kepadanya. Jadi, permainan konyol ini sejak awal sudah dipersiapkan Sehun? Sangat bodoh bagi Luhan menerima permainan ini.

“Kesalahan terbesarku adalah menjadikanmu bahan taruhan konyol ini dan mengenalmu bahkan tanpa sadar aku mulai mencintaimu…” gumam Luhan mengacak rambutnya asal.

☆☆☆

Seohyun memilih untuk berada di Perpustakaan seharian ini, beberapa hari lagi festival seni akan diadakan sehingga beberapa hari ini semua jam pelajaran dikosongkan untuk persiapan dan para guru hanya bertugas sebagai pengawas saja.

Seohyun hanya menatap lembaran demi lembar kertas buku berukuran tebal yang biasa dibacanya seakan kali ini dia sama sekali tak menaruh minat dengan untuk mengeja kata demi kata. Kalau boleh jujur, sebenarnya Seohyun memikirkan ucapan Luhan semalam. Apa benar Luhan mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh atau hanya lelucon semata? Entahlah…

“Kukira kau tak akan kemari, Seohyun-ah.” kalimat yang terucap dari suara bass khas namja dan sangat familiar di indra pendengaran Seohyun membuat gadis itu menoleh, benar saja Kris menarik kursi di sebelahnya dengan menenteng beberapa buku dan kacamata minus yang bertengger di hidung namja tampan itu.

“Sunbae, lama tidak berjumpa.” ucap Seohyun mengulas sebuah senyuman tipis di wajahnya, Kris hanya menganggukan kepalanya sebagai respon dari ucapan Seohyun.

“Yeah, kau benar Seohyun-ah. Terakhir kali aku bertemu denganmu saat aku membolos pelajaran dan kau setelah dari ruangan musik dan bertemu Luhan di tempat ini, bukan?” tanya Kris mencoba mengingat-ingat.

“Ne, dan saat kau menjemput Yoong Eonni untuk mengerjakan tugas kelompok kalian.” sahut Seohyun sambil tersenyum kecil.

“Ne, kau benar Seohyun-ah.” ucap Kris tersenyum lembut sambil mengacak rambut Seohyun.

“Haissh, Sunbae jangan mengacak-acak rambutku.” gerutu Seohyun menjauhkan tangan Kris dari kepalanya dan menggembungkan pipinya yang tembam seperti bakpau.

“Dan mengenai berita kemarin…” Kris sengaja memghentikan ucapannya dan menatap sepasang iris mata obsidian milik Seohyun yang terlihat bening seperti sorot mata anak kecil. Namja berambut pirang itu kemudian menghela nafasnya pelan.

“Apa benar kau dan Luhan sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih?” tanya Kris melanjutkan ucapannya.

“Tidak, sunbae,” jawab Seohyun pelan, bahkan nyaris tidak tidak terdengar. “Kami sama sekali tidak menjalin hubungan apapun.”

“Apa kau menyukainya?” Kris menaikkan alis sebelah kirinya menatap Seohyun.

Seohyun terdiam mendengar pertanyaan Kris, pertanyaan tentang perasaannya kepada Luhan. Entahlah, bahkan ia sendiri tak tahu apa perasaannya terhadap Luhan bisa disebut rasa suka yang biasa dirasakan gadis seusia dirinya pada umumnya.

“Apa kau menyukai Luhan?” ulang Kris sekali lagi.

“A-aku… Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini sunbae terhadapnya.” ucap Seohyun dengan rona merah muda yang terlihat di pipi gembul gadis bersurai panjang itu.

Kris menghela nafasnya panjang, betapa bodoh dirinya menanyakan perasaan sang “gadis kecil” —begitulah julukan untuk Seohyun dari Kris— padahal terlihat dengan jelas jika Seohyun menyukai Luhan.

“Kau tahu, kau tidak pandai berbohong Seohyun-ah,” ucap Kris kembali mengacak rambut Seohyun. “Kau menyukainya bukan?”

“Ng… Aku tak tahu sunbae, sama sekali tak tahu,” ucap Seohyun segera merapikan buku-buku dihadapannya. “Kurasa aku harus berlatih untuk festival seni nanti. Sampai nanti sunbae.”

Seohyun membungkukkan badannya dengan hormat dan berjalan pergi keluar dari ruang Perpustakaan, meninggalkan Kris yang berada di tempat itu dan memandang pundak Seohyun sebelum pintu ruangan menghalangi pandangannya. Kris kemudian menghela nafasnya pelan dan melepaskan kacamata minus yang bertengger di hidungnya.

“Haissh… Betapa bodohnya diriku sempat menyukainya, padahal sudah jelas dia hanya menganggap aku sebagai seniornya saja,” gumam Kris melipat kedua tangannya di dada.

