MY ENEMY, MY FIANCE (PART 11)

Title : My Enemy, My Fiance (Part 11)
Author : Eka Oktavia (Kim Tae Rin)
Main Cast :
– Seohyun ‘SNSD’
– Luhan ‘EXO’
– Chorong ‘A Pink’
– Myungsoo/L ’Infinite’
Other Cast : find it by yourself
Genre : Romance, friendship, family
Pairing : SeoHan
Lenght : chapter
Author’s note : Gak tau deh ntar cerita ini jadinya bagus atau enggak. Tapi tetep dibaca aja ya kalo ceritanya agak-agak gaje. Maaf juga kalo banyak typo. Luhan & Kris udah gak di EXO. Jessica udah gak di SNSD. Tapi aku tetep masukin mereka di FF ku. Tetap semangat ya Acebaby meskipun SeoHan moment udah gak ada. Kalo banyak yang mulai ninggalin Acebaby atau berhenti nulis FF, silahkan aja. Tapi aku tetap setia sama Acebaby, sama, SeoHan, dan tetap nulis FF SeoHan. Biarpun SeoHan gak jodoh, aku tetap setia. Kalo ntar masing-masing udah punya namjachingu/yeojachingu, aku juga tetep support SeoHan, support Seohyun sama namjachingunya, dan support Luhan sama yeojachingunya. Oke deh, author gak perlu banyak berkicau lagi. Happy reading~ BANYAK SEDIKITNYA COMMENT DAN LIKE KALIAN, BISA MEMPENGARUHI SEMANGAT AUTHOR BUAT LANJUT FF INI ^_^

DON’T FORGET for RCL
AND
DON’T BE PLAGIAT

Prev.
Selama beberapa saat Luhan berusaha meredakan amarahnya. Setelah dia sedikit tenag, Keliama temannya melepaskan Luhan.
“Sekali lagi ku ingatkan padamu, jangan pernah kau mendekati atau pun menyentuh Seohyun!”
Luhan pun meraih tangan Seohyun dan membawa yeoja itu pergi. Luhan membawa Seohyun menuju halaman depan, dimana mobilnya terparkir. Seohyun berusaha melepaskan diri saat Luhan membawanya keluar dari gedung sekolah.
“Oppa, lepaskan. Kau mau membawaku kemana?”
Luhan tidak menjawab. Namja itu terus membawa Seohyun menuju mobilnya.
“Oppa, kita mau kemana? Sebentar bel masuk berbunyi” ujar Seohyun tetap sambil berusaha melepaskan.
Luhan tetap diam dan semakin mempercepat langkah. Saat sampai di dekat mobil, namja itu segera membuka pintu penumpang dan mendorong Seohyun masuk ke dalam. Setelah menutup pintu Luhan segera berlari ke sisi lain dan masuk ke dalam.
“Oppa, kita mau kemana? Kita masih harus mengikuti pelajaran. Ak-“
CHU~
Luhan mencium Seohyun. Membungkam bibir yeoja itu untuk tidak terus berbicara. Sementara Seohyun terkejut dengan apa yang dilakukan Luhan. Tiba-tiba saja namja itu menciumnya. Mengambil first kiss-nya. Setelah beberapa saat Luhan baru melepaskan ciumannya.
“Lebih baik kau diam dan ikut saja denganku” ujar Luhan.
Luhan pun menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya keluar dari halaman SHS. Sementara Seohyun masih terdiam dan tidak berusaha untuk protes lagi pada Luhan. Dia akan mengikuti kemana namja itu membawanya pergi.

