Overdose! (“Innocent Girl And Bad Boy” Special Part)

image

Overdose!

Written by Hyeri Choi

Starring

Seo Joo-Hyun (Girls’ Generation Seohyun) || Lu Han (EXO Luhan)

Romance, School-Life, Fluff, Alternate Universe (AU)

Ficlet, Sequel

Rated for Teens

Poster Art by PRINSEKAI94 @ HSG

FF and storyline is mine. Cast is belong to God, their parents and their management. Don’t copy-paste or reblogging this Fan Fiction without permission.

2014 © Hyeri Choi

Luhan menghela nafasnya kasar ketika ia tiba di depan sekolah Seohyun -mungkin bisa dibilang sekolahnya juga- karena kekasihnya yang sudah menemaninya selama setahun belakangan ini sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda jika ia akan keluar.

“Apa aku terlalu cepat datang?” gumam Luhan mengetuk-ketukan jarinya di stir mobil sambil melirik ke jam digital yang berada di dasbor, pukul 4.50 P.M yang berarti sepuluh menit lagi Seohyun akan keluar.

Yah, mungkin bisa dibilang inilah resiko yang harus diambil Luhan ketika ia menjalin hubungan dengan Seohyun yang notabene-nya hoobae-nya sendiri. Saat ini saja Seohyun baru kelas sebelas dan Luhan baru memasuki jenjang perkuliahan semester satu. Bukankah ini rasanya terlalu berat? Bukan, yang dimaksud disini bukan masalah miss communication tapi kecemburuan Luhan terhadap teman-teman namja Seohyun yang mencoba mendekatinya.

***

“Fiuh…” Seohyun menghela nafasnya lega ketika kelas pelajaran sejarah akhirnya selesai juga. Bisa dibilang rasanya, otaknya akan meledak jika bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah Korea yang tak dikenalnya.

“Seohyun-ah!” seorang namja berjalan menghampiri dan menepuk pundak Seohyun dengan riang, memaksa gadis itu untuk menoleh.

“Eoh? Waeyo Chanyeol-ssi?” tanya Seohyun mengerutkan dahinya bingung menatap teman sekelasnya Chanyeol.

Chanyeol? Entahlah, Seohyun sendiri juga bingung kenapa namja ketua klub basket yang menggantikan Kris saat ini selalu mencoba mendekatinya seperti sekadar mengajaknya ke Kantin untuk makan siang atau mengajarinya bermain gitar padahal Seohyun sama sekali tak memintanya.

“Kau ada waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu menonton film. Bukankah kudengar kau menyukai film klasik?” tawar Chanyeol dengan wajah yang berseri-seri sembari tersenyum menampakkan deretan gigi yang putih dan tersusun rapi.

Seohyun tampak berpikir sejenak, tawaran Chanyeol memang sangat menarik namun ia teringat akan janji Luhan untuk menjemputnya hari ini. ‘Ah, kurasa namja itu pasti sudah menunggu di depan gerbang sekolah saat ini, bisa kutebak jika ia juga sedang bersungut-sungut menungguku…’ batin Seohyun berbicara seperti itu maka gadis itu lalu menggelengkan kepalanya.

“Mianhae Chanyeol-ssi, tapi hari ini aku ada janji dengan Luhan sunbae.” ucap Seohyun menolak halus tawaran itu.

Wajah Chanyeol seketika berubah kecewa, “Ah benarkah begitu? Ku kira hari ini kau ada tak ada acara, padahal aku sudah menyiapkan tiketnya untuk kita berdua.” ucapnya dengan nada sedih.

Seohyun lalu tersenyum sembari menepuk pundak Chanyeol.

“Hey, bagaimana kalau kau mengajak Ahreum? Kurasa kalian berdua bisa cocok satu sama lain.” ucap Seohyun menunjuk seorang gadis berkulit putih bersih dan berpotongan rambut sebahu yang sedang merapikan buku-bukunya.