Namja berparas tampan itu kemudian tersenyum miris menyadari kebodohannya yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya kepada Seohyun. Sejak awal pertemuan mereka saat Seohyun melewati lapangan basket dimana Kris bersama Kai dan Sehun berlatih, namja itu memang sudah terpesona dengan gadis polos yang bahkan membawa tas bergambar kartun keroro yang saat itu tersesat mencari kelasnya. Dan ia baru berani menanyakan namanya saat mereka tidak sengaja bertemu di Perpustakaan.

Memendam perasaan selama hampir setahun bukanlah waktu yang sebentar, namun melihat reaksi Seohyun yang seperti itu terlihat jelas jika Luhan adalah orang pertama yang berhasil mencuri hati Seohyun dan mengajarkannya tentang cinta. Dengan kata lain, Luhan adalah cinta pertama Seohyun.

“Kurasa aku memang harus berhenti memendam perasaan ini dan mencoba melupakan jika aku pernah menyukai gadis polos bernama Seohyun…”

☆☆☆

Luhan menghela nafasnya pelan, seharian ini dia memilih untuk membolos dan menyendiri di rooftop gedung sekolah. Iris mata berwarna coklat hazelnut hanya memandang kosong pemandangan kota Seoul dari lantai empat tempatnya berpijak.

“Haissh… Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku menjadi melankolis seperti ini?” gumam Luhan meruntuki dirinya sendiri.

Luhan kemudian berbalik dan hendak turun menuruni anak tangga hingga sampai di lantai tiga, tempat dimana tangga bersebelahan dengan ruang musik.

“Siapa yang memainkan piano?” gumam Luhan mempertajam pendengarannya, indra dengarnya menangkap suara piano dengan suara seseorang yang sangat familiar di telinganya.

‘Ini seperti suara Seohyun… Apa dia sedang berlatih saat ini?’ batin Luhan terus bertanya-tanya membuatnya penasaran tentang siapa yang berada di ruangan berisi alat-alat musik itu.

Luhan kemudian menempelkan wajahnya di pintu ruang musik yang terbuat dari kaca transparan, benar saja ia melihat seorang gadis berambut panjang sedang berhadapan dengan piano dan menekan tuts piano. Luhan kembali mempertajam indra
pendengarannya mencoba mendengar suara Seohyun yang menyanyi dialuni suara piano.

In your smile that’s like a spring day, the whole world gets brighter

It makes me dream again

On the day where the sun sparkles, I hold your hand and walk in sync with your footsteps

When I sometimes walk ahead and suddenly look back

That face that looks at me is so eye-blinding

When I hear the sound of spring coming, I walk on the path with the bloomed flowers

When the rainy summer comes, I walk as I see the rainbow

When autumn passes and winter comes, with the warmth from our hands

We walk together, how great is your love

(Girls’ Generation – How Great Is Your Love English Version)

Mendengar suara lembut Seohyun, Luhan menyenderkan punggungnya dan bersandar di tembok ruang musik. Membiarkan indra pendengarannya menangkap suara merdu milik Seohyun. Terbersit dalam benaknya jika seandainya saja ia tidak menerima permainan konyol dari Sehun dan jauh lebih dulu mengenal gadis polos itu, mungkin saat ini ia bisa bercengkrama dengan gadis yang bahkan tidak tertutup kemungkinan jika Seohyun akan menjadi miliknya seorang.

‘Ya… Seandainya akan tetap menjadi seandainya dan sampai kapanpun itu tidak mungkin terjadi…’ batin Luhan sambil menghela nafasnya pelan.

Namja berdarah China itu melangkahkan kakinya menyusuri lorong sekolah yang cukup sepi.

☆☆☆

“Huft… Apa yang kau pikirkan, Seohyun? Sadarlah, kau harus berlatih untuk festival nanti dan jangan mengecewakan Song seongsaem.” ucap Seohyun menyemangati dirinya sendiri.

Kacau? Ya, mungkin inilah alasannya tidak bisa fokus dengan permainan pianonya. Terlibat sedikit obrolan dengan Kris membuatnya sedikit kacau, mungkinkah dia memiliki perasaan dengan namja bodoh dan konyol bernama Luhan?

“Ingat Seohyun-ah, fokus! Fokus dengan permainanmu, dia hanya mantan kekasih Yoong Eonni yang bodoh karena tega meninggalkannya dan sampai kapanpun dia bukan siapa-siapa kau.”

Seohyun menghela nafasnya pelan, mencoba menata pikirannya untuk tetap fokus dengan permainan pianonya. Jemarinya yang lentik menekan tuts piano memulai memainkan susunan melodi seperti yang tertera di kertas melodi yang dihadapannya. Namun baru sebentar Seohyun memainkan alunan musik, gadis bersurai panjang itu menghela nafasnya.

“Haissh… Seohyun, ada apa denganmu?” gumam Seohyun menepuk-nepuk pipinya sendiri.

“Kau tak mungkin jatuh cinta dengan Luhan. Ingat Seohyun, ingat tujuan awalmu untuk belajar dengan giat dan bukan saatnya memikirkan cinta,” Seohyun bermonolog ria mencoba menyemangati dirinya sendiri.