-My Enemy, My Fiancee-

Luhan membawa Seohyun menuju sungai Han. Namja itu pun turun dari mobil dan Seohyun mengikutinya. Selama beberapa menit keduanya tetap terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Seohyun pun memutuskan untuk membuka suara.
“Mmm… oppa, bagaimana kalau kita kembali ke sekolah?” tanya Seohyun hati-hati sambil menatap Luhan.
Begtiu Seohyun selesai bicara, yeoja itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari namja di sampingnya. Seohyun sedikit takut saat melihat tatapan Luhan. Yeoja itu pun memilih untuk diam dan mengalihkan pandangannya menuju sekelilingnya. ‘Aish, kenapa namja ini membawaku kemari? Aku ingin kembali ke sekolah’ batin Seohyun. Suasana hening kembali menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara deru angin yang menerpa keduanya.
“Seohyun-ah” panggil Luhan, memecah keheningan diantara mereka.
“Ne?”
“Ada yang ingin kukatakan padamu”
Belum sempat Seohyun bertanya pada Luhan, ponselnya berbunyi di saku seragamnya menandakan ada panggilan masuk. Yeoja itu pun mengeluarkan ponselnya. Nama ‘sehun oppa’ tertera di layar ponselnya. Seohyun hendak menjawab panggilan tersebut, tetapi tangan Luhan menahannya.
“Jangan” cegah Luhan.
“Wae?” tanya Seohyun bingung.
“Jangan banyak bertanya. Ikuti saja kata-kataku” jawab Luhan kemudian menjauhkan tangannya.
Seohyun hanya bisa menuruti perintah Luhan. Dia pun membiarkan ponselnya. Tidak lama kemudian ponselnya berhenti berbunyi. Tapi, detik berikutnya ponsel tersebut kembali berbunyi. Luhan pun mengambil ponsel Seohyun. Namja itu menolak panggilan tersebut dan menonaktifkan ponsel Seohyun. Dia menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada sang pemilik. Luhan beralih mengambil ponselnya dan menonaktifkan ponselnya.
Sementara itu, Sehun yang panggilannya tidak mendapat respon –bahkan ditolak- hanya menggerutu kesal. Namja itu kembali mencoba menghubungi ponsel Seohyun, tetapi tidak aktif. Sehun beralih menghubungi ponsel Luhan. Hasilnya sama, tidak aktif. Dia mengerang frustasi.
“Argh, kenapa ponsel mereka mati? Kemana Luhan membawa Seohyun pergi?” tanya Sehun frustasi.
“Sudahlah, pulang sekolah nanti kita ke rumah mereka saja” ujar Minhyuk.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Luhan oppa membawa Seohyun pergi?” tanya Krystal.
“Benar, sebenarnya ada apa? Dan kudengar tadi Luhan memukul namja baru itu, si L” ujar Baekhyun.
“Yeah, Luhan memang memukul L” ujar Kris.
“Jinjja?” tanya yang lain.
“Kenapa Luhan memukulnya?” tanya Tiffany.
“Karena sepertinya dia cemburu melihat Seohyun bersama namja itu” jawab Kai.
“Cemburu?” tanya Yoona heran.
“Ne, dia cemburu. Karena dia melihat L hampir……… mencium Seohyun” jawab Tao.
“MWO???”
“Jinjja? L hampir mencium Seohyun?” tanya Sehun tidak percaya.
“Ne. Luhan sangat marah saat melihatnya dan langsung memukul L” jawab Kyungsoo.
Sepertinya dia benar-benar mulai jatuh cinta pada Seohyun” ujar Suho dan mendapat anggukan kepala dari yang lain setuju dengan apa yang diucapkannya.
“Lebih baik kita kembali ke kelas, sebentar lagi masuk. Jangan lupa sepulang sekolah kita ke rumah Seohyun dan Luhan” lanjut Suho.
Sementara itu, suasana sunyi kembali menyelimuti Seohyun dan Luhan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Oppa, kau bilang ada yang ingin kau katakan padaku” ujar Seohyun memecah keheningan diantara mereka.
“Ah, itu. Aku…”
“Oppa kenapa?”
“Ani, tidak jadi. Aku lupa apa yang ingin aku katakan padamu” ujar Luhan berbohong.
Bohong. Ya, apa yang dikatakan barusan itu sebuah kebohongan. Sebenarnya dia tidak lupa dengan apa yang ingin dia katakan pada Seohyun. Hanya saja dia belum berani mengatakannya sekarang. Dia harus memastikan sekali lagi sebelum mengatakannya.
“Ah, sebaiknya kita pulang saja” lanjut Luhan.
“Pulang? Kenapa tidak kembali ke sekolah saja?”
“Aku tidak ingin kesana”
“Kalau begitu turunkan aku saja di sekolah dan oppa pulang sendiri” ujar Seohyun yang langsung mendapatkan death glare dari Luhan.
“Aish, baiklah. Aku akan pulang bersama oppa” lanjut Seohyun saat menyadari tatapan Luhan.
Mendengar perkataan Seohyun, Luhan merasa senang. Namja itu tersenyum tipis. Sayangnya Seohyun tidak menyadari hal itu. Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah mereka.