“Ah… Kau benar, Seohyun-ah,” ucap Chanyeol berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kembali ceria. “Kurasa aku bisa mengajaknya.”

Seohyun tersenyum kecil melihat Chanyeol menghampiri Ahreum dan terlibat obrolan dengan gadis itu, Seohyun tahu jika Chanyeol sudah cukup lama menyukai Ahreum hanya saja ia tak berani menyatakan perasaannya.

Seohyun lalu membawa buku-buku tebalnya keluar dari ruang kelas dan berjalan menuju lokernya sambil sesekali menyapa semua orang yang kebetulan berpapasan dengannya.

“Apa ini?” gumam Seohyun ketika membuka lokernya dan menemukan sepucuk surat dibungkus amplop berwarna putih polos.

“Lagi-lagi surat beramplop putih, aku bingung ini sudah ke sepuluh kalinya aku mendapatkan seperti ini tanpa nama pengirim.” gumam Seohyun membolak-balikan amplop itu. Polos tanpa menuliskan pengirimnya.

Seohyun lalu membuka amplop itu dan menemukan selembar kertas yang ditulis tangan, bisa dibilang sepertinya ini curahan hati seseorang.

Melihatmu tertawa bahagia membuatku ingin terus menatapmu


Melihatmu menangis membuatku ingin menyeka butiran air matamu yang menetes


Mungkin kau sangat sulit ku jangkau,


Tapi aku sangat ingin sampai kapanpun bersamamu jika ku mampu…


Terlalu bodoh bagiku memendam perasaan ini


Kau bagaikan candu bagiku


Sedetik pun aku tak bisa melepaskan pandanganku kepadamu


Karena aku mengalami overdosis, ovedosis dengan semua yang berhubungan denganmu.


S.J.H, I’m overdosed with you…

See? Bukankah ini seperti curahan hati seseorang tentang perasaannya? Seohyun bahkan hampir dua minggu belakangan ini selalu mendapatkan amplop yang sama, dengan syair yang berbeda tentunya.

“Seohyun-ah…” panggil seseorang membuat Seohyun tersadar dalam lamunannya, ternyata Sehun yang menghampirinya. “Hey, tak biasanya kau terdiam seperti itu?” tanyanya bingung sambil melirik sekilas ke kertas yang dipegang Seohyun.

“Hey, apa itu?” tanya Sehun merebut kertas itu dari tangan Seohyun.

“Hey, kembalikan Sehun-ssi. Itu bukan apa-apa.” pekik Seohyun panik sambil berusaha mengapai kertas itu, bisa gawat jika Luhan mengetahuinya! Pikirnya seperti itu.

“Woohoo~ Apakah ini surat cinta untukmu Seohyun-ah? Aku baru tahu jika mempunyai secret admirer selain Luhan.” kata Sehun dengan nada menggoda Seohyun.

Seohyun hanya memutar bola matanya malas sembari merebut selembar kertas di tangan Sehun kembali, “Sudahlah, kau berhenti menggodaku. Mungkin ini hanya salah kirim atau semacamnya.” elaknya mengendikkan bahu.

“Hey, akuilah jika kau mempunyai stalker atau mungkin lebih tepatnya secret admirer saat ini.” goda Sehun bersender di locker dengan senyuman jahil yang terhias di wajah tampannya.

“Sudahlah, aku tak mau membahasnya sekarang Sehun-ssi, atau aku bersumpah akan membocorkan rahasiamu kepada Tiffany.” ucap Seohyun menutup loker miliknya dan berjalan meninggalkan Sehun yang masih melonggo tak percaya dengan ucapan gadis itu.

Bukan rahasia bagi Seohyun jika Sehun menyukai Tiffany, gadis keturunan Korea-Amerika yang mempunyai eye-smile yang cantik dan merupakan temannya dalam klub musik. Jadi tak salah jika Sehun selalu mendekati kekasih sahabatnya belakangan ini, tak lain adalah maksud terselubung mencari tahu tentang Tiffany.