“Kurasa aku perlu membasuh wajahku dengan air.” gumam Seohyun bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dimana tersimpan berbagai alat musik itu.

☆☆☆

“Lu, kurasa kita harus bicara kali ini.” sesosok namja berambut pirang yang tak lain Kris segera menghalangi Luhan saat melihat namja bersurai coklat itu keluar dari kelasnya sambil menenteng tasnya.

“Aku tak ada urusan denganmu, Kris. Menyingkirlah, aku lelah dan ingin segera pulang.” ucap Luhan mencoba mengambil jalan lain namun Kris masih tetap menghadangnya.

“Ini masalah kau dan Seohyun, Lu.” sahut Kris dengan cepat seketika membuat Luhan menghentikan gerakannya dan menatap namja yang beberapa senti lebih tinggi darinya.

“Apa maksudmu? Aku dan Seohyun tidak memiliki hubungan apa-apa, kau bisa mendapatkannya jika kau mau karena itu sekarang biarkan aku lewat, Kris Wu.” ucap Luhan sedikit bergeser dan melangkahkan kakinya hendak beranjak dari tempatnya berpijak namun tangan Kris menahannya dan mendorongnya hingga membentur tembok.

“Ini tak semudah yang kau pikirkan, Lu,” ucap Kris mencengkram kerah seragam yang dikenakan Luhan, terlihat jelas di paras tampan Kris jika ia benar-benar serius mengucapkannya.

“Seohyun bukan barang yang bisa dipindah-pindah, dia juga bukan boneka yang kau campakkan setelah kau bosan.” lanjut Kris, ekor matanya menatap tajam Luhan.

“Lalu, apa yang kau inginkan?”

“Apa kau menyukai Seohyun? Bukan tanpa alasan kau mendekati Seohyun, aku mengenalmu sudah cukup lama Lu.”

“Baik, aku mengaku,” ucap Luhan pada akhirnya. “Aku sama sekali tak menyukai Seohyun, dia hanya salah satu bagian dari permainan konyolku dengan Sehun.”

Kris yang mendengar pengakuan Luhan mengerutkan dahinya, “Apa maksudmu?”

“Aku dan Sehun bertaruh, dia memberikan tantangan kepadaku jika aku harus bisa menaklukan Seohyun dalam waktu tiga bulan.” ucap Luhan.

“Apa maksud ucapanmu?”

Suara itu mengintrupsi Luhan dan Kris dan kedua kelopak mata mereka melebar melihat sesosok gadis yang sangat familiar tak lain Seohyun berdiri tak jauh dari tempat mereka berpijak. Gadis bersurai panjang itu melangkahkan kakinya dan menatap Luhan yang membisu, sorot mata Seohyun seolah meminta penjelasan.

“Kau bilang, kau mendekatiku karena permainan konyolmu dengan Sehun.” ucap Seohyun dengan nada bicara yang dingin.

“Seohyun-ah, aku bisa menjelaskan semua ini…”

“Kau bilang aku hanya bahan permainanmu,”

‘Plak!’

Sakit? Ya, inilah yang dirasakan Luhan saat ini karena pipinya yang sedikit perih karena baru saja Seohyun menampar pipinya cukup keras dengan tangan kirinya.

“Dan kau dengan mudahnya mengucapkan semua ini hanya permainan konyolmu dengan Sehun?” lanjut Seohyun, terlihat jelas jika kristal bening menggenang di sekitar pelupuk mata gadis itu.

Luhan menatap wajah Seohyun dengan tatapan nanar, ingin rasanya ia mengulurkan tangannya dan menghapus kristal bening di pelupuk mata Seohyun. Namun entah mengapa, tangannya enggan bergerak untuk melakukannya.

“Jika kau bilang kalau ini semua adalah permainan konyolmu, kau salah besar Lu. Karena aku juga menyukaimu, dan sekarang kau mengecewakanku.” ucap Seohyun berbalik dan berlari pergi dari tempat itu.

Luhan segera melangkahkan kakinya hendak mengejar Seohyun yang semakin menghilang dari pandangan, namun tangan Kris mencengkram pundak Luhan dan memaksanya untuk mengurungkan niatnya.

“Aku tahu kau juga menyukainya Lu, bahkan kurasa kau mencintainya.” ucap Kris menepuk pundak Luhan dan berlalu pergi dari tempat itu.

“Sial…” gumam Luhan mengacak rambutnya, kesal? Mungkin itulah yang ada dalam benak Luhan saat ini, bahkan dirinya sendiri tak menyangka jika Seohyun juga menyukainya.

“Apa yang harus aku lakukan agar Seohyun mendengarkan penjelasanku?”

Tbc…

A/n : annyeong!!! Mian kelamaan update (_ _) sibuk sana sini u,u semoga para readers tetap setia yang nungguin FF ini dan part depan adalah part terakhir FF ini hohoho RCL seikhlasnya ya ^^

Advertisements

21 thoughts on “Innocent Girl And Bad Boy [Chapter 10]

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s