My Princess [Chapter 1]

 

 remake cover my prince chapter 1

My Prince

(Chapter 1)

Author

Fadila Setsuji Hirazawa

Genre

Romance,Friendship,Sad,School life,Family

Cast

Seohyun,Luhan,Kyungsoo,Taeyeon,Tiffany,Kris,Kyungmi

Disclaimare

Cast hanyalah milik Tuhan YME,Agensi serta orangtua mereka masing masing. Aku hanya sebagai pemilik jalan cerita juga istri sahnya pangeran(ditimbukpakesepatubermerk)

Recommend Song

Perhaps Love-OST GOONG

=Happy Reading=

~My Prince~

“PANGERAN!!!”

Taman kerajaan yang cukup sunyi itu mendadak gaduh manakala suara suara para pelayan istana terdengar. Mereka sibuk mencari keberadaan sang pangeran kecil yang menghilang secara tiba tiba.

Suara langkah kaki kemudian terdengar. Langkah yang terburu buru,yang menjadikan pemiliknya itu dengan cepat mencapai tujuannya.

Seorang dengan baju pelayan

“Kalian sudah menemukan pange-”Suara itu secara tiba tiba bagai terjeda. Tak terdengar,manakala seseorang dengan balutan pakaian yang terlihat lebih mewah datang menghampiri mereka.

“Kalian sudah menemukannya?”Seseorang yang ternyata adalah kepala pelayan kerajaan kini datang dan menanyai para bawahannya. Lantas mereka membungkuk dan kemudian diwajah mereka nampak kerutan. Mereka menunduk tanpa berani menatap atasan mereka tersebut

“A-aniyo… Kami belum menemukannya” ujar salah seorang pelayan dengan gugup. Jawaban itu lantas membuat sang kepala pelayan mendesah pasrah.

“Cari lagi ditempat lain. Pasti pangeran Luhan tidak bermain jauh dari sini” Titah sang kepala pelayan. Mereka tentu saja dengan segera harus menjalankan perintah sang atasan.

“Baik”

Beberapa pelayan itu segera mencari kembali. Berusaha tak melewatkan satupun tempat dikerajaan tersebut. Sedetail mungkin,menyusur disegala tempat,bahkan yang tampaknya mustahil untuk pangeran dengan tinggi tak sampai semeter itu datangi. Tong sampah? Hahaha,mustahil memikirkan tempat itu dibenak! Namun beberapa dari orang orang berseragam itu tetap saja mencarinya kesana.

Tak melewatkan setitikpun tempat bervolume demi untuk menemukannya.

Dan tak jauh dari tempat para pelayan itu mencari,seseorang tengah terkekeh geli menyaksikan upaya pencarian itu. Seseorang yang tak lain adalah objek hidup,sang pangeran kecil tersenyum penuh kemenangan. Rencananya kali ini berhasil. Menciptakan kepanikan hampir seluruh penghuni dalam kerajaan. Panik,kesana dan kemari tak jelas hanya untuk menemukannya.

Kekehan itu hanya berlangsung sementara ketika seorang wanita dewasa datang menghampiri para pelayan berwajah panik tersebut. Wanita berpenampilan bangsawan kerajaan itu tak datang sendiri rupanya. Tangannya menggandeng seorang anak yang seusianya. Seorang bocah bergaris wajah tegas,dingin dan terlihat angkuh. Wajah yang dibenci sang pangeran kecil. Wajah yang membangkitkan amarah sang pangeran kecil,amarah yang kemudianmengumpul dalam tangannya yang terkepal dengan kuatnya.

Wanita itu sejenak melepas genggaman tangannya,membiarkan sejenak bocah disampingnya itu renggang. Lantas dengan tatapan angkuhnya dia menatap pelayan kerajaan yang berada dihadapannya,yang tengah membungkuk hormat padanya.”Kalian sudah menemukan bocah menyusahkan itu?”Tanya wanita itu dengan nada bicara yang dingin. Keangkuhan yang menguar,begitu kentara.