-My, Enemy, My Fiance-

Sebelum pulang Luhan mengajak Seohyun berjalan-jalan di sebuah mall dan makan siang di salah satu restoran yang ada di sana. Keduanya sampai di rumah tepat pukul 2 siang. Begitu pintu tertutup dan terkunci, mereka menuju kamar masing-masing. Sebelum memasuki kamar, Luhan berpesan pada Seohyun untuk tidak mengganggunya karena dia ingin istirahat dan menyuruh yeoja iu membangunkannya pukul 5 sore.
Sementara Luhan sedang tidur, Seohyun hanya menonton televisi di ruang tengah. Yeoja itu mencoba mencari acara televisi yang menarik, tapi setelah beberapa kali mengganti-ganti channel tidak ada satu pun acara televisi yang menarik perhatiannya. Akhirnya dia pun mematikan televisi itu.
“Ah, aku bosan” erang Seohyun frustasi.
Yeoja itu melihat sekelilingnya. Pandangannya jatuh pada jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 3 sore.
“Lebih baik aku membersihkan rumah saja. Lagipula kenapa Luhan oppa justru membawaku pulang ke rumah? Lebih baik aku berada di sekolah” gerutu Seohyun kemudian berdiri dari sofa yang di dudukinya dan siap untuk membersihkan rumah ini.
Seohyun mulai sibuk membersihkan rumah. Mulai dari halaman depan, ruang tamu, ruang tengah, ruang santai di lantai 2, dapur, dan halaman belakang. Meskipun rumah yang ditempatinya lumayan besar, tapi yeoja itu sanggup membersihkannya sendiri. Selama hampir 2 jam Seohyun membersihkan rumah tersebut. Dia istirahat sebentar setelah semuanya selesai. Begitu rasa lelahnya mulai menghilang, yeoja itu berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan kemudian membangunkan Luhan.
Begitu Seohyun selesai mandi, dia pun menuju kamar Luhan. Dengan perlahan yeoja itu membuka pintu kamar Luhan. Kemudian dia masuk dan berjalan mendekati tempat tidur Luhan.
“Oppa, ireona” ujar Seohyun.
Luhan sama sekali tidak bergerak.
“Oppa”
Luhan tetap saja tidak bergerak. Seohyun mendengus kesal.
“Aish, oppa ireona” ujar Seohyun sekali lagi, kali ini dengan mengguncangkan tubuh Luhan.
“Argh, shireo” ujar Luhan kemudian menarik selimutnya lebih ke atas sehingga menutupi seluruh tubuhnya.
“Oppa, ireona” paksa Seohyun sambil menyibak selimut Luhan dan duduk di sisi kanan tempat tidur.
“10 menit lagi”
“Tidak bisa. Oppa harus bangun sekarang, sudah sore. Ireona”
Luhan tetap saja menolak untuk bangun. Sedangkan Seohyun terus berusaha membangunkan Luhan. Yeoja itu terus mengguncangkan tubuh Luhan agar namja itu bangun. Tiba-tiba saja Luhan memegang tangan Seohyun dan menariknya, sehingga membuat yeoja itu jatuh di atas tubuh Luhan. Seohyun terkejut dengan apa yang dilakukan Luhan. Keduanya saling menatap. Detik berikutnya, Luhan segera berguling ke sisi kiri sehingga dirinya berada di atas Seohyun.
“Kau.. beraninya kau mengganggu waktu tidur. Kenapa kau membangunkanku?”
“Bu.. bukankah oppa yang me… menyuhku untuk me.. membangunkan oppa pu… pukul 5… sore?”
“Benarkah?”
Seohyun menganggukan cepat.
