I Love You, Not Her (Chapter 1)

image

I Love You, Not Her

Written by Hyeri Choi

Starring

Lu Han (EXO Luhan) || Seo Joo Hyun (Girls’ Generation Seohyun)

Romance, Marriage-Life, School-Life, Alternate Universe (AU)

Rated for Teens

Twoshoot

Poster Art by Nam @ HSG

Storyline and plot is mine. Cast is belong to God, their parents and management. Don’t copy-paste or reblogging without permission. Free to copy-paste this FF, but take with full credit!

2014 © Hyeri Choi

Seohyun menghela nafasnya pelan memasuki rumahnya —entah bisa dibilang rumah atau tidak mengingat suasananya yang cukup sepi—, ditaruhnya sepatu sekolah yang biasa ia pakai di rak. Ia kembali menghela nafasnya lega mendapati seorang penghuni rumah yang lain belum pulang. Gadis itu lalu berjalan masuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Bicara mengenai penghuni rumah yang ia tempati, mungkin bisa dibilang adalah suaminya yang menikah dengannya beberapa minggu yang lalu. Seorang namja bernama Luhan yang menikah dengannya melalui perjodohan.

Mungkin lebih tepatnya Seohyun harus berbangga hati mempunyai suami seperti Luhan. Bisa dibilang namja yang mempunyai selisih umur dengannya sekitar 7 tahun itu tampan dan mapan. Semua kebutuhan Seohyun baik pribadi maupun urusan sekolahnya dan rumah tangga mereka tercukupi. Bukankah ini yang selalu di idamkan para yeoja yang sudah menikah?

Namun satu hal yang Seohyun tak bisa meraihnya, perasaan Luhan sendiri. Seohyun tak pernah tahu alasan Luhan menikahinya sedangkan ia masih berstatus pelajar dari sekolah menengah di Seoul. Apakah karena desakan orang tuanya? Entahlah, tak ada yang pernah tahu sisi lain dari Luhan. Ia terlalu misterius bahkan terasa seperti orang asing yang tak terjamah bahkan untuk Seohyun sekalipun.

Tidak, Seohyun tak pernah sedikit pun menyesali perjodohannya dengan Luhan meskipun rasanya sedikit ganjil tinggal bersama dengan suami yang tak dikenalinya. Baginya, melihat kedua orang tuanya bahagia sudah cukup membuatnya senang meskipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.

Seohyun keluar dari kamar mandi rumahnya dengan rambut panjang sepinggangnya yang terurai basah dengan piyama favoritnya, setelan bergambar kartun Winnie The Pooh. Ia lalu menuruni tangga menuju Dapur, memulai kegiatan rutin yang selalu dilakukannya setelah di sekolah sebagai seorang istri. Memasak makan malam walaupun Seohyun sendiri tak yakin jika Luhan akan memakannya karena mereka tak pernah sedikitpun bertatap muka setelah acara pernikahan mereka.

“Kuharap suatu hari nanti aku bisa mengenal sisi lain dari dirimu, Luhan-ssi…” gumam Seohyun menghela nafasnya pelan.

***

Langit Seoul semakin beranjak menuju malam seiring dengan sang dewa matahari yang mulai singasananya dan bertukar posisi dengan dewi bulan. Namun, fenomena alam itu tak menyurutkan aktivitas yang masih berlangsung di kota tersibuk di Korea Selatan, Seoul. Bahkan bisa dibilang semakin gelap malam semakin aktivitas di salah satu sudut kota Seoul bertambah, sebuah Club malam.

Asap rokok yang mengepul, aroma minuman keras yang cukup menusuk indra penciuman dan musik yang berdentum keras ditambah beberapa wanita berumur dewasa berpakaian mini menggoda para pria untuk sekedar mengobrol, minum bersama bahkan untuk one stand night. Who knows?

Hal yang seperti itu juga dirasakan seorang namja berambut cokelat kehitaman dan bersetelan formal. Bisa dibilang ia seperti seorang eksekutif muda. Pria itu berparas tampan, membuat hampir semua wanita yang melihatnya berusaha keras untuk menarik perhatiannya namun sepertinya namja yang berwajah lebih seperti masyarakat China daratan dibanding Korea itu tak mengindahkannya.

“Lu, kau datang lagi kemari?” seseorang yang mengenal namja itu menatapnya dengan tatapan tak percaya, pria itu lalu menganggukan kepalanya dan duduk di kursi yang kosong.

