Blind

image

Blind

Storyline by Hyeri Choi

Starring

Seo Joo-Hyun (Girls’ Generation Seohyun) || Lu Han (EXO Luhan)

Romance, Horror, Thiller (maybe ._.), Alternate Universe (AU)

Rated for Teens

Oneshoot

Poster Art by Aphrodite’s @ Acebaby

Disclaimer

FF and storyline is mine. Cast(s) is belong to God, their parents and management. Free to copy-paste this FF but don’t re-publishing or re-blogging without permission and take with full credit.

Brought for you all, special for Acebaby’s monthly event.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Psikopat… Mungkin hal ini adalah satu kata yang tepat untuk mengambarkan dirinya saat ini. Melakukan pembunuhan untuk kepuasan dirinya semata. Lebih tepatnya, gangguan jiwa.

Baginya, darah dan benda tajam yang ia pakai untuk membunuh adalah hal yang sudah biasa. Dan melihat, orang yang akan ia habisi mengerang kesakitan hingga meninggal karena kehabisan darah adalah sesuatu yang menyenangkan baginya.

Tidak. Jangan berpikir jika seorang psikopat yang dimaksud adalah orang yang benar-benar kehilangan kesadarannya, ia sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Namun semua itu tak akan menjadi masalah baginya untuk mendapatkan yang ia inginkan.

Ia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan korek api gas yang berada di kantongnya. Puas ‘membereskan’ sesuatu yang biasa ia lakukan hari ini, sang psikopat menyempatkan dirinya untuk bersantai di taman dekat tempat tinggalnya. Yeah, jangan berpikir jika sang psikopat tinggal di tempat yang terpencil menjauhi peradaban. Kenyataannya ia tinggal di suatu pemukiman elit yang berada di salah satu kota tersibuk di Korea Selatan, Seoul.

Ia menutup matanya ketika semilir angin malam menerpa tubuhnya, baginya angin yang dingin dan menusuk tubuh beserta langit malam adalah temannya. Karena hanya mereka yang selalu menemaninya saat ia harus keluar dari rumahnya untuk ‘membereskan’ sesuatu.

Ia lalu membuka matanya dan tersenyum tipis sambil merogoh sesuatu dari kantung jaketnya, mengambil selembar kertas yang mirip seperti foto.

“Aku tak bisa menyerah untuk mendapatkanmu,” gumamnya pelan, menatap potret seorang gadis berambut panjang yang sedang bercengkrama dengan beberapa anak kecil. Tampak gadis itu tertawa ceria. Sepertinya foto itu diambil secara diam-diam.

“Aku pasti bisa mendapatkanmu, Seo Joohyun-ku tersayang. You’re mine and you never can escape from me.”

***

“Terjadi lagi,” gumam seorang gadis menghela nafasnya pelan sambil melemparkan koran pagi ini yang memuat headline tentang pembunuhan seorang gadis. Gadis bernama Seo Joohyun atau lebih akrab dipanggil Seohyun itu lalu memegang keningnya. “Ada apa dengan kota ini sebenarnya? Kenapa selalu terjadi pembunuhan beruntun seperti ini? Dan kenapa… korbannya adalah semua orang yang ku kenal?” gumamnya menghempaskan punggungnya di sandaran kursi yang empuk.

Ya, bisa dibilang semua orang yang menjadi korban pembunuhan berantai yang terjadi akhir-akhir ini adalah teman-temannya sendiri. Sebut saja Yoona, Chorong, Yonghwa, Minho dan terakhir yaitu kemarin malam adalah Kyuhyun, mentor-nya dalam mata kuliah teater.

“Kau kenapa, Seohyun-ah?” tanya Sehun bingung ketika menghampiri Seohyun dan menemukan kekasihnya seperti sedang mengalami tekanan berat.

“Eoh? Sehun-ah? Kapan kau datang? Dan bagaimana kau tahu jika aku ada disini?” tanya Seohyun bingung melihat sosok Sehun, namja bersurai coklat itu hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Seohyun.

“Tentu saja aku tahu, neomu paboya,” Sehun mencubit gemas pipi gembul Seohyun. “Kau selalu kemari saat kuliahmu belum dimulai untuk sarapan atau membaca. Dan kau harus mengarisbawahi satu hal, aku ini namjachingu-mu jadi aku tahu semua kebiasaanmu.” ucap Sehun sambil menarik kursi dan duduk di sebelah kekasihnya.

“Ya! Sayangnya aku selalu tak pernah tahu jika aku memiliki stalker. Dan ternyata itu kau.” canda Seohyun memukul pelan lengan kekasihnya.

‘Aku tak suka kau dekat dengannya, Joohyun-ku. Kau itu milikku seorang dan ia tak akan bisa merebutmu dariku.’

“Yeah, aku mengaku jika aku adalah stalker-mu putri kodok. Bahkan kau selalu ada di benakku saat aku bermain basket dengan teman-temanku seolah kau menyemangatiku.” ucap Sehun tersenyum jahil.

“Ya! Berhenti mencoba menggodaku.” pekik Seohyun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jangan sampai Sehun melihat wajahnya yang merah seperti kepiting rebus saat ini, cukup memalukan.

“Hey hey, aku mengatakan fakta bukan menggoda semata Seohyun-ah.” sahut Sehun memegang kedua pergelangan tangan Seohyun. “Dan oh ayolah, biarkan aku melihat wajahmu yang manis itu.”

“Shireo!” ucap Seohyun menggelengkan kepalanya.

“Haissh… Seohyun-ah…”

“Tidak mau, tidak mau.”

“Kumohon, bbuing bbuing…”

“Kau tahu aegyo-mu tak akan pernah bisa mempan kepadaku, Sehun-ah.”

Sehun tersenyum kecil melihat tingkah laku kekasihnya, yah Seohyun sangat lucu dan manis baginya. Hampir sebulan ini kekasihnya selalu menemani harinya dan menorehkan warna di hidupnya. Terlebih saat ia selalu mencoba menggodanya yang sangat polos.

“Ck, baiklah Seohyun-ah aku menyerah.” ucap Sehun berpura-pura bersiap untuk pergi. “Aku pergi dulu, sampai jumpa saat makan siang nanti.”

Sekitar satu menit Seohyun masih menutup wajahnya, menyadari sepertinya Sehun sudah pergi ia lalu menghela nafasnya lega dan menjauhkan telapak tangannya dari wajahnya.

‘Chu~’

“Sampai jumpa makan siang nanti, chagiya.” teriak Sehun tertawa riang saat berhasil menggoda Seohyun dan mencium tepat di bibir gadis itu. Membuat pipi Seohyun kembali merona merah seperti kepiting rebus.

