[Series] The Boy Next Door – Chap. 10 Final

 

The Boy Next Door

Chapter 10 / Final
Author : Caesar
Judul : The Boy Next Door
Genre : Romance, comedy.
Cast : Seohyun SNSD ǀ Luhan EXOǀ Other member SNSD & EXOǀ

Happy Reading

PLEASE DON’T BE PLAGIARISM, RCL PLEASE^^

LUHAN
Hari ini Seohyun keluar dari rumah sakit setelah di rawat satu minggu penuh. Pernikahan kami diundur hingga kondisi Seohyun benar-benar pulih. Keluargaku dan keluarga Seohyun sepakat Seohyun akan tinggal dirumahku, karena orang tuanya harus segera kembali mengurus bisnis keluarga mereka.

Kembalinya Seohyun ke rumah merupakan berkah untuk kami, semua anggota keluarga ada di rumah tak terkecuali Yoona dan Sehun.

“Seohyun-ah selamat datang di rumah.” Ibuku memeluk Seohyun.

“Ne eomma.” Jawab Seohyun, lalu dia dituntun masuk oleh ibuku dan ibunya, sementara Aku berjalan di belakang Ayah Seohyun sembari membawa barang-barang Seohyun. Aku langsung menuju kamar yang telah disiapkan untuk Seohyun. Kuletakkan koper pakaian di atas kasur dan menghela nafas panjang. Tiba-tiba saja ponsel di saku ku bergetar, tanpa melihat siapa peneleponnya segera kuangkat.

“Yoboseo.”

“Luhan ssi, ini Aku Detektif Kang.”

“Oh ne, eng Ada apa Kang ssi.” Alisku berkerut, Detektif Kang adalah kepala penyelidik dari satuan kepolisian yang menangani kasus tabrak lari Seohyun.

“Begini. . .Aku sudah menangkap pelakunya.”

“Ne? Jeongmalyo? Nuguseyo?” darahku menggelegak, rasanya darahku naik hingga ke ubun-ubun. Aku sudah menunggu kabar ini, sangat ingin tahu siapa yang tega dengan sengaja menabrak Seohyun.

Detektif Kang menyebutkan sebuah nama yang membuatku terdiam. Jauh dalam hatiku Aku sudah tahu, Aku sudah menduganya tapi mendengar nama itu benar-benar pelakunya, Aku masih tidak percaya. Darahku mendidih, tanganku mengepal erat.

Tak berpikir lagi Aku berlari keluar kamar dan menuruni tangga hanya dalam beberapa langkah. Semua orang yang tengah berkumpul di ruang keluarga heran melihatku lari seperti orang kesetanan.

“Luhan ada apa?” Seohyun mengerutkan alisnya.

“Aku harus pergi.”

“Mwo? Kemana?”

“Ada sesuatu yang harus kuurus.”

Seohyun berdiri mendekat, “Ada apa? Kau kelihatan marah, Kau tidak apa-apa?”
Dia menatapku khawatir, kuhela nafas panjang. Tidak, Aku tidak akan membuat Seohyun resah.

“Nan gwenchana, Aku hanya sebentar.”

“Seohyun baru saja pulang Lu, Kau mau kemana?” Kali ini ibuku yang berbicara.

Aku harus berpikir, “Ada yang harus kuurus di Earl.”

Gantian Sehun yang menatapku penuh pertanyaan.

“Sehun-ah, Kau lebih baik ikut denganku.” Kuberikan pandangan penuh makna, dan rupanya Sehun paham, jika ada sesuatu yang emergency sedang terjadi saat ini.

“Okay.” Jawab Sehun.

“Kalau begitu Aku pergi dulu.”

“Hati-hati.” Seohyun terlihat masih berat untuk melepasku pergi, mungkin dia merasakannya dalam hati.

“Aku permisi dulu, kajja Sehun-ah.”

“Oh. . .” Sehun mengangguk memohon izin pada semuanya.

Ketika masuk dalam mobil Sehun langsung memberondongku dengan pertanyaan.

“Ada apa? Ini bukan tentang Earl kan?”

Mobil mulai berjalan meninggalkan rumah.

“Ya, sebenarnya kita akan pergi kemana?” tanya Sehun, setelah kami melewati tikungan yang berlawanan arah dengan Earl.

“Kantor Polisi.” Jawabku dari balik kemudi, jujur saja Aku masih berusaha mengontrol emosiku yang siap meledak.