“Tapi tetap saja kau mengangguku. Bukankah aku meminta waktu 10 menit lagi?”
“Iapi-“
“Aku harus menghukummu” ujar Luhan sambil mengeluarkan smirk-nya.
“M… mwo?”
Luhan pun mendekatkan wajahnya pada wajah Seohyun. Yeoja itu ingin sekali menghindar dari Luhan tapi dia tidak bisa bergerak. Akhirnya dia pun hanya bisa menutup matanya. Semakin lama hembusan nafas Luhan semakin terasa menerpa wajah Seohyun. Sementara Seohyun semakin menutup matanya rapat-rapat dan….
.
.
.
.
.
.
“OMO! YA~ APA YANG KALIAN LAKUKAN??”
Sebah teriakan mengagetkan Seohyun dan Luhan. Keduanya pun menoleh ke asal suara dan melihat Baekhyun telah berdiri di dalam kamar Luhan. Di belakang namja itu ada SNSD, EXO, Minhyuk, Luna, Sulli, dan Krystal yang terlihat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Seohyun menyadari posisinya saat ini segera mendorong Luhan agar menjauh darinya. Yeoja itu segera bangun dan berdiri sedikit menjauh dari tempat tidur. Dia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Luhan pun ikut berdiri dan menatap teman-temannya dengan kesal.
“Kenapa kalian disini? Kenapa kalian bisa masuk ke dalam?” tanya Luhan.
“Wae? Memangnya kami tidak boleh kesini? Dan kami bisa masuk ke dalam karena pintu depan tidak terkunci” jawab Kris.
“Tapi waktu kalian sangat tidak tepat” gerutu Luhan.
“Apa kau bilang???” tanya Yoona dan Sooyoung yang mendengar gerutuan Luhan
“Ani, aku tidak bilang apa-apa. Lebih baik sekarang kalian keluar dan tunggu di bawah. Aku ingin mandi dulu”
Mendengar perkataan Luhan, Seohyun bergegas keluar dari kamar dan diikuti yang lainnya. Yeoja itu menyuruh yang lain untuk menunggu di ruang tengah sementara dirinya membuat minuman di dapur. 20 menit kemudian Luhan bergabung dengan yang lain. Namja itu kemuf=dian duduk di samping Seohyun.
“Ya~ apa yang kalian lakukan tadi di dalam kamar?” tanya Baekhyun.
“Bukan urusan kalian” jawab Luhan.
“Apa… kalian ingin melakukan ‘itu’?” tanya Tao yang langsung mendapatkan death glare dari Luhan.
“Hah! Kalian ini belum menikah. Kalian hanya baru bertunangan saja” ujar Tiffany.
“Tapi jika kalian ingin melakukannya sekarang juga tidak apa-apa” ujar Kai.
“Berhenti kalian. Sudah ku bilang itu bukan urusan kalian. Dan lebih baik buang jauh-jauh pikiran kotor kalian!” ujar Luhan saat dia melihat wajah Seohyun memerah karena malu.
“Aigoo, lihatlah. Wajah Seobaby memerah. Hahaha, jadi kalian benar-benar akan melakukannya” goda Yoona membuat yang lain tertawa –minus SeoHan-.
“Kalau kalian tidak bisa berhenti, lebih baik pulang saja”
“Kau mengusir kami, Lu? Tega sekali kau pada kami” ujar Chen.
“Kalau begitu lebih baik kalian berhenti. Atau aku akan mengusir kalian dan tidak akan mengijinkan kalian untuk datang kemari” ancam Luhan.
“Baiklah, baiklah, kami berhenti” ujar Minhyuk.
“Sekarang katakan padaku, kenapa kalian kemari?”
“Kami khawatir denganmu dan Seohyun. Tiba-tiba saja kau membawa Seohyun pergi dari sekolah. Kalian sama sekali tidak menjawab telepon dariku dan kemudian ponsel kalian mati saat aku mencoba menghubungi kalian lagi” ujar Sehun.