Lantas pertanyaan tersbut menjadikan mereka—yang ditanyai—seketika berubah wajahnya,menjadi panik. Mencoba untuk memberikan jawaban yang sebisanya takkan memicu amarah wanita yang merupakan salah satu orang dengan derajat cukup disegani di lingkungan kerajaan “A-aniyo mama…” Jawab salah seorang pelayan seraya menunduk. Rasa takut melanda mereka. Terlebih dengan tatapan wanita paruh baya yang memancarkan keangkuhan seperti itu… Percayalah,jika kau adalah bagian dari manusia berseragam dengan tugas mengabdi untuk menjalankan perintah seperti mereka akan terasa hal ini seperti sesuatu hal yang menakutkan bagimu.

Bocah itu menangkap sesuatu situasi yang diamatinya saat ini. Kesimpulan yang dia pikirkan dengan penalaran seorang yang bahkan belum mencapai usia sepuluh tahun. Bocah yang dianugerahi ‘kelebihan’ dengan intelektualnya

“Cih,dasar merepotkan” cibir bocah itu. Nada bicara yang sarat rasa keangkuhan tersebut menjadikan amarah sang pangeran yang sedang dalam persembunyiannya itu semakin menguar. Amarah yang saat ini tertahan dijiwa bocahnya. Ingin rasanya dia memukuli bocah itu.. Namun keinginan itu memang harus dia tahan,setidaknya sampai suatu ketika Sang Kuasa yang tak pernah menampakkan dirinya secara langsung memberinya kesempatan untuk melampiaskan rasa tak mengenakkan tersebut.

“Cepat temukan anak merepotkan itu. Dan segera suruh dia ke istana utama”

Wanita itu lantas mengeluarkan titahnya,sebelum akhirnya bersama sang bocah kecil berbalik dan segera pergi dari sana. Wajah wajah yang menggambarkan keangkuhan mereka itu masih teramat membekas dibenak Luhan. Tak sedetilpun terlewat dari ingatannya. Dan kekesalan yang tak semakin banyak, tak terhingga dalam dirinya masih saja membuatnya menggeram tertahan,di tempat persembunyiannya

“Baik,nyonya”

Para pelayan itu kemudian menjalankan titah tersebut…

Eomma…”Suara Luhan amat lirih,terdengar seperti akan menangis. Pangeran kecil yang merindukan sang mendiang ibu. Menangisi ibunya ditengah kesendiriannya.

Ketika bocah itu menangis… Seseorang dengan tiba tiba menampakkan dirinya. Membuat pangeran yang notabene bocah itu terkejut bukan main

“WAAAKKHH!!!”

Suara pangeran kecil,si bocah dan si pelaku kekacauan para penghuni istana itu terdengar. Menciptakan angin segar,menyejukkan hati dan pikiran yang berkelabat dan kacau semua orang yang telah beberapa jam mencari cari dirinya.

“Pangeran?”

 

.

.

.

 

“Kau kemana saja pangeran?”

Ibu suri,’penduduk’ kerajaan yang berusia hampir enam puluh tahun itu kini tengah menatap pangeran kecilnya itu dengan cemas. Tak henti hentinya wanita tua itu mendekap tubuh kecil Luhan. Terlalu mendramatisir,pikir Luhan.

Begitupun dengan namja kecil berwajah dingin tadi juga wanita yang juga berwajah dingin tersebut,sama sama berpikir tingkah wanita tua itu bak seorang pelakon drama. Berlebihan!

“Haramoni,nan gwenchananyo”ujar Luhan

“Ne,ne…”Ujar sang wanita tua itu “cucuku memang baik baik saja”

“Haramoni… Nan jeongmal gwenchana”Luhan berusaha sekeras mungkin menyakinkan neneknya tersebut agar kiranya tidak bersikap berlebihan. Namun sayang,sang nenek justru mempererat dekapannya hingga Luhan,pangeran kecil kerajaan tersebut semakin kehilangan pasokan udara. Sesak

Ha-haramoni…” Luhan dengan susah payah. Jelas sekali bocah berjenis kelamin lelaki itu tengah tercekat.