“Mwo?”

“Pelakunya sudah ditangkap Sehun-ah.”

Kedua mata Sehun melotot, “Jinjja? Siapa? Apa Kau kenal orangnya?”

Tanganku menggenggam setir tegang, “Oh, Aku sangat mengenalnya.”

“Jinjja ya?”

“Kau akan tahu kalau sudah sampai.”

Dia mengangguk, kini wajahnya menjadi sama tegangnya dengan wajahku.

“Kurasa Aku membutuhkanmu untuk mencegahku membunuhnya.”

Sehun terlihat kaget mendengar jawabanku, lalu dia menatapku seakan mengerti isi dalam kepalaku.
***
Kantor Kepolisian
Kami langsung mencari detektif Kang, dan diberitahu dia sedang menginterogasi pelakunya di ruang interogasi. Aku meneleponnya dan memberitahu bahwa Aku sudah ada di kantor, dan dia menyuruh kami untuk datang ke ruang itu.

Ruang itu dijaga oleh dua polisi berseragam, kukatakan pada mereka bahwa Detektif Kang yang menyuruh kami datang. Sehun memandangku khawatir, dia mungkin tahu sikap diamku adalah caraku mengontrol amarah yang siang meledak saat ini juga.

Pintu dibuka, kedua polisi itu mempersilahkan kami masuk. Detektif Kang melihat kedatangan kami, langkahku terhenti saat sosok orang yang begitu kukenal duduk membelakangiku.

“Anda sudah datang Luhan ssi?”

Tubuh itu menegang mendengar namaku disebut, dia pasti ketakutan saat ini.

“Hae soo.” Panggilku.

Kim Hae Soo berdiri dan memandangku, wajahnya pucat pasi dan terlihat ketakutan.

“Lu. . .Luhan-ah.” Panggilnya.

Mataku menatapnya dingin, jijik menatap wajah cantik yang menyembunyikan hati iblisnya. Bagaimana bisa dulu Aku mengencani iblis ini.

“Kau. . .Kau datang untuk membebaskan Aku kan Lu?” katanya, tangan gemetarnya meraih kedua tanganku.

Sentuhannya membuatku mual, tangan ini lah yang membuat Seohyun hampir saja kehilangan nyawanya.

“Wae?! Mengapa Kau melakukannya?!!” tanyaku, berusaha keras untuk tidak mencekiknya.

Kepalanya terangkat, lalu dia melakukan hal yang membuatku tidak percaya.
Dia tertawa. . .

Sehun sudah akan maju, Aku bisa tahu dia kehilangan kontrol emosinya, melihat gadis gila ini.

“Wae?! Dia memang patut mendapatkannya, karena dia merebutmu dariku!”

Kulepaskan tanganku dengan keras membuatnya jatuh tersungkur. Gadis itu membelalakan matanya terkejut.

Hae Soo marah, “DIA PANTAS MENDAPATKANNYA, PELACUR ITU PANTAS MATI!!”

GRAB

Akal sehat telah meninggalkanku.

Kedua tanganku berada di sekitar lehernya, mencekiknya dengan seluruh kekuatan yang kumiliki. Sehun dan detektif Kang meneriakkan namaku, mereka menarik paksa tubuhku hingga Aku jatuh ke belakang.

Dibutuhkan tiga orang untuk mencegahku dari usaha membunuh gadis sakit jiwa itu.

“Sadarlah Lu!! Kau tidak pantas mengotori tanganmu untuk gadis seperti dia!!” teriak Sehun di telingaku.

“SEHARUSNYA DIA MATI!! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SIAPA PUN MEMILIKIMU LUHAN!!!”

Hae Soo tertawa, diangkat berdiri oleh polisi dan di bawanya keluar ruangan. Teriakan amarahku menggema di dalam ruangan interogasi itu.
***
Satu Bulan Kemudian

SEOHYUN
“Aku tidak percaya hari ini tiba.” Tuan Seo menatap putrinya di hadapan cermin.

“Appa. . .”

Ayahku tersenyum sembari menghapus air mata yang terbit di matanya, “Aku tidak boleh menangis di hari bahagia ini, bukan?”

Air mataku merebak, melihat ayahku menangis.

“Uljima, jangan merusak wajahmu yang cantik itu.”

“Appa. . .” Aku memeluk tubuh laki-laki yang sangat kusayangi di dunia ini.

“Kau harus berjanji, Kau akan bahagia oh?”