“Ya! Sehun-ah, aku membencimu!!!!”

Seseorang yang berdiri dibalik rak buku menatap tajam Seohyun, tentu saja ia melihat semuanya. Keakraban Seohyun dengan Sehun. Mengingatnya saja membuatnya muak.

“Sehun-ssi, aku bersumpah akan merebut Seohyun darimu. Dan kau Seohyun, kau hanya milikku seorang.” ucap orang itu berlalu pergi menahan amarahnya yang seperti terbakar api cemburu.

© Storyline by Hyeri Choi ©

“Yeah~ Lihatlah siapa yang datang, sang kutu buku dari planet lain.” ucap seorang namja sambil melemparkan kertas yang ia buat seperti bola kepada seorang namja berkacamata tebal yang berjalan melewatinya sembari menundukkan kepalanya.

“Kupikir kau tak akan pernah muncul lagi, kutu buku bodoh. Enyah saja kau dari dunia ini.” tambah seseorang yang tak lain Sehun disertai gelak tawa seakan mengejek.

Hidup itu memang keras. Seohyun pun mengakuinya sendiri, menatap Sehun yang terus membully mahasiswa yang dianggap aneh itu. Yang kelihatan lemah akan selalu ditindas oleh yang kuat. Bisa dibilang ini adalah hukum alam.

“Kau tak apa-apa?” tanya Seohyun begitu sang ‘kutu buku’ itu menaruh buku-bukunya yang tebal di atas meja tepat disamping Seohyun.

Namja bersurai coklat hazelnut itu hanya menganggukan kepalanya tanpa suara, dan duduk di kursinya.

“Aku minta maaf karena perlakuan Sehun, kumohon untuk memaafkannya.” ucap Seohyun menatap wajah namja itu, cukup sulit baginya menatap raut wajah namja itu mengingat poni rambutnya yang cukup panjang dan kacamata berbingkai besar menutupi wajahnya. Ditambah dengan ia yang selalu menundukkan kepalanya.

Namja berkacamata tebal itu hanya menganggukan lepalanya, membuat Seohyun menghela nafasnya pelan mengerti. Sejak awal ia mengenal namja itu sebagai teman sekelasnya, ia memang tak pernah sedikitpun membuka mulutnya untuk berbicara. Bahkan hanya untuk sekedar mengenalkan namanya. Tentu saja itu membuatnya lebih dikenal sebagai ‘kutu buku’ tanpa mengetahui namanya, karena tak ada seorang pun yang mau mengetahui namanya. Tidak sama sekali.

Seohyun lalu hanya menganggukan kepalanya merespon namja itu sebelum menolehkan kepalanya kembali untuk membaca buku yang sempat tertunda. Tanpa menyadari seseorang menatapnya tajam dan posesif.

You’re mine, my dearest Seo Joohyun. Aku bersumpah tak akan melepaskanmu, kau akan selamanya berada dipelukanku karena kau hanya milikku seorang.

© Storyline by Hyeri Choi ©

“Kau yakin tak perlu aku mengantarmu pulang?” tanya Sehun menatap khawatir kekasihnya. Hari ini ia harus latihan basket sehingga tak memungkinkan baginya untuk mengantar Seohyun pulang, lagipula ia tak mungkin membiarkan Seohyun menunggu ia sampai latihan selesai.

Seohyun segera menganggukan kepalanya, “Kau tenang saja Sehun-ah, aku terbiasa naik Bus jadi kau tak perlu khawatir denganku.” ucap Seohyun dengan senyumannya yang manis.

“Bukan seperti itu Seohyun-ah. Aku hanya merasakan firasat buruk sehingga aku khawatir denganmu.” ucap Sehun lirih. Seohyun lalu menepuk pundak Sehun.

“Kau tak perlu khawatir denganku, Sehun-ah. Kalau perlu, aku akan meneleponmu ketika aku sampai di rumah.” ucap Seohyun mencoba menenangkan kekhawatiran Sehun.

“Sudahlah, cepat sana latihan. Aku harus pulang sekarang. Annyeong…” ucap Seohyun mengecup pipi Sehun dan berjalan pergi.

Sehun mengepalkan tangannya, entah kenapa ia merasakan firasat buruk mengenai Seohyun. Ia lalu menghela nafasnya pelan dan berbalik menuju Lapangan, mencoba percaya jika Seohyun akan baik-baik saja.

“Kau akan kehilangannya hari ini, Sehun-ssi.” ucap seseorang dibalik kegelapan menyunggingkan senyuman miringnya dan berbalik pergi.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Seohyun menghela nafasnya pelan sembari menatap langit yang mulai berarak berwarna orange keemasan, Bus yang sejak tadi ia tunggu sama sekali belum tiba setelah sekitar dua puluh menit berlalu.

“Aku ingin cepat pulang, masih banyak tugas yang harus aku kerjakan.” gumam Seohyun menendang-nendang ruang kosong dihadapannya.

Ia lalu menoleh ke arah kiri, matanya berbinar melihat dari kejauhan bus yang ia tunggu sudah datang. Ia lalu berdiri dan menenteng buku-bukunya bersiap untuk berdiri.

Bus kemudian tiba di Halte, namun tak ada satupun penumpang yang akan naik sehingga sang supir lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Itu adalah bus terakhir untuk hari ini.

“Ck, tak kusangka untuk mendapatkanmu aku harus melakukan hal ini,” gumam seseorang dibalik Halte sambil membawa tubuh Seohyun yang tak sadarkan diri akibat obat bius yang dihirupnya.

“Kau milikku, dan sampai kapan pun hal itu tak akan pernah berubah.” gumam orang itu menggendong tubuh Seohyun menuju sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari sana.

Mesin mobil lalu menyala, dan mobil itu lalu melaju dengan kecepatan yang tinggi membelah jalanan kota Seoul.

© Storyline by Hyeri Choi ©

“Eung…” Seohyun sedikit bergumam sembari mencoba mengumpulkan kesadarannya.

“Kau sudah sadar?” suara itu segera membawa Seohyun mengumpulkan semua kesadarannya, namun ia lebih terkejut mendapati dirinya terikat di sebuah kursi.

“E-eh? Kenapa aku bisa disini? Lalu kenapa aku dalam keadaan terikat?” ucap Seohyun mencoba melepaskan ikatan yang mengikat pergelangan tangannya, namun cukup sulit karena tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya cukup kuat.

“Jadi, kau sudah benar-benar sadar Joohyun-ku sayang?” seseorang muncul dari balik kegelapan, membuat Seohyun mendongkakkan kepalanya menatap orang itu.