“Kemana saja kalian?” tanya Jessica.
“Kalian tidak perlu tahu kemana kami pergi. Sekarang kalian sudah melihat sendiri bahwa kami baik-baik saja. Lebih baik kalian pulang ke rumah masing-masing”
“Kau mengusir kami?” tanya Taeyeon.
“Ani, aku hanya menyuruh kalian pulang”
“Itu sama saja pabo” ujar Xiumin sambil memukul kepala Luhan pelan.
“Baiklah, kami akan pulang” ujar Suho.
“Tapi ingat, jangan berbuat macam-macam pada Seohyun” lanjut Yoona.
“Aku bukan orang jahat Yoong. Sudahlah, cepat kalian pulang”
Mereka pun pamit pada Seohyun dan Luhan. Keduanya mengantar teman-temannya sampai ke depan.
“Seohyun-ah, tas dan buku-bukumu sudah aku letakkan di kamarmu” ujar Sulli.
“Eoh? Gomawo Sulli-ya. Apakah ada tugas dari seongsaenim?”
“Tidak ada”
“Hyunnie, kami pulang dulu” pamit Yuri.
“Ne unnie, hati-hati”
Begitu mereka pergi, Luhan segera menutup dan mengunci pintu depan. Sementara itu, Seohyun sibuk membersihkan gelas-gelas kotor. Luhan menghampirinya.
“Biar ku bantu” ujar Luhan kemudian mengangkat gelas-gelas tersebut.
“Ah, tidak perlu. Aku bisa melakukannya” tolak Seohyun.
“Aku tidak menerima penolakan. Jadi aku akan membantumu”
Seohyun pun membiarkan Luhan membantunya. Namja itu membawa gelas-gelas tersebut ke dalam bak pencuci piring. Seohyun kemudian mencuci gelas-gelas tersebut dan Luhan meletakkan gelas-gelas yang telah di cuci ke sebuah rak. Selesai mencuci gelas, Seohyun pun berniat memasak untuk makan malam mereka.
“Oppa, aku… akan memasak untuk makan malam. Lebih baik oppa menunggu di ruang tengah saja” ujar Seohyun.
“Ani, aku akan membantumu”
“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Kalau makanannya sudah siap, aku akan memanggil oppa”
“Baiklah, terserah kau. Tapi kau harus membuat masakan yang enak” ujar Luhan dan dibalas anggukan kepala oleh Seohyun.
Luhan pun berjalan menuju ruang tengah. Namja itu duduk di sofa dan menyalakan televisi. Sementara itu, Seohyun sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk mereka. Yeoja itu memasak ddeokbokki, cream spageti, dan juga egg roll. Karena hanya untuk dua orang dia memasak secukupnya saja.
Setelah kurang lebih 45 menit Seohyun memasak, akhirnya makan malam untuk dirinya dan Luhan telah siap di meja makan. Yeoja itu kemudian memanggil Luhan untuk makan malam. Keduanya pun makan dalam diam. Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Setelah selesai makan, kembali Luhan membantu Seohyun membersihkan piring dan juga gelas kotor.
“Mmm, aku masuk ke kamar dulu” ujar Seohyun setelah selesai dengan pekerjaanya.
Seohyun pun segera berlalu dari hadapan Luhan. Sementara itu, namja itu justru tersenyum melihat sikap Seohyun. Dia sangat tahu bahwa Seohyun berusaha menghindar dari dirinya karena kejadian di kamar Luhan tadi sore. Akan tetapi, Luhan justru senang melihatnya. Menurutnya, Seohyun terlihat lucu.