Aku mengangguk dalam pelukannya.

“Pemandangan apa ini? Ayah dan anak berpelukan sambil menangis?” Eomma muncul dari balik pintu, dari kacamatanya yang berembun Aku tahu eomma baru saja menghapus air matanya.

Aku tersenyum dan menarik eomma ke dalam pelukanku, kami berdua menangis ketika Appa bergabung.

“Jjaa sudah-sudah, acaranya akan dimulai.” Eomma mengusap punggungku.
Aku mengangguk.

“Lihat, Kau merusak riasanmu, Aku harus memanggil pengrias untuk membetulkannya.”
Setengah Jam Kemudian

Hari ini 14 november di tengah terpaan angin musim gugur yang berhembus, dan di bawah matahari pagi yang mulai menghangat, Aku berjalan menuju altar.

Appa menggandengku mantap, sementara Yoona eonni pendamping pengantin wanita berjalan di belakangku.

Aku tersenyum penuh kebahagiaan menatap lurus altar yang kosong itu. Semua undangan duduk di kanan kiri menjulurkan leher penuh tanya, mungkin mereka berpikir dimana mempelai prianya.

“Kemana bocah itu?!” Appa berbisik di telingaku. Bibirku mengulum senyum.

Kami telah sampai di depan altar yang kosong itu. Kasak-kusuk mulai terdengar karena ketidak hadiran mempelai pria di altar ini.

Ayahku mulai terlihat panik, “Bocah itu! Jangan katakan dia meninggalkanmu di altar!”

Tiba-tiba denting piano mengalun. . .

Barisan paduan suara yang disiapkan untuk mengiringi pernikahan itu membelah menjadi dua.

Suara Luhan lembut menggema di balik piano putih. Luhan duduk sembari menarikan jemarinya di atas tuts piano, dia terlihat amat sangat tampan dengan setelan tuksedo berwarna putih.

Sir, I’m a bit nervous
‘Bout being here today
Still not real sure what I’m going to say
So bear with me please
If I take up too much of your time,
See in this box is a ring for your oldest
She’s my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
‘Cause very soon I’m hoping that I…

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I’ll love for the rest of my life
And give her the best of me ’til the day that I die, yeah
I’m gonna marry your princess
And make her my queen
She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile
When she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
|

|
The first time I saw her
I swear I knew that I’d say “I do”
I’m gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I’ll love for the rest of my life
And give her the best of me ’til the day that I die
I’m gonna marry your princess
And make her my queen
She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile
As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
(Lyric from Song ‘Marry Your Daughter’ – Brian McKnight)

Semua orang terlarut dalam keharuan, eomma dan Ibu Luhan menangis saling berpelukan. Ayahku menggenggam erat tanganku, dia berusaha keras menahan air matanya.

Luhan berjalan mendekat lalu berlutut di hadapanku dan ayahku, dan mengulurkan kotak berisi cincin.

“Abonim izinkanlah Aku menikahi putri anda.”

Air mataku menetes, terharu dengan apa yang dilakukan Luhan. Ayahku menatap Luhan lama, lalu dia mengangkat tubuh Luhan dan memeluknya.

“Berjanjilah Kau akan membahagiakannya.”

“Aku berjanji.”

Hari itu Luhan menyuntingku di hadapan semua orang, dia membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Kejutan yang dia siapkan untuk ayahku adalah idenya, karena dia tahu ayahku sangat berat merelakanku menikah, Ayah sangat menyayangiku.

“Aku ingin membuat ayahmu percaya bahwa Aku benar-benar mencintaimu dan akan membahagiakanmu.” Ucap Luhan saat itu.

“Kau tidak perlu melakukan itu Lu.”

“Tapi Aku ingin. . .anggap saja ini hadiahku untuk Ayah.” Katanya, membuatku memeluknya erat ingin memberitahunya bahwa Aku sangat mencintainya.
***
Matahari pagi menembus dari celah gorden jendela kamar baru kami. Sejak menikah kami menempati rumah baru hadiah pernikahan yang diberikan kakek Luhan. Aku tersenyum melihat namja di sebelahku ini, dahinya berkerut merasa terganggu oleh invansi sinar mentari pagi.

Chu. . .kukecup bibirnya.

“Bangun Lu ssi.”

Dia bergumam tidak jelas, lalu membalikkan badan membuatku menghadap punggungnya. Aku tertawa kecil melihat kebiasaannya setiap pagi. Kuletakkan kepalaku di pundaknya.