“Kau… Siapa kau? Kenapa kau melakukan ini? Lepaskan aku!” teriak Seohyun, namun namja itu hanya tertawa.

“Kau sama sekali tak mengenaliku, Joohyun-ku sayang?” tanya namja itu mengambil sebuah kacamata di kantungnya dan mengenakannya. Rambutnya lalu ia mengacak-acaknya sedemikian rupa.

“Kau…” gumam Seohyun tertahan.

“Kau mengenaliku, nona Seo?” ucap namja itu melepaskan kacamata itu dan menatap Seohyun dalam.

“Tidak mungkin, kau… anak itu.” gumam Seohyun menggelengkan kepalanya tak percaya. Siapapun memang tak akan pernah mempercayainya jika sang ‘kutu buku’ yang selalu dibully Sehun dan teman-temannya ternyata adalah orang dihadapannya saat ini.

“Yeah, ini aku,” ucap namja itu mensejajarkan dirinya dengan Seohyun dan mencoba menyentuh pipi gadis berparas manis itu, namun Seohyun segera memalingkan wajahnya enggan bertatap muka. “Tidakkah ini menyenangkan jika kau bisa bertemu dengan seseorang yang cocok untukmu?”

Namja itu lalu memegang dagu Seohyun, memaksa gadis itu untuk bertatap muka dengannya. “Mulai saat ini cobalah untuk mengingat namaku seorang sayang. Luhan, hanya nama itu yang harus kau ingat mulai saat ini.” ucapnya lalu mencium bibir Seohyun.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Sehun menatap cemas layar ponselnya, sudah lima jam sejak Seohyun pamit pulang kepadanya namun tak ada sedikitpun kabar dari kekasihnya itu.

Ia bahkan juga sudah menelpon ke rumah Seohyun, yang diterima oleh adik Seohyun yaitu Sulli namun yang ia terima adalah kabar yang sama sekali tak ingin ia dengar. Seohyun sama sekali belum pulang.

“Ya Tuhan, dimana Seohyun sekarang? Kumohon, semoga tak terjadi apa-apa dengannya.” gumam Sehun setengah berharap, ini semua memang salahnya seandainya saja ia bersikeras untuk melarang Seohyun pulang sendirian. Seandainya saja ia menolak untuk latihan basket hari ini.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Seohyun hanya diam tak membalas ciuman Luhan yang cukup panas saat ini. Ia tak punya pilihan lain untuk meronta.

“Ck,” gumam Luhan melepaskan ciumannya dan mendecakkan lidahnya, “Kenapa kau tak membalasnya?” tanya Luhan frustasi.

“Aku tak punya alasan untuk membalasnya.” jawab Seohyun singkat.

“Kau punya alasan, Joohyun! KAU PUNYA ALASANNYA KARENA KAU HANYA MILIKKU SEORANG, TIDAKKAH ITU CUKUP BAGIMU?” Luhan setengah berteriak mengatakan hal itu.

“Cukup! Kau seperti psikopat, Luhan-ssi. Dan sampai kapanpun aku bukan milikmu, camkan itu.” ucap Seohyun tegas menatap Luhan seakan menantang namja itu.

‘Plakk’

Seohyun sedikit meringgis, pipinya terasa sakit dan panas atas tamparan Luhan. Yeah, namja itu menampar dirinya. Luhan lalu menarik rambut panjang Seohyun dengan kasar hingga membuatnya sedikit menjerit kesakitan.

“Dengarkan aku,  Seo Joohyun. Aku berusaha cukup keras untuk mendapatkanmu seperti sekarang, apakah aku tak cukup pantas bagimu? Apakah aku harus membunuh lebih banyak orang lagi di dekatmu agar kau bisa melihatku? JAWAB AKU JOOHYUN!?!!!”

Seohyun terdiam tak percaya dengan apa yang yang baru saja dikatakan Luhan. Benarkah apa yang baru saja yang ia dengar?

“Kau… Kau yang membunuh teman-temanku?”

Luhan hanya tertawa sinis dan mendekatkan wajahnya tepat di dekat telinga Seohyun, “Aku harus memusnahkan semua orang yang mencoba mengambilmu dariku, Joohyun-ku sayang. Mereka memang pantas mendapatkannya.” bisik Luhan.

Seohyun benar-benar tak percaya dengan kenyataan yang ia tahu saat ini. Kenyataan yang kejam, karena sebuah obsesi seorang namja yang berlebihan terhadapnya mengubah Luhan menjadi seorang psikopat. Mungkin lebih tepatnya, pembunuh berdarah dingin.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Sehun memutuskan untuk mencari tahu dimana Seohyun berada saat ini. Cukup sudah baginya untuk tetap menunggu kabar Seohyun, sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang kekasih untuk mencari dimana Seohyun berada.

“Kumohon Seohyun-ah, tetaplah baik-baik saja.” gumam Sehun melewati jalanan kota Seoul sambil sesekali melihat ke sekelilingnya berharap menemukan sosok Seohyun dalam keadaan baik-baik saja.

© Storyline by Hyeri Choi ©

‘Pip pop pip pop you’ve got a message…’

Luhan merogoh pakaiannya dan mengeluarkan benda putih yang tak lain milik Seohyun, ia lalu menyeringai menatap nama seseorang yang tertera di layar ponsel itu.

“Joohyun-ku sayang, sepertinya kurasa aku harus membunuh satu orang lagi agar aku bisa memilikimu seutuhnya,” gumam Luhan. “Oh Sehun, kurasa dia adalah tantangan terbesar yang harus ku musnahkan untuk mendapatkanmu sayang.”

“Tidak, kumohon Luhan-ssi. Jangan sakiti Sehun, kumohon…” ucap Seohyun setengah memohon, namun hal itu malah semakin membuat seringai Luhan semakin melebar.

“Kurasa tidak Joohyun-ah, selama dia masih ada di dunia ini selamanya aku tak bisa mendapatkanmu,” ucap Luhan menaikkan tudung hoodie-nya. “It’s showtime. Tunggu aku, sayang. Aku akan segera kembali setelah ‘membereskan’ penganggu itu.”

“Kumohon Luhan-ssi, jangan lakukan itu,” ucap Seohyun menggelengkan kepalanya sambil berusaha menahan air matanya. “Aku… Aku bersedia melakukan apapun, asal kau tidak menyakiti Sehun.”

Ucapan itu membuat langkah Luhan terhenti, Luhan pun lalu berbalik dan menatap Seohyun dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apapun?” tanyanya memastikan.

“Apapun asal kau tak menyakiti Sehun. Kumohon Luhan-ssi.” ucap Seohyun terisak, Luhan pun menyeka air mata kristal yang mengenang di pipi Seohyun.