“Kupikir kau tak seharusnya berada disini, Luhan-ah,” ucap pria bersurai blonde itu menghela nafasnya pelan. “Kau mempunyai istri sekarang, pulanglah istrimu sekarang pasti sedang menunggumu di rumah.”

“Aku hanya tak ingin menyakitinya, Kris. Hanya untuk bertatap wajah saja dengannya aku tak mampu menatap wajahnya yang polos itu.” sahut Luhan menghela nafasnya pelan.

“Kau masih teringat dengan Yoona?” Luhan tersentak mendengar nama seorang gadis yang sepertinya terdengar seperti nama orang Jepang dan cukup familiar untuknya. “Ini… Ini sama sekali tak ada hubungan dengannya, Kris.” ucap Luhan tergugup.

Kris hanya tersenyum kecil, “Yoona dan Seohyun. Mereka berdua adalah sosok yang mirip, baik wajah atau sifat mereka berdua. Aku bahkan sampai tak bisa membedakan mereka saat aku bertemu pertama kalinya dengan Seohyun saat pernikahan kalian,” namja itu lalu menepuk pundak Luhan. “Pulanglah Lu, Seohyun pasti menunggumu di rumah. Jangan biarkan rumah tangga kalian merenggang seperti pernikahanku dengan Jessica.”

Selepas Kris berlalu dan menghilang di balik kerumunan orang yang sibuk dengan kesenangannya semata, Luhan masih terdiam di tempatnya terduduk. Luhan memang tahu betul jika Kris, sahabatnya yang telah menikah dengan seorang gadis bernama Jessica, hubungan pernikahan mereka tengah merenggang karena komitmen mereka sendiri untuk tak mencampuri urusan mereka masing-masing. Apakah Luhan ingin nasib pernikahannya tak jauh berbeda dengan pernikahan Kris?

Ya, ucapan Kris memang sepenuhnya benar. Ia sama sekali tak boleh berdiam diri disini atau pernikahannya dengan Seohyun bisa jadi akan hancur cepat maupun lambat. Luhan lalu memantapkan hatinya dan melangkah pergi meninggalkan bar itu keluar dari Club malam.

Beruntunglah jalanan kota Seoul cukup sepi mengingat sudah jam 21.00 KST dimana hampir semua orang telah pulang dan beristirahat di rumahnya. Traffic light pun hanya menampakkan lampu kuning yang berkedip-kedip. Luhan mengendarai mobil sedan mewahnya membelah jalanan kota Seoul, yang ingin ia lakukan saat ini hanya satu. Bertemu dengan Seohyun.

***

Luhan sedikit mengerutkan keningnya mendapati rumah tempatnya tinggal satu lingkungan dengan Seohyun cukup sepi dan hanya kamar di lantai dua yang masih terlihat menyala lampunya. Apakah Seohyun masih terjaga?

Luhan lalu memasuki rumahnya dan menaruh sepatu pantofel kerjanya disamping sepatu kets yang biasa dipakai Seohyun untuk menjalani aktivitasnya disekolah. Luhan mengalihkan pandangannya dan menaiki anak tangga menuju kamar Seohyun di lantai dua. Seohyun dan Luhan memang tidur di kamar yang terpisah atas saran kedua orang tua mereka, dengan alasan Seohyun masih terlalu belia dan Luhan pun menyetujuinya.

Terlihat pintu kamar Seohyun terbuka sedikit sehingga terdapat celah yang membuat Luhan bisa mengintip. Luhan sedikit mengerutkan keningnya melihat Seohyun terlihat terduduk terkelungkup di meja belajarnya.

Apa dia tertidur?’ batin Luhan bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Seohyun. Luhan lalu mendorong pintu itu agar celah lebih lebar sehingga membuat Luhan mengakses masuk ruangan pribadi milik Seohyun. Sangat pelan dan tak membuat suara sedikit pun sebisa mungkin. Ia tak ingin membuat istrinya terusik dengan tindakannya.

Luhan kemudian menyampirkan helaian rambut yang menutupi wajah Seohyun, menampakkan sepasang mata Seohyun yang terpejam. Rupanya memang benar, gadis itu memang tertidur.