“Irreona Lu. . .” dia kembali bergumam keras kepala tidak mau bangun.

Hhhhh Aku menghela nafas, membangunkan Luhan adalah rutinitas yang melelahkan, tidak ada pilihan lain lagi, kugelitik pinggangnya hingga membuatnya menggeliat kegelian sambil meracau setengah mengantuk, sampai-sampai. . .

Grab, dia memaku kedua tanganku di samping kepalaku dan tubuhnya berada di atasku. Dia menatapku dengan mata setangah mengantuk dan tersenyum seduktif.

“Kau sangat berisik di pagi hari, Nyonya Lu. . .” lalu menciumku membuatku kehabisan nafas.

“Ya!” protesku ketika Aku lolos dari cengkeramannya.

Luhan menarikku kemudian menarik selimut dan memerangkapku ke dalam pelukannya.

“Diamlah, Aku ingin tidur seperti ini hingga siang.”

“Ya Kau harus ke Earl kan?”

Luhan bergumam dan memejamkan matanya, Huh dasar sifat kekanakannya itu, Aku berusaha melepas pelukannya, tetapi dia malahan semakin mengeratkannya.

“Baiklah Aku menyerah.”

Luhan tersenyum dan memelukku lebih dekat lagi.

|

|

|

“Bangunlah tukang tidur.” Bisik suara di telingaku.

Aku mengerang ketika tubuhku ditarik dan digendong. Ketika sadar Aku sedang menghadap leher Luhan, dan tersenyum karena mencium wangi yang sangat kusukai itu.

Luhan mendudukanku di kursi makan, di hadapanku sudah ada omurice. ‘Kapan dia membuatnya?’

“Kau tidur seperti orang mati.” Ledek Luhan, dia mengedik ke jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas.

Huh, lihat siapa yang berbicara? Memangnya gara-gara siapa Aku jadi tertidur lagi.

“Jja makanlah, lass.” Dia tersenyum geli melihat Aku mengerucutkan bibir.

“Kapan Kau membuatnya?”

“Saat Aku bangun tadi.”

“Kenapa Kau tidak membangunkanku?”

Luhan menghela nafas panjang, “Aku tahu Kau baru tidur jam tiga Nyonya Lu.” Katanya lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya, “Kau tahu Aku tidak suka kalau kau kurang tidur.”

“Aku tidak banyak waktu, Yoona hanya memberikanku waktu satu minggu untuk merevisi novelku.”

“Alasan yang membuatku harus memperingatkannya.”

“Ya awas Kau, kalau Kau berani melakukannya.”

“Wae? Aku tidak ingin istriku jatuh sakit gara-gara kurang istirahat.” Dia menggerutu.

Mau tidak mau Aku jadi tersenyum, Luhan lucu sekali. Luhan berubah menjadi namja yang sangat protektif, terkadang Aku kesal ketika dia bersikeras mengantarku pergi kemana saja, karena sikapnya yang selalu mengkhawatirkan Aku.

“Arraseo. . .” ungkapku menenangkan, “Aku tidak akan mengerjakannya hingga larut malam.”

“Daripada mengerjakan itu hingga larut lebih baik Kau mengalihkannya dengan melakukan hal lain.” Dia tersenyum seduktif.

Godaannya membuatku merona, “Ya!”

“Wae? Kau selalu sibuk.” Bibirnya mengerucut lucu, “Kapan terakhir kita melakukannya? Huh.”

“Ya!” Aku memerah dari ujung kaki hingga kepala.

“Apa Kau masih malu jika membicarakannya?”

Kepalaku menghindari kontak matanya, meskipun kami sudah menikah enam bulan lamanya rasanya aneh jika membicarakan aktivitas intim kami, apalagi di saat tengah hari seperti ini.

Luhan tertawa geli.

“Ah diamlah.”

“Kau lucu jika sedang malu.”

“Menyebalkan.” Gerutuku.

“Kau jadi menemani Yoona?” Luhan mengalihkan pembicaraan, mungkin kasihan melihatku malu.

Aku mengangguk, “Oh Aku akan menemani Yoona eonni dan Joohyun ke baby spa.” Senyumku merekah ketika membicarakan bayi perempuan Yoona yang baru berusia dua bulan. Anak pertama mereka diberi nama seperti namaku Oh Joohyun, tentu saja Aku merasa sangat terhomat ketika tahu Yoona eonni dan Sehun oppa menggunakan namaku.