-My Enemy, My Fiance-

Sabtu pagi yang cerah. Terlihat Luhan telah bersiap dengan menggunakan celana pendek selutut dan kaos berwarna putih. Tidak lupa ransel hitam yang tengah dibawanya yang kemudian dimasukkan ke dalam mbil sport miliknya. Hari ini sekolah libur, tetapi Luhan harus pergi menuju lapngan sepak bola sekolah karena dia bersama EXO dan Minhyuk berjanji untuk bermain bola bersama.
“Mmm, oppa” panggil Seohyun.
“Wae?”
“Apa oppa sampai siang?”
“Sepertinya begitu. Wae?”
“Ah, ani. Aku hanya ingin bilang kalau nanti aku akan pergi bersama Krystal, Sulli, dan Luna. Apa aku boleh pergi?”
“Tentu saja boleh. Aku tidak mau kau merasa bosan jika terus-terusan di rumah” ujar Luhan sambil mengacak-acak rambut Seohyun membuat yeoja itu mem-poutkan bibirnya.
“Jangan mengacak-acak rambutku” ujar Seohyun kemudian merapikan rambutnya.
“Mianhae. Kau boleh pergi, tapi dengan satu syarat”
“Apa?”
“Jangan pulang terlalu malam dan hubungi aku jika ada apa-apa. Arraseo?”
“Ne, arraseo. Gomawo oppa”
“Cheonma”
“Kalau begitu oppa bawa kunci cadangan saja. Jadi, oppa tidak akan menunggu terlalu lama jika aku belum pulang”
“Tidak perlu. Lagipula, nanti aku tidak langsung pulang begitu selesai bermain bola”
“Begitu? Baiklah”
“Kalau begitu aku pergi dulu. Annyeong” pamit Luhan.
“Ne, hati-hati oppa”