Dan bingo! Ketika Seohyun tiba di depan gerbang sekolah, mobil sport yang biasa dipakai Luhan terparkir di dekat pintu. Seohyun lalu menghela nafasnya pelan dan berjalan menuju mobil itu.

“Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Seohyun ketika masuk kedalam mobil melalui pintu penumpang bagian depan.

“Anggap saja begitu, Seohyun-ah,” sahut Luhan menghela nafasnya pelan. “Aku bahkan hampir mati karena bosan menunggumu tak kunjung muncul.”

“Mianhae, tadi aku hanya sedikit terlibat obrolan dengan Chanyeol dan Sehun.” ucap Seohyun sambil memasang seat belt.

Luhan hanya melirik sekilas, “Chanyeol?” gumamnya menyebutkan salah satu teman sekelas Seohyun.

“Ne,” Seohyun menganggukan kepalanya. “Kau mengenal Chanyeol, bukan? Salah satu pemain kebanggaan Kris Sunbaenim di musim panas tahun kemarin.”

“Yeah, memang aku mengenalnya tapi apa yang membuat kalian menjadi dekat? Seingatku kalian tak pernah dekat sebelumnya.” ucap Luhan tak menoleh sedikitpun kepada Seohyun, ia hanya fokus pandangan lurus kedepan sembari menyetir.

Sungguh, Seohyun benci jika harus mengatakan ini. Seohyun benci ketika ia berada di posisi ini, Luhan sudah pasti cemburu dengannya melihat nada bicara Luhan yang berbeda dari biasanya.

“Ck, Lu… Aku dan Chanyeol hanya berteman, apa itu salah? Maksudku, kami hanya sekedar berteman, tidak ada yang lain.”

“Bukan salah, tapi aku hanya tidak percaya saja Chanyeol dekat denganmu belakangan ini…”

Seohyun memutar bola matanya malas, entah kenapa Luhan menjadi kekanakan belakangan ini. Dia jadi lebih mudah cemburu dan terlihat menyebalkan, hey Luhan tak sadarkah kau jika kau terlihat lebih kekanakan dibanding Seohyun yang berjarak dua tahun lebih muda darinya?

“Sudahlah, aku tidak mau membahasnya.” ucap Seohyun menghela nafasnya berat, percuma saja menanggapi kecemburuan namjachingu-nya. Hanya menghabiskan waktu. Seohyun lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil, menatap pemandangan yang silih berganti seiring mobil yang membelah jalanan kota Seoul.

“Oh ya, aku sudah meminta ijin kepada Siwon Ahjussi kalau hari ini kau akan menginap di apartemenku. Hari ini Noona-ku akan datang bersama suaminya, jadi ia memintaku untuk mengajakmu menemuinya.” ucap Luhan.

Seohyun segera menoleh dan menatap Luhan dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.

“Ne?” Seohyun cukup terkejut. “Kau gila? Haissh, aku tak siap bertemu dengan Noona-mu.” ucapnya merenggek seperti anak kecil.

“Sudahlah, ikuti saja atau aku berani sangsi jika setelah ini aku akan menikahimu tanpa memikirkan apapun lagi.” ancam Luhan.

Seohyun mendesah kesal, ancaman Luhan jika namja itu akan menikahinya selalu berhasil. Siapa yang mau menghabiskan waktu di rumah dan mengurusi keluarga, dirinya masih terlalu dini untuk itu. Baginya, masih banyak mimpi yang harus dicapai.

Dan sekali lagi, Luhan selalu menang untuk hal ini…

***

Seohyun memilih untuk mengerjakan tugasnya setelah bertemu dengan Victoria, kakak perempuan Luhan yang baru datang bersama suaminya Zhoumi. Seohyun sempat terlibat obrolan dengan mereka, dan sepertinya mereka berdua cukup senang dengan kehadiran Seohyun di sisi Luhan.