Joohyun benar-benar sangat lucu dengan pipi tembem berwarna merahnya. Ada hal lucu tentang Joohyun dan Luhan, entah mengapa Joohyun kecil selau saja bersemu merah dan tertawa ketika ada Luhan. Tidak mungkin bayi sekecil itu sudah tahu namja tampan kan? fakta itu tentu saja membuat Luhan jadi besar kepala.

“Lihat bahkan Joohyun pun tahu betapa tampannya Aku.”kalimat Luhan yang sukses membuat tiga tangan memukul kepalanya.

Yoona langsung mengambil Joohyun dari gendongan Luhan, “Andwae, Joohyunie Kau tidak boleh dekat-dekat paman Luhan oh?”
***
Satu Tahun Kemudian
Aku bergerak gelisah menyingkirkan selimut, karena merasa kepanasan. Akhir-akhir ini Aku gampang merasa kepanasan, padahal suhu AC sudah sangat kecil tapi Aku masih saja merasa gerah.

Luhan bergerak dalam tidurnya memeluk tubuhku dan bergumam lirih, kebiasaan tidurnya itu. Aku melirik jam di dinding, sudah pukul satu dini hari tapi Aku tidak bisa tidur juga. Rasanya Aku akan tetap terjaga hingga pagi, maka kuputuskan untuk melakukan sesuatu.

Perlahan Aku memindahkan tangan Luhan dari atas tubuhku, lalu berjalan berjinjit sebisa mungkin untuk tidak membuat suara keluar kamar. Setelah masuk ke dalam ruang kerja yang sekaligus adalah perpustakaan, baru Aku bisa menghembuskan nafas lega.
Luhan pasti marah jika Aku tertangkap basah belum tidur jam segini. Kuputuskan untuk menyalakan Laptop, solusi terbaik untukku saat ini adalah menulis.

Benar saja ketika Aku terlarut menuangkan inspirasiku ke dalam tulisan, pintu ruang kerja terbuka. Luhan berdiri di ambang pintu menyedekapkan tangannya, wajahnya kelihatan kesal.

Aku menelan ludah, bersiap mendengar omelannya.

“Apa yang Kau lakukan disini Nyonya Lu?”

“Eng Lu. . .” Aku berusaha mencari jawaban yang tidak akan membuatku marah.

Dia berjalan mendekat, Jinjja meski Aku sudah hampir dua tahun menikah dengannya Aku masih saja terkesima dengan ketampanan namja itu.

“Apa yang Kau lakukan dini hari begini Seohyun-ah?” dia melongokkan kepalanya ke layar laptop, kemudian mengangkat alisnya.

“Aku tidak bisa tidur.”

“Lalu?”

“Jadi Aku mencari kesibukan. . .”

Luhan diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Mianhe. . .”

Dia menghela nafas, Luhan terlihat mencoba untuk bersabar.

“Jeongmal Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Kepalaku menunduk.

Lu mengangkat wajahku, “Kau tahu kan mengapa Aku begini?”

Aku mengangguk mengerti.

“Kau tidak hanya harus menjaga kondisimu, tapi Kau juga harus memikirkannya.” Dia mengusap perutku yang kini membuncit.

Benar dalam tiga bulan lagi, keluarga kecil kami akan bertambah. Aku dan Luhan sedang menunggu kelahiran bayi pertama kami.

“Maafkan Aku.”

Dia memelukku, “Jika Kau tetap bandel, Aku terpaksa melarangmu menulis lagi.”

Kulepas pelukannya, bibirku mengulum senyum.

“Kau tersenyum? Ya Seo Joo Hyun, Kau berani tersenyum?”

“Kau pikir Kau berani melakukannya?” Tantangku.

“Mwo? Melarangmu menulis? Tentu saja, Aku kan suamimu.”

Tawaku keluar.

“Ya, Kau tidak percaya Aku bisa melakukannya?”

“Oh. . .”

“Wae?”

“Karena Kau mencintaiku.”

Luhan ternganga seperti kehilangan kata-kata. Yep sekali lagi Aku menang, yah bisa dibilang memang Aku selalu menang dalam perdebatan kami.

“Aku janji tidak akan mengulanginya.” Ungkapku akhirnya menenangkan suamiku yang protektif.

“Benarkah?”