“Kalau begitu, mulai saat ini jadilah milikku dan lupakan apapun tentang namja bernama Oh Sehun. Kau milikku seutuhnya, Seo Joohyun.”

© Storyline by Hyeri Choi ©

Sinar matahari merambat masuk melalui celah jendela membuat seseorang yang berada di ruangan itu sedikit terusik. Seohyun, yang semula menganggap ini semua hanya mimpi buruk semata namun saat ini ia percaya jika ini adalah kenyataan. Sebuah fakta yang menyakitkan.

Baginya cukup menyakitkan dari apapun saat ia terpaksa harus mengkhianati cintanya kepada Sehun agar namja itu tetap selamat tanpa luka sedikitpun yang akan ditorehkan namja yang masih tertidur dan memeluknya posesif saat ini. Luhan, masih tertidur dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa tanpa menyadari ia telah menghancurkan kehidupan seseorang agar orang itu tetap berada disisinya walaupun sekeras apapun orang itu berusaha melepaskan diri darinya.

“Selamat pagi, my angel.” dengan suara yang serak, Luhan pun menyapa Seohyun yang masih berada di pelukannya. Baginya, semalam adalah suatu mimpi yang menjadi kenyaataan bisa menghabiskan malam dengan seseorang yang sudah sekian lama terobsesi dengannya.

Seohyun hanya memalingkan wajahnya,namun hal itu malah semakin membuat Luhan mengeratkan pelukannya.

“Kupikir semalam hanya mimpi semata, Joohyun-ah. Kau tahu, aku selalu bermimpi bisa melihatmu dari dekat seperti ini.” ucap Luhan membelai lembut kepala Seohyun dan mencium keningnya dengan penuh perasaan. Ya, sesuatu yang entah bisa dibilang cinta atau bukan.

“Tunggu sebentar, aku akan membuatkan sarapan untuk kita.” Luhan lalu melepaskan pelukannya dan bangkit dari tidurnya. Luhan hanya mengacak rambutnya asal sambil berjalan menuju pintu, dia lalu menutup pintu dari luar dan terdengar suara langkah kaki yang menjauh.

Seohyun menghela nafasnya pelan sembari menurunkan kakinya ke permukaan lantai yang dingin. Ia lalu berjalan menuju jendela ruangan itu.

‘Aku benar-benar tak mengerti kenapa semua ini harus terjadi kepadaku. Apakah takdir yang terlalu kejam ini memang harus terjadi untukku, hidup dengan seseorang yang memiliki obsesi yang sulit diterima akal sehat?’ batin Seohyun memegang teralis besi yang menutup jendela itu.

Sekitar lima menit berselang, Luhan membuka pintu kamarnya dengan beberapa potong roti dan segelas cangkir berisi teh hangat untuk Seohyun. Luhan lalu menaruh piring dan cangkir itu di meja nakas kecil. Ia kemudian melangkahkan kakinya, dan dilingkarkan kedua tangannya di pinggang Seohyun yang ramping.

“Memikirkan sesuatu, Joohyun?” Luhan menopangkan dagunya di bahu Seohyun.

“Tidak. Sama sekali tidak.” jawab Seohyun singkat, namun hal itu malah membuat Luhan tersenyum kecil.

“Kau tak pandai berbohong, Joohyun-ah,” ucap Luhan membalikkan tubuh Seohyun sehingga mereka bertatapan wajah satu sama lain. “Kau memikirkan sesuatu. Mungkin cara untuk lari dari sini atau semacamnya.”

“Aku sudah bilang, selama kau tak melakukan apapun kepada Sehun aku bersedia untuk melakukan apapun.” sahut Seohyun cepat.

“Good girl…” ucap Luhan mengusap-usap lembut kepala Seohyun, namun ia memicingkan matanya ketika melihat bekas yang membiru di pipi Seohyun.

“Apa semalam aku terlalu kejam kepadamu?” tanya Luhan menempelkan tangannya di permukaan pipi Seohyun yang membiru, membuat gadis itu sedikit meringgis.

“Mianhae, aku menyakitimu semalam. Itu semua hanya kulakukan agar kau tak mencoba pergi dariku, Joohyun-ah,” sahut Luhan. “Percaya denganku, aku berjanji tak akan melakukan hal yang kasar kepadamu selama kau tak mencoba kabur dariku.” lanjutnya memeluk erat Seohyun.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Sehun terbangun dari tidurnya, keadaannya cukup kacau saat ini. Semalam, ia tak tak berhasil menemukan Seohyun dimanapun ia mencoba mencarinya di sudut kota Seoul.

“Seohyun-ah…” gumam Sehun parau menyalakan layar ponselnya, namun ia harus menghela nafasnya kecewa saat tak ada satu pun kabar sama sekali dari Seohyun.

“Aku memang harus mencarinya lagi.” gumam Sehun meraih kunci mobil yang tergeletak di meja dan keluar dari apartemennya. Baginya saat ini, ia tak memperdulikan apapun termasuk dirinya sendiri sebelum mencari keberadaan Seohyun berada. Ya, untuknya saat ini gadis berpipi tembam yang memiliki senyum manis itu adalah prioritas untuknya.

© Storyline by Hyeri Choi ©

“Kau terlihat cocok mengenakannya, Joohyun-ah.” ucap Luhan memamerkan senyumnya yang menawan bagi siapapun yang melihatnya melihat Seohyun keluar dari Toilet mengenakan pakaian yang memang sengaja ia siapkan sudah lama untuk gadis berpipi tembam itu.

Seohyun memalingkan wajahnya, seakan enggan untuk bertatap muka dengan namja dihadapannya yang menurutnya adalah seekor monster.

“Sampai kapan kau akan terus menolakku seperti itu, Joohyun-ah?” tanya Luhan memegang dagu Seohyun sehingga manik mata mereka saling bertatapan. “Kau menatapku sebelah mata. Apa itu tak cukup membuatku sakit atas penolakanmu?”

“Jika kau ingin melihatku bahagia, tolong lepaskan aku. Kau tak bisa memaksaku untuk tetap berada disisimu.”

“Never! Aku tak akan pernah melepaskanmu, Joohyun-ah,” ucap Luhan mengalihkan perhatiannya menghadap tembok. “Kau tak tahu rasanya dibuang begitu saja oleh kedua orangtuaku karena aku mengalami sedikit gangguan jiwa dan dianggap aneh oleh teman-temanku sendiri. Mereka yang mengubahku seperti ini, dan tertawa diatas kesendirianku bahkan seolah-olah menutup matanya atas keadaanku. Cuma kau, Joohyun-ah, cuma kau yang bisa ku percaya saat ini. Kau yang tidak menganggapku sebelah mata dan aku tak mau kehilanganmu.” bahu Luhan bergetar setelah mengatakannya, membuat Seohyun sedikit prihatin atas yang selama ini dihadapi Luhan.