“Hey, Seohyun-ah, mulai saat ini panggil aku Jiejie. Kau tahu, aku merasa seperti mempunyai adik perempuan disamping adikku yang bodoh itu.”, begitulah yang dikatakan Victoria ketika mereka pamit pulang sembari tertawa tanpa memperdulikan tatapan mematikan yang dilontarkan oleh Luhan.

Luhan yang baru selesai mandi sambil menyeka rambutnya yang basah hanya mendengus kesal ketika ia keluar dari Kamar Mandi dan menemukan kekasihnya sedang berkutat dengan buku-buku pelajaran di Ruang Tamu.

“Hey, bisakah kau tak mengerjakan tugas-tugas ini dulu? Ayolah, besok hari Minggu dan kau bisa mengerjakannya lagi besok.” ucap Luhan menghampiri Seohyun dan duduk di samping gadis itu.

“Haissh… Lu, sudahlah tak usah mengangguku. Aku ingin cepat menyelesaikan tugas sekolahku terlebih dulu.” sahut Seohyun tanpa memperdulikan Luhan, tangannya terus menuliskan pekerjaan rumahnya dengan cepat dan rapi.

Luhan mendengus kesal mendengar ucapan Seohyun, gadis di sampingnya sama sekali tak berubah. Semuanya masih tetap sama. Tetap serius dan polos, mungkin yang membedakan hanya kacamata minus yang sekarang menghiasi wajahnya.

“Oh ayolah Seohyun-ah, kau sudah terlalu banyak belajar,” kata Luhan melepaskan kacamata minus Seohyun dan memegang wajah Seohyun, memaksa gadis itu menatapnya. “Kau bahkan tak sadar jika kita sama sekali tak mempunyai waktu untuk berdua akhir-akhir ini.”.

Ucapan Luhan membuat Seohyun terdiam. Luhan benar, akhir-akhir ini mereka sama sekali tak mempunyai waktu untuk berdua. Mungkin lebih tepatnya kesibukan yang menyita waktu mereka. Seohyun yang sibuk dengan tugas sekolahnya dan Luhan yang sibuk dengan tugas kuliahnya yang terus mendera.

“Kau benar, Lu,” ucap Seohyun memegang pipi namja yang sangat dicintainya. “Aku sama sekali tak sadar jika aku dan kau tidak memiliki waktu untuk bersama akhir-akhir ini.”

“Kau menguji kesabaranku, Seohyun-ah,” Luhan mencubit hidung Seohyun. “Disaat aku dan kau mempunyai waktu untuk berdua seperti ini, kau malah sibuk dengan tugas-tugasmu. Bahkan aku sempat menyesali kenapa aku harus memasuki jenjang perkuliahan lebih dulu sedangkan kau masih di sekolah menengah.”

“Lu…”

“Bahkan sempat terpikir olehku untuk menyusup ke sekolah, supaya aku bisa mempunyai waktu untuk berdua denganmu. Baiklah, ini terdengar konyol tapi—”

‘Chu~’

Belum sempat Luhan menyelesaikan ucapannya, lidahnya seakan kelu dan kehilangan kata-kata sesaat setelah Seohyun mengecup pipinya sekilas.

“Selama kita masih bersama, kurasa tak akan pernah alasan untukmu cemburu kepadaku Lu.” ucap Seohyun mengusap surai Luhan yang sengaja di cat warna kecoklatan. “Kau tak perlu khawatir jarak akan memisahkan kita, selama kita masih percaya satu dengan lain.”

“Seohyun-ah, jangan pernah memotong ucapanku dulu,” ucap Luhan menatap sepasang iris obsidian Seohyun yang bening seperti kaca. “Kali ini, kau membuatku tak bisa menahan lagi untuk bersabar, chagiya.” lanjutnya sebelum mencium bibir Seohyun yang membuat gadis itu cukup terkejut.

Tidak, Seohyun memang tak akan pernah bisa menolak saat Luhan menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan seperti ini. Perasaannya kepada Luhan yang sangat dicintainya memang membuatnya tak kuasa untuk menolaknya.