Wajah polos yang—secara tidak langsung—tengah memohon pertolongan itu kemudian menggerakkan wanita paruh baya disana untuk menghentikan apa yang tengah diperbuat haramoni kepada cucunya “Bingu mama…”

“mama…” Menyusul,suara suara raga bernyawa lain ikut menghentikan wanita dengan kedudukan tertinggi di dalam susunan kekuarga kerajaan itu.

Suara yang terdengar hampir serentak itu lantas membuat wanita tua itu tersadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari Luhan.

“Mianhae,Luhan-a~~ Aku terlalu bersemangat terhadap cucuku sepertinya”

“Aniyo,haramoni”

Luhan tersenyum,memandang wajah neneknya itu. Dan sebuah senyum hangat terukir diwajah yang berhiaskan keriput itu. Lantas sang nenek menyentil pelan hidung sang pangeran kecil,dan kemudian mereka tertawa bersama.

Pemandangan yang indah bagi para pelayan yang tengah berada disana. Namun sepertinya tidak bagi wanita berwajah dingin juga bocah yang tangannya tengah dia genggam itu.

“Cih”

Decihan pelan terdengar dari bibir bocah itu. Kebencian yang dipendamnya semakin mencuat. Bocah itu akan semakin membenci Luhan. Terlebih dengan kebahagiaan yang disaksikannya itu. Memuakkan!

.

.

.

“Kenapa haramoni menyuruhku bermain disini?”

Bocah itu tengah menanyai dirinya. Apa yang membuat sang nenek ‘mengusirnya’ dari istana bagian dalam. Melewatkan waktunya dengan terus menanyakan pertanyaan yang sama,meski pada akhirnya juga pertanyaan itu tak terjawab.

Luhan menyudahi pikirannya yang penuh tanya itu dan memutuskan untuk memanjati pohon sakura dihadapannya. Dia-Luhan-saat ini tengah berada di area sekitar kolam kerajaan,yang mana diarea itu ditumbuhi beberapa pohon sakura. Kebetulan saat itu sedang musim semi,dan nalurinya terpanggil untuk menelusur lebih jauh keatas pohon dari jutaan bunga pink nan indah itu.

Kaki kaki mungilnya terus memanjat pohon itu hingga tak lama dia telah berada didahan yang cukup tinggi. Dia menyudahi penyusurannya dan memilih untuk duduk didahan itu

“Woah… Daebak!”Bocah itu berdecak kagum manakala dilihatnya pemandangan yang tersuguh dari sana benar benar mengagumkan. Suasana disekitar yang tertangkap penglihatannya bagai lukisan. Karya sang Agung

Suara suara kemudian terdengar…

“Seo… Kau babo”

“Yak,oppa!!!”

Baru saja hendak memejamkan matanya,Luhan tiba tiba mendengar suara gaduh yang ternyata berasal dari tempat yang tak jauh dari sana—dari jangkauan penglihatannya. Terlihat bocah perempuan dengan surai legamnya,sibuk memekik mekik seraya mengejar dua sosok yang sepertinya sedang mengejekinya. Tak lupa bocah perempuan itu mengangkat hanbok yang dia kenakan hingga setinggi lututnya sambil mengejar mereka dengan ranting kayu pohon sakura.

“Seo…Kejar kami”

“YAK!”

Luhan mendengar mereka,kemudian menggelengkan kepalanya

“Mereka berisik sekali”cibir Luhan

Kejar kejaran yang mereka lakukan terus berlanjut hingga…

“Gawat! Itu si kakek menyebalkan”

sesosok pria tua dengan hanbok menghampiri mereka,lalu mendaratkan pukulannya tepat dikepala mereka yang tak sempat melarikan diri. Membuat mereka mengerang. Efek dari pukulan itu.