Greb…’

Luhan terdiam saat ia merasakan sesuatu memeluknya dari belakang. Sebuah pelukan yang selama ini ia cari. Pelukan hangat mampu membuatnya merasa lebih tenang.

“Joohyun-ah…”

“Aku… Aku sudah menerima perasaanmu, Luhan-ssi. Aku mengerti.”

© Storyline by Hyeri Choi ©

“Ck, dimana Seohyun sebenarnya?” gumam Sehun menghela nafasnya kasar. Hari ini ia kembali menyusuri kota Seoul bahkan hingga pinggiran kota Seoul pun sudah dicari olehnya. Untuk Seohyun seorang.

“Na eotteoke, Seohyun-ah? Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menemukanmu?” gumam Sehun mengaduk-aduk cangkir berisi kopi tanpa sedikitpun berminat untuk menyesapnya.

Sehun memperhatikan sekelilingnya. Café ini adalah saksi penyataan cintanya sebulan yang lalu. Dihadapan semua orang, ia mengutarakan cintanya kepada Seohyun teman sekelasnya yang menurutnya cukup manis dibanding siapapun bahkan Krystal yang terkenal paling cantik di kampus tempatnya menimba ilmu.

Ponsel Sehun sedikit bergetar, membuat Sehun melirik ke arah ponselnya. Ia mengerutkan dahinya melihat siapa yang menelponnya, ‘Jongin calling’.

Sehun lalu mengeser layar ponsel menekan tombol ‘Yes’ dan menempelkan ponselnya di telinga.

“Yeoboseyo?”

Yeoboseyo, Sehun-ah? Ah, akhirnya aku bisa menelponmu.”

“Ck, Jongin-ah, ada apa menelponku?”

Selalu saja kau to the point, bocah albino. Aku hanya ingin mengatakan, jika kemarin aku melihat Seohyun sebelum ia menghilang.”

Mata Sehun segera membulat mendengar ucapan Jongin di sambungan telepon.

“Dimana? Dimana kau melihatnya?”

Aku tak begitu yakin sebenarnya, namun aku melihat seorang namja berpakaian serba hitam dan berkulit pucat menariknya tepat di Halte Bus.

“Namja berpakaian serba hitam?”

Yeah, aku tak begitu yakin. Namun sepertinya aku mengenal sosok namja itu, entah berada dimana. Tapi aku yakin, dia adalah salah satu teman sekelas kita.

Sehun lalu menutup sambungan telepon setelah Jongin memutuskannya lebih dulu. Ia mengerutkan dahinya seraya menatap layar ponselnya.

“Siapa namja berpakaian hitam itu sebenarnya? Dan kenapa Jongin mengatakan jika ia seperti mengenal namja itu?”

© Storyline by Hyeri Choi ©

Seohyun hanya memandang kosong pemandangan yang terhampar di hadapannya. Sebuah pulau terpencil yang mungkin tak bisa di temukan oleh siapapun. Rupanya Luhan sudah memikirkan kemungkinan Seohyun akan lepas darinya, sehingga ia membawanya ke tempat ini.

Memang, Luhan sudah tidak mengurungnya di rumah lagi setelah Seohyun berulang kali memohon, namun Seohyun sama sekali tidak diperbolehkan untuk menjalani kembali aktivitasnya semula. Tidak sama sekali.

Entah apa yang dipikirkan Luhan sehingga memisahkannya dengan kerabat dekatnya, tapi Seohyun memang tahu pasti satu hal mengenai Luhan. Obsesi berlebihan kepadanya membuat namja itu menjadi sosok yang kejam. Bukankah ini sungguh ironis?

“Joohyun-ah…” suara seseorang memanggilnya membuatnya memaksa untuk menoleh ke arah asal suara yang sudah terasa familiar baginya. Luhan.

Seohyun hanya menoleh tanpa memperdulikan Luhan sedikit pun. Membuat Luhan berjalan mendekati Seohyun.

“Kau berubah…” ucap Luhan menatap dalam iris mata bening milik Seohyun. “Kau bukan seperti Joohyun-ku yang ku kenal, kau sama sekali tak tersenyum kepadaku seperti dulu.”

“Bukankah bagimu kehadiranku disisimu sudah cukup bagimu? Kau memiliki segalanya tentang diriku, sepenuhya sudah menjadi milikmu. Kurasa kau juga sudah memiliki senyumku, Luhan-ssi.” ucap Seohyun berbalik dan menendang ombak yang mencoba membasahi kakinya.

“Satu hal yang tak kumiliki, Joohyun-ah,” sahut Luhan melangkahkan kakinya dan berdiri tepat disamping gadis itu. “Hatimu. Aku sama sekali tak bisa memiliki hatimu, sekeras apapun aku mencobanya merebutmu dari Sehun.”

“Begitukah?” gumam Seohyun tersenyum miris.

“Kau ingin kembali ke Seoul?” tanya Luhan, membuat Seohyun menoleh menatap namja itu. Namun namja itu hanya memandang lurus lautan yang berada di hadapannya dengan tatapan kosong. “Apa kau ingin kembali ke Seoul?” tanyanya sekali lagi.

“Aku tahu sejak awal kemungkinan terburuk jika aku melakukan ini, sampai kapanpun mungkin aku tak bisa memiliki hatimu. Mungkin untuk selamanya,” Luhan menghela nafasnya pelan sebelum melanjutkan ucapannya. “Tapi aku terlalu mencintaimu, Joohyun-ah. Hanya kau yang menganggapku sama seperti orang lain, bahkan mengajakku berbicara. Membuatku buta akan segalanya selain keinginanku untuk memilikimu, aku tak bisa menyerah untuk mendapatkanmu.”

Luhan lalu menoleh dan menatap iris mata Seohyun dalam. Ada yang berubah dari sosok namja itu. Pandangan yang tajam dan dingin bagaikan es di kutub utara itu kini berubah menjadi tatapan yang hangat dan lembut.

“Bisakah kau satu hal berjanji kepadaku, Joohyun-ah? Saat kau kembali ke Seoul, bisakah kita memulai kisah kita berdua?” tanya Luhan.

Seohyun lalu menghela nafasnya pelan, ia lalu memberanikan diri menyentuh pipi Luhan, “Kau tahu Luhan-ssi, kupikir kau cukup tampan jika seperti ini. Aku cukup menghargai perasaanmu kepadaku. Tapi mianhae, aku belum bisa membalas perasaanmu.”