-My Enemy, My Fiance-

Pukul 10.15 Seohyun sampai di sebuah mall di mana dirinya dan juga ketiga temannya berjanji untuk bertemu. Yeoja itu kemudian mencari Sulli, Luna, dan Krystal. Krystal bilang bahwa mereka berada di depan sebuah restoran yang ada di lantai 1. Setelah beberapa menit mencari, Seohyun menemukan ketiga temannya tersebut. Yeoja itu kemudian menghampiri mereka.
“Ah, mianhae aku terlambat” ujar Seohyun.
“Gwenchana” ujar ketiganya.
“Sekarang kita kemana?” tanya Sulli.
“Aku ingin membeli baju. Tadi kulihat ada model baju yang bagus” jawab Krystal.
“Aish, selalu saja baju. Bukankah koleksi bajumu sudah banyak? Bahkan kau memiliki dua lemari pakaian yang cukup besar untuk menyimpan baju-bajumu itu. Dan sepertinya lemari-lemarimu itu sudah tidak muat lagi untuk menampung baju-bajumu” ujar Luna.
“Bahkan koleksi baju-bajumu melebihi Jessica unnie” lanjut Seohyun.
“Memang, milikku lebih banyak daripada milik Sica unnie. Dan untuk lemari pakaian, kalian tenang saja. Aku sudah meminta umma dan appa untuk membelikanku satu lemari lagi” ujar Krystal.
“Mwo??” tanya Seohyun, Luna, dan Sulli tidak percaya.
“Kau ingin menambah satu lemari pakaian lagi?” tanya Sulli.
“Ne. Sepeti yang dikatakan oleh Luna, 2 lemari pakaianku sudah tidak muat lagi untuk menampung baju-bajuku. Jadi, aku meminta 1 lemari pakaian lagi”
“Kau ini ada-ada saja, Krys. Sudahlah ayo kita kesana” ajak Seohyun.
Keempat yeoja itu kemudian menuju tempat yang dimaksud oleh Krystal. Begitu sampai disana, mereka segera berpencar dan memilih beberapa baju yang mereka sukai. Setelah satu setengah jam sibuk memilih-milih baju, mereka akhirnya selesai juga. Sulli dan Luna membawa 2 kantong plastik yang berisi beberapa baju yang telah dibelinya. Begitu pun dengan Seohyun. Yeoja itu juga membawa 2 kantong plastik yang berisi beberapa baju. Hanya saja kantong yang satunya berisi baju-baju untuk Luhan.
Sementara itu, Krystal membawa 2 kantong plastik di tangan kanan dan kirinya. Ketiga temannya hanya menggelengkan kepala melihat Krystal membawa 4 kantong plastik berisi baju-baju yang telah dibelinya. Meskipun begitu, mereka sudah tahu kebiasaan tersebut. Kalau sudah berhubungan dengan belanja baju, Krystal pasti akan membawa lebih dari 2 kantong plastik.
“Sekarang kita kemana lagi?” tanya Luna.
“Toko buku. Ada beberapa buku yang ingin aku beli” jawab Seohyun.
“Tapi aku lelah dan lapar” ujar Krystal.
“Sebentar saja, Krys. Setelah itu kita makan” ujar Seohyun.
“Baiklah, kajja”
Seohyun, Luna, Sulli, dan Krystal pun berjalan menuju toko buku yang berada di dekat restoran dimana mereka tadi bertemu. Begitu masuk ke dalam, Seohyun segera mencari beberapa buku yang akan dibelinya. Sementara itu, Luna berjalan menuju rak buku yang khusus komik, Sulli menuju rak buku yang khusus novel, dan Krystal yang berada di deretan majalah fashion.
Setelah kurang lebih selama 30 menit mereka berada di toko buku, keempat yeoja itu akhirnya keluar dari sana. Kantong plastik yang mereka bawa menjadi bertambah. Mereka pun berjalan menuju restoran yang berada di sebelah toko buku. Saat memasuki restoran, Seohyun bertabrakan dengan seseorang yang saat itu juga memasuki restoran tersebut. Kantong plastik yang dibawa oleh Seohyun terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Kejadian tersebut menarik perhatian beberapa pasang mata yang melihatnya.
“Ah, mianhae. Jeongmal mianhae” ujar Seohyun kemudian mengambil belanjaannya.
“Gwenchana. Seharusnya aku yang meminta maaf” ujar orang tersebut sambil membantu Seohyun.
Orang tersebut kemudian menyerahkan kantong plastik pada Seohyun. Yeoja itu menerimanya dan detik berikutnya sedikit terkejut saat melihat siapa orang yang baru saja bertabrakan dengannya. Begitu pun dengan orang itu yang juga terkejut melihat Seohyun.
“Oh, L-ssi mianhae. Sekali lagi mianhae” ujar Seohyun saat tahu bahwa orang yang bertabrakan dengannya ada L.
“Sudah kubilang tidak apa-apa” ujar L.
“Mmm, kau ingin makan disini?’ tanya L kemudian.
“Ne”
“Bagaimana kalau kita makan bersama?”
“Tapi aku bersama teman-temanku” ujar Seohyun sambil menunjuk Luna, Sulli, dan Krystal.
“Kalau begitu ajak saja mereka. Kalian tidak keberatan jika kita makan berlima?” tanya L pada ketiga teman Seohyun.
“Ani” jawab ketiganya.
“Baguslah kalau begitu. Kajja”
L pun berjalan terlebih dahulu. Sementara keempat yeoja itu mengikutinya dari belakang.
“Kenapa kalian menyetujui ajakannya?” tanya Seohyun dengan suara yang pelan.