“Oh Aku janjii.” Bibirku merekah tersenyum, “Ayo kita tidur lagi.” Tanganku terulur dan dia menyambutnya.
***
LUHAN
Mataku terpejam berusaha menahan rasa ngeri yang ditimbulkan akibat mendengar teriakan Seohyun di dalam ruangan bersalin. Aku tidak bisa tenang, sedari tadi Aku mondar-mandir di depan ruangan bersalin ditemani Sehun, Ayah Seohyun, dan Yoona.

“Duduklah Lu, tenanglah sobat.”

“Mana bisa Aku tenang.”

“Duduklah nak.” Perintah Tuan Seohyun, “Kau membuatku pusing, mondar-mandir begitu.”

Mendengar perintah itu Aku duduk dan berdoa sekali lagi. Sudah empat jam Seohyun masuk ke dalam ruangan itu, tapi persalinannya tidak mudah. Semua orang berusaha menenangkanku dengan mengatakan bahwa persalinan anak pertama memang susah.

Sikap dudukku hanya bisa bertahan sementara, ketika Aku kembali mendengar jeritan kesakitan Seohyun. Aku mengerang benar-benar frustasi karena tidak bisa berada di sisi Seohyun.

Dan ini semua gara-gara Dokter sialan itu.

Seohyun menangis.

“Sakit Lu. . .” Seohyun menggenggam erat tanganku, mungkin besok tanganku akan memar.

“Bersabarlah Lass, Kumohon kuatlah.”

“Tarik nafas Seohyun ssi.” Perintah dokter.

“Tarik nafas sayang. . .” Aku benar-benar tidak tahan melihat Seohyun menderita.

Wajahnya sangat pucat, rambutnya basah karena keringat.

Seohyun menjerit lagi mencakar lenganku, tidak Aku tidak tahan lagi.

“Ya! Lakukan sesuatu dok!!” teriakku kesal pada dokter dan perawat yang sedari tadi kerjaannya mondar mandir dan menyuruh Seohyun untuk menarik nafas dan mendorong bayinya.

Seohyun kembali menjerit ketika bayi di dalam perutnya kontraksi. Ya Tuhan, kumohon jangan buat Seohyun menderita.

Aku kembali meneriaki dokter dan para perawat.

“Aku harus memperingatimu Luhan ssi!” ucap dokter itu, “Jika Kau terus saja mengganggu, Aku harus mengusirmu keluar!”

Umpatanku sudah siap melayang, tapi segera terlupakan ketika Seohyun kembali kontraksi, dan teriakannya benar-benar membuatku menderita, Aku tidak tahan lagi.

“Demi Tuhan dok!! Lakukan sesuatu yang berguna!!”

Setelah itu dua perawat mengapit lenganku dan menggiringku keluar.

“Anda mengganggu proses persalinan Tuan!” lalu perawat itu menutup pintu ruangan di depan hidungku.

“Dasar laki-lak, Kau sama saja seperti ayahmu.” Kata Eomma, “Biar Aku saja yang masuk.” Eommaku dan Eomma Seohyun lalu masuk ke dalam.

Meninggalkanku dengan sejuta frustasi yang siap meledakkan kepalaku.

Aku pikir sebentar lagi pasti Aku akan gila. Seohyun terus menerus menjerit dan berteriak, tapi bayi kami sangat keras kepala belum mau keluar.

“Jangan buat ibumu menderita sayang.” Bisikku.

Dan seakan mendengar doaku, tak lama kemudia jeritan panjang Seohyun diikuti tangisan bayi yang pecah. Jantungku berdegup sangat cepat, ada perasaan lega sekaligus terharu karena proses ini telah selesai.

Aku tidak pernah merasa ketakutan lagi sejak Seohyun terluka ketika kecelakaan dulu. Kakiku tidak mampu lagi menopang tubuhku, Aku jatuh berlutut dan tidak menyadari air mataku jatuh.

Pintu ruang bersalin terbuka.

“Luhan ssi.” Dokter memanggilku.

Kukumpulkan segenap sisa tenagaku dan menghambur ke arah dokter itu.

“Bagaimana dok??” tanyaku khawatir.

“Selamat, anak laki-laki anda sehat dan normal.”

Semua orang yang ada di ruang tunggu menghela nafas lega.

“Istri saya? Bagaimana istri saya dok??” Desakku, lupa Kalau satu jam lalu Aku ingin sekali mencekik dokter ini.

“Dia sehat hanya kelelahan.”