Luhan menghela nafasnya pelan. “Mungkin, dia kelelahan membagi waktunya untuk bersekolah dan mengurus rumah.” gumamnya mengangkat tubuh Seohyun dengan menggendongnya ala bridal style dengan hati-hati, tak ingin sedikitpun istrinya terusik dari tidurnya.

Luhan merebahkan tubuh Seohyun di kasur dengan perlahan, dan menarik selimut hingga sebatas dada. Namja itu lalu duduk di tepi kasur sembari mengamati detail gadis yang tak pernah sedikitpun berinteraksi dengannya setelah pernikahan mereka.

“Mereka begitu mirip…” gumam Luhan memberanikan diri menyentuh permukaan pipi Seohyun yang halus seperti kulit bayi. “Aku bahkan tak sedikitpun tak menyangka akan bertemu lagi, walaupun dalam sosok yang lain.”

“Andai saja aku tak mementingkan ego-ku sendiri, kau pasti merasakan namanya kebebasan yang dimiliki anak seumuran denganmu tanpa ikatan pernikahan,” Luhan tersenyum miris setelah mengucapkan itu. “Ini semua salahku…”

Luhan lalu beranjak meninggalkan kamar Seohyun setelah mematikan lampu kamar Seohyun, menuruni tangga rumahnya sembari melonggarkan sedikit dasinya menuju Dapur. Tenggorokannya terasa sedikit kering akibat minuman keras yang di tengguknya di Club malam.

Ia mengerutkan dahinya ketika memasuki Dapur dan menemukan semangkuk sup dan kimchi tersedia di meja makan. “Apa Seohyun memasak?” gumamnya mendekati meja makan dan meraih secarik kertas diletakkan di dekat dengan mangkuk sup.

“Aku tak yakin dengan rasanya, karena ini adalah pertama kalinya aku memasak tanpa bantuan Eomma. Terserah jika kau mau memakannya atau tidak.”

Tulisan hangul yang ditulis rapi dan seseorang yang tinggal bersama dengannya, sudah pasti Seohyun yang menuliskannya. Rupanya Seohyun menyiapkan makan malam untuknya. Pikiran Luhan menerka-nerka, apakah Seohyun langsung menyiapkan makan malam ketika dia pulang dari sekolah? Jika iya, bisa dipastikan gadis itu pasti sangat lelah.

Pantas saja ia tertidur di meja belajar…’ batin Luhan menarik kursi yang menyebabkan lantai berderit kecil dan duduk. Tangannya lalu meraih sumpit yang sudah disediakan, dan mengambil potongan kimchi dengan sumpit.

Rasanya sama seperti kimchi pada umumnya dan terasa dingin akibat waktu yang terus berjalan saat potongan kimchi itu masuk ke dalam mulut Luhan, namun ada sesuatu yang berbeda bagi dirinya. Ya, ada sesuatu yang berbeda dari kimchi pada umumnya dan mungkin saja ia akan menjadikan masakan istrinya sebagai favoritnya.

***

“Huah…” Seohyun menguap kecil sembari mengucek-ucek matanya membiasakan dengan pengelihatan di sekitarnya. “Eh? Seingatku, aku sedang belajar tapi kenapa aku tertidur di kasur?” gumam Seohyun mengerutkan keningnya bingung.

Seohyun menyibakkan selimut yang menyelimuti tubuhnya dan menurunkan kakinya hingga telapak kakinya menyentuh permukaan lantai yang dingin. Pukul 4.00 A.M KST, memang tak biasa bagi Seohyun bangun jam segini. Tapi, apa salahnya?

Seohyun menuruni tangga sambil sesekali menguap dan berniat menuju Dapur, namun langkahnya terhenti ketika tak sengaja menoleh arah Ruang Tamu.

“Luhan?” gumam Seohyun mengerutkan dahinya melihat sesosok namja tengah tertidur di atas sofa panjang. Seohyun lalu berjalan menghampirinya. “Ugh… Berantakan sekali…” gumam Seohyun sedikit meringgis melihat kertas-kertas berserakan diatas meja dan laptop yang tertutup. Ia lalu meraih semua kertas-kertas itu dan menumpuknya menjadi satu.

“Aku tak pernah tahu, jika kau bisa sepolos ini jika tertidur,” gumam Seohyun ketika matanya terhenti dan menatap wajah Luhan yang tengah tertidur, memperhatikan semua detail wajah suaminya itu. “Bahkan kau terlihat lebih tampan dari siapapun yang pernah aku tahu, yah kecuali ayahku.”