“Memang kenapa? Kau takut jika Luhan oppa tahu bahwa kau bersama dengan L? Tenang saja, Luhan oppa tidak akan tahu. Lagipula, bukankah dia sedang bermain bola bersama yang lain di lapangan sekolah?” tanya Krystal.
“Memang benar. Tapi bagaimana jika tiba-tiba saja Luhan oppa muncul disini? Kalian pasti tahu apa yang akan dilakukannya”
“Luhan oppa tidak akan tahu. Kami akan tutup tentang kejadian hari ini” ujar Sulli.
“Tap-“
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya L tiba-tiba membuat keempat yeoja itu terkejut.
“Ah, ani. Kami hanya membicarakan tugas sekolah” jawab Luna cepat.
“Kalau begitu duduklah”
Mereka pun segera duduk. Seohyun duduk di sebelah kiri L. Sementara Krystal, Luna, dan Sulli duduk di hadapan Seohyun dan L. Kelima orang tersebut memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. 15 menit kemudian semua yang mereka pesan telah tersaji dihadapan mereka. Mereka segera makan dan sesekali saling mengobrol agar suasana tidak menjadi canggung.
Tanpa mereka sadari, EXO dan Minhyuk memasuki restoran yang sama. Mereka sama-sama tidak menyadari keberadaan masing-masing. EXO dan Minhyuk pun duduk di meja yang sedikit jauh dari tempat Seohyun, Sulli, Luna, Krystal, dan L berada. Ketiga belas namja itu pun memesan makanan dan minuman untuk mereka. Selagi menunggu pesanan mereka, Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran. Kemudian pandangannya berhenti tepat dimana Seohyun berada. Namja itu sedikit terkejut melihat Seohyun juga berada disana. Dia pun berniat untuk menghampiri yeoja itu. Tetapi belum sempat Luhan berdiri, dia mematung di tempatnya. Luhan melihat seorang namja yang duduk di samping Seohyun sedang memegang dagu yeoja itu dan mengusap sudut bibirnya. Kejadian itu membuatnya marah. Dia pun berdiri dan berjalan kesana membuat teman-temannya bingung.
Sementara itu, Seohyun yang diperlakukan seperti itu sedikit terkejut. Krystal, Luna, dan Sulli juga sama terkejutnya dengan apa yang ada dihadapan mereka.
“Sudut bibirmu sedikit kotor” ujar L setelah menjauhkan tangannya dari Seohyun.
“Oh, gomawo”
“Cheonma. Jangan terlalu terbu-“
Belum sempat L selesai bicara, namja itu merasakan tarikan pada tangannya dan membuatnya balik badan. Detik berikutnya sebuah pukulan mendarat di pipi kanannya. Kejadian itu membuat semua yang melihatnya terkejut. Seohyun semakin terkejut saat melihat siapa yang baru saja memukul namja yang berada di sampingnya. Luhan!
“Beraninya kau menyentuh Seohyun” ujar Luhan geram kemudian mendaratkan satu pukulan lagi pada L.
“Oppa, hentikan” cegah Seohyun.
Luhan tidak memperdulikan ucapan Seohyun. Namja itu kembali memukul L. EXO dan Minhyuk segera menghampiri Luhan dan menjauhkannya dari L.
“Lepaskan! Aku harus memberi pelajaran pada namja sialan ini!” ujar Luhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Kai, Tao, dan Chanyeol.
“Lu, ini tempat umum. Jangan membuat keributan disini” ujar Minhyuk.
“Aku tidak peduli!”
“Tenangkan dirimu” ujar Xiumin.
“Kau! Cepat pergi dari sini! Jangan pernah menyentuh atau pun mendekati Seohyun” ujar Luhan pada L.
“Oppa, berhenti”
“Kenapa kau bersama dengannya?”
“Aku tidak sengaja beretemu dengannya”
“Lepaskan!”
Kai, Tao, dan Chanyeol pun melepaskan Luhan. Tapi ketiganya tetap mengawasi Luhan.
“Kita pulang sekarang!” ujar Luhan kemudian meraih tangan kanan Seohyun.
“Oppa, tapi ak-“
“Kau tidak mau pulang bersamaku? Kau ingin bersama dengannya?”
“Bu… bukan be-“
“Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku tidak akan melarangmu. Selamat bersenang-senang”
Luhan pun melepaskan tangan Seohyun dan berjalan keluar restoran. Seohyun, EXO, dan Minhyuk terus memanggilnya. Tapi namja itu sama sekali tidak berhenti. Bahkan menoleh pun tidak. Luhan tidak peduli dengan mereka. Dia hanya ingin sendiri saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
Yeay~ chapter 11 selesai. Maaf ya kalau kelamaan. Soalnya tugas kuliah lagi banyak banget. Tapi senengnya juga sih akhirnya selesai juga yang chapter ini. Di tunggu aja ya next chapter-nya. JANGAN LUPA RCL. KALO GAK, AUTHOR GAK AKAN LANJUT FF INI, hehehe… Annyeong~

Advertisements

20 thoughts on “MY ENEMY, MY FIANCE (PART 11)

  1. wah….akhir nya..
    luhan cmbru sam L wah bner2 dy ud jtuh hati sma seohyun..
    apa yg bkaln trjdi ya luhan mrah sm seohyun ouh no…
    bner2 sbuah mslah nih.
    next sgat d tnggu ya
    fighting..

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s