Ketakutan sepertinya menghilangkan akal sehatku, Aku memeluk dan mengangkat dokter itu.

“Gamsahamnida, Jeongmal Gamsaheyo.”

“Ne. . .Ne. . .Luhan ssi tolong turunkan saya.”

“Mianheyo dok.”

Dokter itu mengangguk, dan tersenyum maklum mungkin dia sudah biasa melihat tingkah aneh para suami yang menunggu istri mereka melahirkan.

“Selamat Nak.” Ayah datang dan menyalamiku.

“Gomawoyo Appa, Selamat Ayah sudah menjadi seorang kakek.”

Ayah tertawa mendengar fakta baru itu.

Sehun dan Yoona menghampiriku, “Selamat sobat, Kita sama-sama menjadi seorang Ayah sekarang.” Kata Sehun.

“Anakmu laki-laki, berarti kita bisa menjodohkan anak kita.” Celetuk Yoona dan membuat kami semua tertawa.

“Pergilah, Kau pasti ingin melihat mereka.” Ucap Sehun.

Aku mengangguk dan pergi masuk ke dalam ruangan.

Seohyun masih terlihat lemah, dia duduk bersandar dan tersenyum ketika melihatku masuk. Aku langsung memeluknya dan dia membalas pelukanku sembari tersenyum.

“Aku sangat takut.” Air mataku merebak, mengingat proses panjang yang harus Seohyun jalani.

“Semuanya sudah berlalu Lu.”

“Aku tidak akan membuatmu melakukannya lagi.”

“Oh?” Seohyun melepas pelukannya, “Apa maksudmu Lu?”

Aku menggeleng, “Aku tidak akan membuatmu menderita seperti tadi lagi.”

“Wae? Kenapa?”

“Aku tidak tahan melihatmu kesakitan.” Kataku, “Tidak apa-apa, satu anak saja cukup untukku.”

“Tapi Aku ingin mempunyainya lagi.”

Kepalaku menggeleng keras, menolak bayangan harus mengalami kejadian seperti tadi lagi.

“Kumohon jangan biarkan Aku ketakutan, Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Seohyun tersenyum, “Dengar Lu. . .” Dia memegang wajahku, “Kedepan pasti tidak akan seburuk tadi.”

Dia meyakinkanku, Aku memandang wanita yang amat kucintai ini penuh kasih sayang.

Demi Tuhan, dia telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anakku.

“Wae? Kau menangis?” tanya Seohyun

Aku menggeleng, kupalingkan wajahku.

“Kau menangis??” tegas Seohyun, tapi ada nada geli di sana.

“Oh Aku menangis, Kau benar-benar kejam membiarkanku ketakutan.”

Seohyun tertawa lalu mencium keningku, “Mianhe. . .”

“Luhan ssi, Seohyun ssi.”

Seorang perawat datang dan menggendong bayi kami, lalu menyerahkannya pada Seohyun.
Ketika kami menatap makhluk mungil yang balas menatap kami dengan mata kecilnya, Aku berpikir apakah dia mengenali bahwa kami ini orang tuanya. Perasaan bahagia yang membuncah memenuhi dadaku, seakan bersiap berteriak dan ingin memberitahu dunia betapa bahagianya Aku memiliki mereka berdua dalam hidupku.

Mata Seohyun basah memandangi anaknya. “Dia pasti akan menjadi namja yang tampan.”

“Tentu saja dengan Aku sebagai Ayahnya.”

Seohyun menggerutu, tapi tersenyum geli.

“Selamat datang sayang.” Ucap Seohyun.

Tanganku terangkat membuai bayi kecil kami, “Selamat datang Luhan.”

 

-THE END-

 

P.s : Chapter 10 selesai itu tandanya selesai juga FF ini. Author sendiri sedih harus mengakhiri FF ini. Author sangat menikmati menulis The Boy Next Door, nggak jarang Author senyum-senyum saat menulis Luhan dan Seohan. Sempat terpikir untuk membuat sekuel, ada ide yang terbesit tapi tidak tahu kapan akan direalisasikan.

Terimakasih untuk semua komentar, kritik, saran dan like kalian semua, jeongmal gamsahamnida. . .Author pun minta maaf jika FF ini jauh sekali dari sempurna. . .sekali lagi terimakasih.  .See You 🙂

 

Advertisements

13 thoughts on “[Series] The Boy Next Door – Chap. 10 Final

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s