Luhan lalu melepaskan ciumannya dan mengusap lembut surai panjang sepunggung milik Seohyun, “Kau tahu, melihatmu seperti ini membuatku ingin mengajakmu ke China untuk mengenalkanmu kepada orang tuaku dan melamarmu sekarang juga dihadapan Tiffany Ahjumma dan Siwon Ahjussi. Yah, terlepas jika saja aku tak ingat jika kau masih berstatus pelajar.” ucapnya disertai gelak tawa.

Pipi Seohyun lalu bersemu merah seperti kepiting rebus ketika mendengarnya, “Aku mau mandi.” ucapnya singkat sambil berlari kecil menuju kamar mandi.

Luhan kembali tertawa melihat tingkah Seohyun yang seperti itu, menggoda kekasihnya yang masih polos memang suatu hiburan tersendiri baginya.

“Dasar gadis kecil…” gumam Luhan menggelengkan kepalanya, pandangannya lalu menoleh kepada selembar kertas yang terlihat lecek yang menyembul di tas ransel sekolah milik Seohyun.

“Apa ini?” gumam Luhan mengerutkan dahinya sembari meraih kertas itu. Tak biasanya Seohyun menyimpan kertas dengan benar, biasanya ia selalu melipat rapi kertas miliknya sekalipun itu adalah hasil tesnya sekalipun.

Luhan membaca kertas itu, dan detik itu juga ia meremas kertas itu. Kertas yang lain dari seseorang yang merupakan penggemar rahasia Seohyun.

***

Seohyun memilih berada di balkon apartemen Luhan sembari menatap pemandangan kota Seoul di malam hari. Setelan piyama bergambar Keroro yang di kenakannya berkibar beserta helaian rambut miliknya yang berterbangan kala angin menerpa tubuhnya.

Grebb…’

Seseorang yang tak lain Luhan memeluk tubuh langsing gadis itu, menghirup aroma tubuh gadis itu yang membuatnya kecanduan.

“Lu… Berhenti mengendus seperti anak anjing, kau membuatku geli.” ucap Seohyun menahan rasa gelinya.

“Aku tak mau melepasnya,” sahut Luhan terus memeluknya. “Karena jika aku melepasnya, aku takut seseorang akan merebutmu dariku.”

“Hey hey, aku tak mengerti apa maksudmu.” ucap Seohyun mengerutkan dahinya bingung.

Luhan lalu melepaskan pelukannya dan menghadapkan Seohyun agar berhadapan dengannya, “Aku menemukan sebuah surat di tasmu tadi.” ucapannya tentu saja membuat Seohyun terkejut tak percaya.

Seohyun meruntuki dirinya sendiri, kenapa dirinya tak menyimpan lembaran kertas itu dengan benar. Seharusnya aku menyimpan surat itu di loker saja tanpa harus membawanya, begitulah yang ada di pikiran Seohyun saat ini.

“Itu…” Seohyun merasa bingung bagaimana ia harus merangkai kata untum menjelaskan semuanya, ditambah dengan tatapan intimidasi dari Luhan. “Aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu, Lu…”

“Tak ada lagi sepertinya yang harus kau jelaskan lagi Seohyun-ah…”

“Tapi sungguh Lu, aku sama sekali tak tahu siapa yang mengirimkan surat itu.”

“Benarkah begitu?” Luhan mengangkat satu alisnya menatap Seohyun, gadis itu segera menganggukan kepalanya cepat.

“Na mollayo, Lu.”

“Aku kecanduan kepadamu, tapi kau sama sekali tak perduli kepadaku. Apa yang harus aku lakukan? Tolong katakan kepadaku.” Luhan lalu menghela nafasnya berat.

Seohyun terdiam mendengar perkataan Luhan. Selang beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu.

“Lu, jangan bilang kau yang mengirimkan surat-surat itu dan menyuruh Sehun untuk menaruhnya di lokerku setiap hari.” ucap Seohyun memastikan.

“Tentu saja. Kau pikir siapa lagi yang mau mengirimkan surat seperti itu kepada seorang gadis yang sudah mempunyai kekasih?”