Pipi Seohyun seketika memerah setelah mengatakannya. Yang benar saja, bahkan ia tak pernah memuji orang lain sebelumnya kecuali orang tuanya dan teman-temannya sendiri. Gadis itu segera menggelengkan kepalanya, ‘lebih baik segera hentikan pikiran bodohmu Seohyun-ah!’ batin Seohyun segera beranjak dari tempat itu menuju tujuan awalnya, Dapur.

Seohyun menghela nafasnya pelan sembari mengikat rambutnya yang terurai panjang menjadi tinggi, diperiksanya bahan makanan yang tersedia di Kulkas. “Jadi, apa yang harus ku buat untuk sarapan hari ini?” gumamnya.

Seohyun lalu memutuskan untuk menyalakan kompor, sepertinya dengan bahan makanan yang ada ia hanya bisa membuat bulgogi untuk sarapan pagi ini begitulah yang bisa ia terka.

“Hey, apa dia memakan makanan makan malam yang kusiapkan semalam?” gumamnya menoleh, pandangan tertuju kepada meja makan yang berada di sudut ruangan. Tiba-tiba saja ia teringat kepada masakannya yang sengaja dibuat untuk Luhan.

Seohyun tersenyum kecil saat melihat meja makan terlihat bersih dengan piring-piring kotor sehabis dipakai berada di wastafel cucian piring. Namun gadis itu mengerutkan dahinya saat melihat catatan kecil yang tertempel di pintu kulkas menggunakan magnet.

‘Gomawo sudah memasakkan makan malam untukku. Masakan buatanmu sangat enak seperti Eomma.

— Luhan’

Seohyun kembali tersenyum kecil saat membaca catatan kecil itu. Setidaknya makanan yang sengaja ia buat tidak menjadi sia-sia dan berakhir di tempat pembuangan sampah Dapur.

Dengan cekatan, Seohyun segera memotong-motong potongan daging menjadi potongan kecil. Dimasukkannya kedalam wajan beserta bumbu instan dan sayuran yang juga sudah dipotong kecil. Dalam sekejap saja, wangi harum masakan sudah tercium ke segala penjuru rumah mencoba menggoda indra penciuman siapapun yang berada di rumah itu.

Disusunnya piring untuk dirinya dan Luhan di meja makan dan secangkir kopi untuk suaminya dan susu vanila favoritnya untuk dirinya sendiri.

Greb…’

Seohyun cukup tersentak saat merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya dengan hembusan nafas seseorang yang menerpa ceruk di lehernya dan membuatnya merasakan sedikit rasa geli. Seseorang sedang memeluknya dari belakang.

“E-eh?” Seohyun sedikit meronta mencoba melepaskan pelukan itu.

“Tolong Seohyun-ssi, tolong biarkan sebentar saja seperti ini…” ucap seseorang yang tak lain Luhan, seakan bisa mengerti apa yang dipikirkan Seohyun saat ini. Membuat Seohyun terdiam saat Luhan semakin mengeratkan pelukannya.

‘Aigo, ada apa denganku? Kenapa Luhan memelukku seperti ini? Dan, kenapa jantungku berdebar lebih kencang dan aku merasakan perasaan yang nyaman saat Luhan memelukku seperti ini?’ Batin Seohyun terus bertanya-tanya sambil mengigit bibir bawahnya. Entahlah, ia bahkan tak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini.

***

Seohyun menghela nafasnya pelan saat membuka pintu loker miliknya, diambilnya tas yang tersimpan di loker itu dan mengenakannya. Pelajaran sekolah hari ini telah usai dan besok adalah libur awal musim panas jadi wajar saja jika kebanyakan teman-temannya bersukacita karena itu artinya liburan.

“Ach, kau mengagetkanku saja Sehun-ah!” ucap Seohyun cukup terkejut saat ia menutup pintu loker dan melihat Sehun salah satu temannya berdiri dengan posisi bersandar di sebelah loker milik Seohyun.

“Mian, aku tak bermaksud mengagetkanmu Seohyun-ah,” ucap Sehun tertawa canggung sambil mengacak rambutnya asal.

“Tak masalah Sehun-ah,” ucap Seohyun tersenyum kecil.

“Hey, apa kau punya waktu besok?” tanya Sehun berbasa-basi.