“Aku mengerti, Joohyun-ah. Aku cukup mengerti dengan posisiku,” ucap Luhan memegang pergelangan tangan Seohyun. “Aku akan menghilang dari kehidupanmu setelah ini. Sedikitpun aku tak akan menampakkan sosokku di hadapanmu. Tapi, kuharap saat aku muncul di hadapanmu lagi aku ingin kau bisa membalas perasaanku.”

© Storyline by Hyeri Choi ©

Seohyun menghela nafasnya pelan sembari mengetuk-ketukkan jari tangannya di permukaan meja. Seperti biasa, Sehun selalu terlambat di saat mereka berjanji akan bertemu.

Ya, Seohyun memang sudah kembali ke aktivitasnya semula. Luhan menepati janjinya untuk mengembalikan Seohyun ke Seoul dan menghilang dari hidupnya, sudah beberapa bulan ini namja itu sama sekali tak mengusik kehidupannya. Bahkan pembunuhan berantai yang menimpa teman-temannya pun sudah tak terdengar lagi. Rupanya Luhan benar-benar serius dengan ucapannya.

“Sorry I’m late, Seohyun-ah,” sosok yang telah ditunggu Seohyun yaitu Sehun akhirnya muncul setelah Seohyun menunggu di Cafe tempat Sehun mengutarakan perasaannya selama sekitar dua puluh menit. “Aku harus mengurus anggota tim basketku terlebih dulu. Kau tahu, cukup berat bagiku saat Jongin lebih memilih berpacaran dengan Krystal dibanding mengurus tim basket.”

“Yeah, aku mengerti Sehun-ah,” ucap Seohyun menganggukan kepalanya. Gadis itu lalu mengaduk-aduk cangkir berisi  Capucinno Latte miliknya yang tersedia dihadapannya. “Jadi, apa yang ingin kau katakan, Sehun-ah? Kau tahu, aku sampai membolos mata kuliah favoritku hanya untuk bertemu denganmu.”

Sehun hanya tersenyum kecil, “Haissh, putri kodok kalau begitu maafkan pangeranmu yang tampan ini sudah menganggu waktumu.” ucapnya setengah bercanda membuat Seohyun hanya memutar bola matanya malas.

“Ck, berhenti bersikap seperti itu Sehun-ah. Kau terlihat sangat menjijikkan jika seperti itu,” ucap Seohyun menghela nafasnya. “Jadi, apa yang ingin kau katakan Sehun-ah? Kau cukup membuang waktuku cukup lama.”

“Baiklah baiklah,” Sehun lalu menghela nafasnya pelan sambil berdiri. “Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.”

Belum sempat Seohyun menjawab, Sehun sudah menghilang dari pandangan pergi membuat Seohyun menghela nafasnya pelan.

Seohyun lalu memperhatikan sekelilingnya. Suasana Cafe terlihat cukup sepi karena waktu belum memasuki jam makan siang, sehingga hanya beberapa kursi yang terisi. Gadis itu lalu menoleh ke arah jendela kaca yang berada di sampingnya, namun matanya membulat saat ia melihat sosok seseorang yang sangat ia kenal menatapnya di seberang jalan dengan tatapannya yang khas. Luhan, menatap lurus dirinya dari seberang jalan.

Masih terngiang dengan jelas ucapan Luhan dalam benaknya, ia akan kembali suatu hari nanti.

“Seohyun-ah, maaf sudah lama menunggu,” suara Sehun membuatnya tersadar dan mengalihkan pandangannya. Sehun berdiri di hadapannya dengan setangkai bunga mawar merah.

“Aku tak yakin kau menyukai mawar merah atau tidak,” ucap Sehun mengacak rambutnya asal. “Tapi ini untukmu.” lanjutnya menyodorkan bunga itu di hadapan Seohyun.

Seohyun kemudian menerima bunga itu, namun matanya membulat saat melihat sebuah cincin turun melalui tangkainya, “Ini…”

Sehun lalu berjongkok di hadapan Seohyun sambil tersenyum, “Kau tahu, aku cukup berantakan saat kau menghilang beberapa bulan yang lalu. Bahkan aku tak sanggup menemukan warna selain hitam dan putih tanpamu di sisiku. You’re my sunshine, Seohyun-ah. Kali ini, aku tak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya. Would you marry with me?” ucapnya mengenggam kedua tangan Seohyun.

“Se-sehun? Kau serius dengan ucapanmu?”

Namja berkulit putih pucat itu segera menganggukan kepalanya, “Aku serius dengan ucapanku, Seohyun-ah.”

“A-aku…” ucap Seohyun terbata-bata, ia sedikit menundukkan kepalanya. “Aku mau, Sehun-ah. I do.” ucap Seohyun menatap Sehun, senyuman penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya membuat Sehun segera memeluk gadis itu dalam dekapannya.

Jauh dari mereka berdua, Luhan menatap semua itu dari kejauhan. Tangannya mengepal sebagai sebuah bentuk untuk mengekspresikan suasana hatinya. Luhan memang menepati janjinya untuk tidak mengusik Seohyun lagi, namun itu bukan berarti sepenuhnya ia menghilang dari kehidupan Seohyun. Mengamati Seohyun dari kejauhan sebagai bayangan adalah rutinitas Luhan saat ini. Dan kini, ia tahu kapan ia harus kembali memasuki kehidupan Seohyun untuk merebutnya kembali.

“Kau akan menyesal mengambil sesuatu yang telah menjadi milikku, Sehun-ssi. Dan kau Joohyun-ah, kau akan segera kembali kepadaku untuk selamanya.” gumam Luhan memutar kunci starter mobil miliknya dan melaju membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan tinggi.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Seohyun menghela nafasnya pelan keluar dari lift menuju apartemennya yang berada di lantai sepuluh. Cukup lelah memang hari ini baginya menghabiskan waktu dengan kekasihnya —mungkin lebih tepatnya calon suaminya—, namun semua itu cukup terbayar dengan tingkah Sehun yang sangat baik sebagai seorang kekasih.

Seohyun lalu memasukkan password  apartemennya dan memutar kenop pintu, namun ia menyipitkan matanya menyadari sebuah surat berada di kotak suratnya.

“Apa itu?” gumam Seohyun meraih amplop berwarna hitam itu dan membolak-baliknya. Cukup aneh memang, mengingat warna hitam dimitoskan sebagai warna kesialan atau sebuah dendam.

Seohyun lalu membuka lem amplop itu dan menemukan sebuah surat yang terlipat rapi di dalamnya.