Luhan tak menyadari jika matanya begitu terfokus pada mereka. Terutama… Kepada bocah perempuan yang kelihatannya bebal itu.

“ARRASEYO,HARABOJI!!!”

Sekali lagi,suara bocah perempuan itu memperdengarkan teriakannya. Membuatnya harus kembali merasakan pukulan yang mendarat tepat di kepala bermahkotakan surai legam tersebut

.

.

.

-My Prince-

“Xi Luhan?”

Pemilik nama yang baru saja disebutkan namanya itu tak terdengar sahutannya. Mengalihkan sejenak pandangan Chanyeol songsaengmin,sang guru pengajar merangkap wali kelas di kelas tersebut. Kelas XII,program ilmu sosial.

Bukan hanya mereka,tetapi juga beberapa pasang mata terkhusus para hawa yang terlampau sering menjadikan Luhan sebagai objek perhatian yang menyenangkan hati mereka itupun tengah mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling kelas. Mencari keberadaan ‘oasis’ ditengah kekeringan,ditengah rasa haus mata mereka itu.

“Tidak masuk lagi yah?”Ujar Chanyeol songsaengnim itu dengan nada terdengar pasrah.Digeleng gelengkannya kepala bermahkotakan surai pendek berwarna legam itu. Mencoba dengan sebisanya menahan dirinya,lebih menkondisikan dirinya dalam kesabaran untuk menghadapi salah satu dari murid didiknya itu.

“Ne,saem~~”

Chanyeol songsaengmin kemudian beralih pada nama nama selanjutnya yang tersusun rapi dibawah nama siswa dengan keberadaan yang tak teridentifikasi itu. Entah kemana bocah pembuat ulah itu…

Terus para siswa yang tengah diabsen itu mengacung tangan sambil mengatakan dengan cukup jelas bahwa dirinya berada di kelas.

Sampai pada sebuah nama… Chanyeol songsaengnim mengerutkan keningnya. Keraguan menghias di wajah tampannya itu

“Lalu… Seo Joo Hyun?”Tanya Chanyeol songsaengnim kemudian. Kembali perhatiannya teralihkan pada objek hidup penghuni kelas tersebut.

“Sama pak,keberadaanya juga tidak-jelas”

Chanyeol songsaengnim menggelengkan kepalanya. Dan kali ini ditambah dengan gerakan tangannya yang sibuk memijat mijat pelipisnya

Dua nama… Yang selalu memusingkan baginya, sang wali kelas…

.

.

.

 

“Hfftt~~”

Namja bersurai hitam itu tengah membaringkan tubuhnya pada permukaan kursi kayu yang terdapat di atap. Ditatapnya kanvas biru pelindung bumi itu sambil menengadahkan tangan,seolah olah dirinya-tangannya itu- dapat meraih benda putih selembut kapas yang berarakan diatas sana. Sesekali bisa terdengar namja itu seperti menghembus nafas dengan kasar-tepatnya mendengus- dan sesekali pula netranya memejam,entah karena pendaran cahaya sang ‘bintang raksasa’ di atas sana atau karena sedang berusaha menghilangkan beban yang memberatkan dirinya sekarang ini? En-tah-lah

Kau sekarang adalah calon pewaris kerajaan. Jadi bersikaplah layaknya seorang penerus

Sebaris kata kata yang baru saja didengarnya tadi pagi itu kembali terbesit dalam ingatannya.

Benarkah ini?

Haruskah aku senang?

Yang sebenarnya aku harus bagaimana?

Itu yang terus saja dipertanyakan Luhan dalam hatinya. Namja itu sepertinya dibebani.

“Hfft~~”

sekali lagi terdengar desahan nafas yang begitu berat dihembuskan oleh namja itu. Mungkin ‘beban’ itu terlalu berat baginya hingga membuatnya sering mendengus.