Seohyun lalu tampak berpikir sejenak, seingatnya besok ia tak melakukan apa-apa. Yah, Luhan besok masih bekerja di Kantor dan ia hanya sedikit memainkan perannya sebagai seorang istri yaitu mengurus rumah maka ia pun menggelengkan kepalanya. “Kurasa besok aku free, ada apa?” tanyanya bingung.

“Ng… Begini,” Sehun menggaruk kepalanya tak gatal sama sekali. “Aku bersama Taeyeon, Chanyeol, Krystal dan Baekhyun akan pergi ke Pantai besok. Apa kau mau ikut? Oh ayolah, aku tak mau menjadi patung diantara mereka semua yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.”

Pantai? Seingatku terakhir kali pergi ke Pantai adalah saat aku berada di Sekolah Dasar.’ batin Seohyun mencoba mengingat-ingat.

“Aku tak yakin aku bisa ikut, karena aku juga meminta ijin kepada—”

“Ya, aku mengerti Seohyun-ah. Kau perlu meminta ijin kepada Luhan, seorang namja yang memaksamu untuk menikah dengannya.” sahut Sehun cepat sebelum Seohyun menyelesaikan ucapannya. Dan membuat gadis itu diam seribu bahasa sembari menundukkan kepalanya.

“Demi Tuhan, Seohyun-ah,” Sehun menghela nafasnya pelan. “Kau sama sekali tak bahagia dengannya, dan aku mengetahui hal itu. Kumohon Seohyun-ah, apa kau tak bisa menyadarinya?”

“Apa maksudmu, Sehun-ah?” tanya Seohyun mengerutkan dahinya bingung.

“Apa kau tak bisa kembali kepadaku dan membuka kembali kisah kita berdua?” tanya Sehun menatap dalam iris mata Seohyun yang jernih dan terasa teduh bagi siapapun yang memandangnya.

Memang tak dapat dipungkiri, jauh sebelum Seohyun berstatus sebagai istri Luhan bukan kabar angin semata jika Sehun dan Seohyun adalah sepasang kekasih. Dan semua itu kandas karena pernikahan Seohyun dengan Luhan, dengan meninggalkan goresan rasa sakit di perasaan mereka berdua.

“Apa sedikitpun tak ada celah di hatimu untukku? Apa kau sedikitpun tak mengingat kenangan yang telah kita lalui bersama?” tanya Sehun bertubi-tubi dengan sorot mata yang terkesan lirih menatap seseorang dihadapannya yang masih dicintainya.

“Sehun-ah, mianhae,” Seohyun menghela nafasnya pelan. “Bukankah kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya? Aku sedikitpun tak ingin mengulangi kisah kita, saat ini aku sudah berstatus sebagai seorang istri untuk Luhan. Aku memandang pernikahan sebagai sesuatu yang suci dan sakral, sehingga tak sedikitpun aku tak berniat untuk bermain api dibelakang Luhan. Mianhaeyo Sehun-ah…”

“Na gwaenchana, Seohyun-ah. Tidak masalah,” ucap Sehun tersenyum miris. “Seharusnya aku menyadari posisiku saat ini, sedikit pun aku tak memiliki hak untuk merebutmu darinya. Aku mengerti, Seohyun-ah.”

“Aku akan menghubungimu nanti jika aku sudah membicarakan hal ini dengan Luhan, annyeong…” Seohyun sedikit membungkukkan badannya berpamitan kepada Sehun dan berjalan pergi menyusuri lorong Gedung Sekolah meninggalkan Sehun yang masih memandangi punggung Seohyun yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan.

Terlintas sebuah pertanyaan saat ini di pikiran Seohyun yang cukup menganggu pikirannya, ‘Apa Luhan mencintaiku? Apakah aku bisa percaya jika aku bisa bahagia bersamanya?’

To be continue…

A/n : Annyeong ~~~~ ^^ hai hai, lama tak muncul dari peredaran FF di blog Acebaby (?) Hahaha anyone miss me #plakk okelah maafkan aku karena sebenarnya aku dari masa hibernasi (?) tapi emang dasarnya jari tangan udah gatal pengen ngetik FF jadinya FF twoshoot ini untuk permulaan kkkk~~ RCL seikhlasnya ^^

Advertisements

41 thoughts on “I Love You, Not Her (Chapter 1)

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s