Aku akan kembali ke kehidupanmu suatu hari nanti untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, dan saat itulah kau tak akan bisa pergi dariku.

Mata Seohyun membulat selesai membacanya. Hanya ada satu orang yang merupakan kemungkinan terbesar pengirim surat ini. Luhan. “Tidak mungkin… Ia… kembali?” gumam Seohyun tertahan, namun bulu kuduknya berdiri saat ia merasakan pandangan tajam menatapnya. Seohyun segera menoleh ke kanan dan kiri, namun nihil. Hanya ada dirinya. Membuat Seohyun masuk ke dalam apartemennya dengan tergesa-gesa.

Seohyun segera mengatur nafasnya yang memburu setelah menutup pintu apartemennya, adrenalinnya bereaksi mengatakan ia kembali berada dalam bahaya. Ya, bahaya dari seorang namja bernama Luhan. Namja psikopat itu telah kembali.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Tanpa terasa, pernikahan Sehun dengan Seohyun akhirnya tiba. Hari ini mereka akan mengucapkan janji sakral di Altar Gereja. Seohyun pun tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya akan bersanding bersama namja yang dicintainya, Oh Sehun.

Dengan berbalut gaun penggantin berwarna putih yang didesain cantik dan menjuntai hingga menutupi mata kakinya, Seohyun memasuki ruangan gereja dengan mantap.

Namun, raut wajah Seohyun berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat pemandangan yang tertangkap di indra pengelihatannya membuat kakinya melemas bahkan buket bunga yang dibawanya hingga jatuh ke lantai tanpa sanggup membuatnya berkata-kata.

Darah yang mengalir bagaikan air, dan banyak orang yang dikenalnya lunglai bahkan hingga terjatuh ke lantai. Bisa dipastikan mereka mungkin telah meninggal.

Seohyun segera berlari menuju Altar Gereja, ia harus memastikan kondisi Sehun namun langkahnya terhenti saat melihat sosok yang dikenalnya terjerembab di lantai dengan darah yang mengalir di dadanya.

“Bukankah sudah ku bilang sejak awal, Joohyun-ah?” langkah kaki terdengar mengiringi suara kaki seorang namja dengan pakaian yang serba hitam dan berdiri tepat di belakang Seohyun. “Aku akan kembali untuk merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”

Seohyun tidak bergeming dengan apapun yang dikatakan Luhan, namja yang berada di belakangnya saat ini. Hatinya cukup terpukul melihat sosok yang dicintainya telah tiada.

Merasa kesal telah diabaikan Seohyun, Luhan menarik rambut Seohyun dan membuat mereka bertatap satu dengan lain. “Kau, seharusnya kau yang menjadi milikku bukan miliknya dan aku harus memusnahkan orang-orang yang menjadi penghalang bagiku.” ucapnya disertai dengan suara tawa yang jahat.

“Haaaahhhh… Haaaaah…”

Seohyun segera terbangun dengan peluh yang membasahi tubuhnya, rupanya semua itu hanya mimpi. Mimpi yang terlihat sangat nyata.

Seohyun lalu menoleh ke arah jam meja digital yang berada di meja nakas disampingnya. Pukul 2.00 A.M. Tubuhnya bergetar kembali mengingat mimpi yang baru saja dilihatnya. Masih terbayang dengan jelas saat ia melihat Sehun dalam keadaan tak bernyawa dengan darah yang mengalir di dadanya mengotori jas berwarna putih yang dipakainya. Ia memegang lutut kakinya dan menenggelamkan kepalanya, meringkuk dengan posisi terduduk.

Baginya, ini seperti teror yang tak akan berakhir. Menerornya dengan teror psikis yang mungkin sanggup akan membunuhnya secara perlahan. Entah, bagaimana cara ia mengakhiri neraka yang tak berakhir ini dan bagaimana dia bisa lepas dari cengkraman Luhan.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Sehun menghela nafasnya pelan saat ia melihat kondisi Seohyun saat ini. Begitu ia mendapat pesan dari Seohyun yang menyuruhnya untuk ke apartemennya, namja berambut coklat hazelnut itu segera menuju ke tempat Seohyun berada dengan segudang rasa penasaran.

“Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu Seohyun-ah?” tanya Sehun mendekap gadis dalam pelukannya erat seolah tak ingin kehilanganmu seinci pun.

Seohyun hanya menggelengkan kepalanya, membuat Sehun menghela nafasnya pelan. Seohyun memang seperti ini, selalu mencoba menutupi apapun yang menimpanya dengan rapat. Ia tak ingin semua orang khawatir dengan keadaannya.

“Kumohon Seohyun-ah, tolong katakan padaku. Apa yang terjadi denganmu sampai kau terlihat ketakutan seperti ini?” tanya Sehun melepas dekapannya dan mencengkram bahu Seohyun. Tatapannya yang tajam menatap Seohyun dalam seolah meminta penjelasan. “Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi beberapa bulan yang lalu saat kau menghilang? Kumohon Seohyun-ah, aku ingin kau menjelaskan semuanya kepadaku.”

Seohyun menggelengkan kepalanya, “Sehun-ah, kumohon aku ingin bersamamu sampai kapanpun. Itu adalah satu-satunya permintaan dariku.” ucapnya lirih.

Sehun lalu menghela nafasnya pelan dan menganggukan kepalanya, dibawanya gadis itu ke dalam pelukannya. Meski ia tak tahu apa yang terjadi dengan Seohyun, ia tahu keberadaannya saat ini cukup berarti bagi gadis itu. Ya, gadis itu membutuhkannya untuk melindungi sesuatu yang mengancam keselamatan Seohyun.

“Aku akan bersamamu sampai kapan pun, Seohyun-ah,” ucap Sehun seraya mengusap kepala Seohyun lembut. “Aku berjanji.”

© Storyline by Hyeri Choi ©

Angin malam berhembus pelan menerjang tubuh seseorang yang berdiri di balkon rumah di lantai dua, menerbangkan helaian rambutnya dan kemeja putih yang dikenakannya berkibar dengan bebas. Luhan, menatap lurus pemandangan kota Seoul yang berada di hadapannya.

Sekitar seminggu lagi adalah pernikahan Sehun dengan Seohyun, ia memang telah menyiapkan sebuah rencana untuk merebut Seohyun. Sebuah rencana terakhir yang ia tak ingin lakukan kalau bisa, namun hanya ini satu-satunya cara yang ada.

“Joohyun-ah, setelah ini kau akan bersatu denganku tanpa bisa dipisahkan siapapun.” gumam Luhan mengulas senyuman miring yang penuh arti.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Seohyun sedikit gugup hari ini, ini adalah hari yang bersejarah baginya. Setelah ini, ia akan resmi menyandang status sebagai Nyonya Oh dan menjadi istri Sehun yang sah secara hukum.