Kali ini, Seohyun melonggo tak percaya…

***

“Kau bodoh, Lu! Neomu paboya, kenapa kau mengirimkan surat-surat bodoh itu kepadaku sedangkan kau bisa mengatakannya langsung kepadaku.” ucap Seohyun mencubit pipi Luhan yang berbaring disampingnya dengan posisi namja itu memeluknya.

“Hey hey, aku harus menjaga gengsi tentu saja. Kau pikir aku seperti Kai yang tak mempunyai urat malu saat menyatakan perasaannya di hadapan Krystal?” elak Luhan mencoba membela diri.

“Ck, bilang saja kau malu untuk mengungkapkannya,” cibir Seohyun menggembungkan pipinya. “Lalu kenapa surat-surat itu tulisannya berbeda dengan tulisanmu? Ayolah, aku tahu tulisan hangul-mu sangat jelek dan berantakan, sangat jauh berbeda jika dibandingkan tulisan hangul di surat itu yang sangat rapi.”

“Tentu saja, aku memakai jasa Chorong kekasih Minseok untuk menuliskannya.” ucap Luhan membanggakan dirinya sendiri.

‘Pletakkk’

“Haissh… Appo Seohyun-ah, kenapa kau memukulku?” protes Luhan meringgis sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit setelah Seohyun memukul kepalanya.

“Dasar nappeun namja, ck sudahlah aku mau tidur.” ucap Seohyun berbalik dan membelakangi Luhan.

“Ya! Seohyun-ah, jangan marah kepadaku…”

“Seohyun-ah…”

“Ayolah Seohyun-ah, aku tahu kau belum tidur…”

Luhan mengerang frustasi ketika Seohyun sama sekali tak merespon ucapannya, gadis itu pasti sudah tertidur.

“Baiklah baiklah, jaljayo innocent girl. Ku harap kau memimpikan aku.” ucap Luhan memilih menyerah dan memejamkan matanya yang terasa lelah dan berat.

Suasana hening menyelimuti ruangan itu, hanya suara deru AC yang terdengar memenuhi ruangan. Selang lima belas menit kemudian, mata Seohyun yang tadinya terpejam terbuka. Sesungguhnya ia sama sekali tak tertidur. Ia hanya pura-pura tidur.

Seohyun lalu membalikkan tubuhnya menatap Luhan yang tertidur, melihat Luhan tertidur seperti ini dengan mata rusanya yang terpejam membuat Seohyun tersenyum kecil.

“Jaljayo, bad boy. Saranghae…” gumam Seohyun melingkarkan tangannya memeluk Luhan dan memejamkan matanya. Sepertinya malam ini ia akan bermimpi indah dengan Luhan yang hadir dalam mimpinya, sama seperti Luhan yang sedang memimpikannya di bawah alam sadar.

Malam itu, senyum yang mengembang di kedua wajah mereka berdua sama sekali tak lenyap terhias di paras mereka.

End

A/n : Hohoho annyeong ~ !! ^^ mian aku jarang muncul sekarang, terlalu banyak kesibukan membuatku kadang gabisa ngetik FF sesering dulu T^T bagaimana dengan ini? Sepertinya ini mengecewakan, maafin ya kalo chemistry-nya ga pas. RCL seikhlasnya chingudeul…

Advertisements

26 thoughts on “Overdose! (“Innocent Girl And Bad Boy” Special Part)

  1. so sweet thor, neomu daebak… still write and make new ff seohan, acebaby always be faithful to wait it. fighting ^^

  2. Ff nya bagus thor saya suka tp itu masa Sehun suka Tiffany sedangkan Tiffany itu umma Seo ._. Atau namanya doang yg sama ?

    • nice correct ^^ kkk~ iya, itu enggak sengaja ._. aku awalnya milih Tiffany itu asal, tapi aku lupa kalau disini Tiffany udah jadi eommanya seohyun ^^)v jadi anggap aja mereka beda orang aja ya

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s