Masa masa indahnya sebagai remaja menghilang. Terenggut karena urusan kerajaan yang bahkan dirinya sendiri tak ingin dan tidak berusaha untuk memahaminya. Banyak tekanan berdatangan dari sana sini. Banyak keluhan yang akan sering terdengar jika dalam suatu waktu namja itu berbuat kesalahan. Walaupun tak jarang akan mendengar pujian manakala namja itu menurut dengan segala aturan kerajaan yang eum… Terlalu banyak macamnya itu!

“Kau tak pantas mewarisi kerajaan”

Suara dingin dan terdengar menyindir itu membuat Luhan melompat berdiri dari posisinya. Sosok yang dia benci kini berada dihadapannya,tengah menyandar dipermukaan dinding sambil tersenyum sarkastis

“Ya! Bagaimana bisa seorang pangeran sepertimu berperilaku buruk begini? Kau ingin semua memperhatikanmu? Kau ingin semua menatapmu sebagai seorang Xi Luhan, bukan sebagai pewaris kerajaan?”

Luhan tak berniat mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut lelaki itu. Namun rasa kesal yang mulai menggangguinya memaksanya untuk berbalik. Menghilangkan sikap ketidakpeduliannya dan mendengarkan ocehan menyebalkan tersebut.

“Yak,apa maumu?!”Tanya Luhan dingin. Ditatapnya sosok yang semakin mendekat dengan senyum sarkastis diwajah.

“Memastikanmu… Agar tidak mewarisi tahta kerajaan”

Ck,memangnya kau siapa?”

“Kau lupa? Aku pun seorang pangeran,sama sepertimu!”

“Kau…”

“Apa alasanmu….Karena wanita perusak itu?”

Wanita yang dikatakan perusak itu…

“Kau…Jangan memanggil ibuku dengan julukan yang bahkan tak pantas seperti itu. Dan akan kupastikan kau menyesalinya”

Ibu yang telah melahirkan sang pangeran kerajaan yang telah beranjak remaja itu. Ibu yang dia banggakan,ibu yang dia cintai… Namun juga ibu yang tidak sanggup dia hadapi dari segala ‘serangan’ yang dilayangkan. Cemoohan,gurauan menyakitkan hati dan begitu banyak rumor tak sedap menghampiri mereka. Kenyataan yang baru diketahuinya setelah…

“YAK,XI LUHAN!!!”Sebuah suara melengking terdengar dari bibir atap. Membuat kedua namja berseragam itu melepas genggaman pada kerah dan beralih perhatian pada sosok yang kemudian muncul dihadapan mereka

“AYO KITA BERTARUNG!!!”

Suara itu menggema,sosok itupun datang… Tepat ketika dua lelaki tersebut akan terlibat adu pukulan

Untuk sekali,keadaan yang berakibat buruk itu terhindarkan. Cukup melegakan…

-TBC-

Hai Hai 🙂

ada yang tahu ini? Apa ada yang nunggu ff ini?#sunyise-provinsi-___-

Mian baru sekarang dipost chapter 1,ini gegara ide stuck dan aku yang sekarang udah kelas 3-___- Aku sempat bingung mau ngelanjutinnya gimana,jadi mungkin chapter 1 ini masih terkesan ‘maksa’

Aku harap chapter 1 ini gak bakal ada siders,karena bisa dipastikan akan berpengaruh terhadap chapter chapter selanjutnya. Atau mungkin… Bakal jadi kemungkinan buruk…

Oke,aku gak tau mau nulis apa lagi. Aku cuma berharap partisipasi kalian untuk ff ini. Pai pai 😀

Advertisements

16 thoughts on “My Princess [Chapter 1]

    • Ne, annyeong Nia-sshi 🙂

      Terima kasih ^^ Belum, soalnya masih menunggu pangeran Han dan Seohyun datang mendesak eon untuk segera merampungkan FF ini,hehe =D

  1. OMONA.. thor udah lama nih.. knpa nggak cpet dipost chap selnjutnya em… chap2,3,4…. njangg thor.. aku kepo…n suka suka suka

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s