Tok… Tok… Tok…’

Seseorang mengetuk pintu ruangan menbuat Seohyun menoleh, ia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu untuk membukanya.

‘Perasaan apa ini?’ batin Seohyun mengatakan sebuah firasat buruk akan menimpanya jika ia membuka pintu itu. Entah siapa yang berada dibalik pintu.

“Nona, saya utusan Tuan Muda Sehun untuk menjemput anda menuju Gereja sekarang juga.” ucap seseorang yang berada dibalik pintu, membuat Seohyun teringat akan pesan yang baru dikirimkan kekasihnya beberapa menit yang lalu.

Mungkin hanya halusinasiku semata. Tidak mungkin Luhan memanipulasi pesan dari Sehun dan atau dia mengetahui rencana Sehun.’ batin Seohyun mengendikkan bahunya dan memutar kenop pintu. Terlihatlah seorang pria berpakaian tuxedo layaknya seorang supir untuk wedding car.

“Mari ikut saya, Tuan Muda Sehun sudah menunggu.” ucap pria itu sambil berlalu di depan, membuat Seohyun segera mengekorinya dari belakang.

“Er… Ahjussi…” ucap Seohyun membuka suaranya. Membuat pria itu menghentikan langkahnya.

“Ya? Ada apa, Nona?” tanya pria itu sopan.

“Ini bukan jalan menuju basement, kan?” tanya Seohyun menyadarinya. Seingatnya, ini adalah tempat menuju pintu keluar belakang apartemen tempat ia tinggal.

“Lalu siapa kau— hmmmfffhhhh hmffffhhhh…” belum sempat Seohyun melanjutkan ucapannya, pria itu segera membekap mulut Seohyun dengan sapu tangan yang telah dilumuri obat bius. Membuat Seohyun secara perlahan kehilangan kesadarannya.

Pria itu lalu membuka penyamarannya, sebuah kacamata dan kumis palsu di lepasnya dan dibuangnya ke sembarang tempat. Menampakkan seseorang yang tersenyum puas melihat rencana yang telah disusunnya telah berhasil. Luhan.

“Kau terlihat cantik seperti biasanya, Joohyun-ah,” gumam Luhan menyentuh pipi Seohyun yang merona pink seperti buah ceri. “Dan kali ini, aku tak ingin membiarkanmu pergi menjauh dariku untuk kedua kalinya.”

© Storyline by Hyeri Choi ©

Sehun terduduk cukup lemas saat ia mendapatkan kabar jika Seohyun kembali menghilang.

“Tidak mungkin,” Sehun menyenderkan kepalanya di tembok. “Tidak mungkin Seohyun menghilang. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi dengannya.”

“Maaf Tuan Muda,” seorang pria memberanikan diri membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu. “Tuan Shin telah ditemukan tak bernyawa dengan keadaan peluru pistol yang menembus jantungnya di Basement tempat nona Seohyun tinggal. Kami juga menemukan surat ini di kantung pakaian milik Tuan Shin.”

Sehun segera meraih surat itu dengan kasar, kertas dengan bercak merah seperti darah. Sepertinya itu adalah darah milik Tuan Shin yang meninggal akibat seseorang yang tak dikenal saat menjemput Seohyun.

Aku hanya mengambil sesuatu yang menjadi milikku, Oh Sehun. Kekasihmu, Seo Joohyun, adalah satu hal kecil yang seharusnya menjadi milikku dan kau merebutnya dariku. Nikmatilah penderitaanmu di sisa hidupmu saat ini.

— Luhan —

Mata Sehun membulat saat melihat nama yang tertera di surat itu. Luhan, nama yang sangat familiar di benaknya.

“Tidak mungkin… Si kutu buku itu…” gumam Seohyun menyandarkan punggungnya di tembok tak percaya dengan suatu kenyataan yang ia tahu.

Ia ingat, Luhan adalah nama kutu buku yang selama ini dibully-nya. Luhan adalah salah satu temannya dimasa sekolah dulu, dan ia ingat saat Seohyun menghilang sang kutu buku itu langsung menghilang entah kemana. Banyak yang bilang jika si kutu buku itu mengundurkan diri akibat tak tahan dibully namun rumor yang berkembang adalah sang kutu buku itu sama sekali tak terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tempatnya menimba ilmu.

© Storyline by Hyeri Choi ©

Luhan tersenyum miris menatap jalanan di hadapannya, sesekali ia menatap Seohyun yang masih tak sadarkan diri di kursi penumpang depan di sampingnya akibat pengaruh obat bius. Mobil melaju menuju jalur pegunungan yang cukup curam dan terpencil. Merupakan suatu tempat yang cocok bagi Luhan untuk melaksanakan rencananya.

“Kau tahu, Joohyun-ah,” ucap Luhan membuka suaranya seolah Seohyun mampu mendengarnya. “Mungkin kau bisa bilang aku ini sudah tak waras lagi saat aku melakukan ini. Mungkin aku bisa dibilang gila,”

“Tapi hanya ini cara yang ada untuk tetap bersama tanpa dipisahkan siapapun, mianhae aku terpaksa melakukan ini. Melibatkanmu ke dalam dosa-dosa yang telah kulakukan.” ucap Luhan menghela nafasnya.

Namja itu kemudian menoleh ke kursi penumpang bagian belakang, terdapat sebuah mesin aneh dengan penghitung waktu mundur berbentuk digital dengan kabel kecil berwarna-warni.

Luhan tersenyum saat layar menunjukkan angka mundur lima menuju nol. Ia lalu memegang tangan Seohyun.

“Kita akan bersama selamanya, Joohyun-ah… Aku berjanji…” ucapnya menutup matanya.

Dan mobil yang ditumpangi mereka berdua meledak akibat ledakan bom yang berada di kursi penumpang belakang…

END

A/n : annyeong ~ akhirnya selesai juga FF ini fiuh, entah ini masuknya ke tema blog acebaby bulan ini atau enggak tapi setidaknya aku udah usaha buat bikin FF ini ^_~ mian jika adegan pembunuhannya enggak aku jelasin karena jujur aku bingung u,u membayangkannya aja aku udah ngeri tolong (?) Jadi maaf ini fail banget .-. RCL seikhlasnya ^_~

Advertisements

28 thoughts on “Blind

  1. Bkin sequelnya dong, bkin mereka selamat lalu seohyun hilang ingatan yg membuat luhan jdi senang akan keadaan tsb hehehe saran thor. Plis lanjutin 😦

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s