[Chaptered] Like a Fiction… (2 of …)

Like a fiction

Preview

Itu berarti… Seo Joo Hyun tak boleh ada di dihidupku, bahkan jika dia satu-satunya manusia yang tersisa di muka bumi’—Luhan berkata dalam hati

.

.

.

|| Title : Like a Fiction (2 of …)|| Author : Fadila Setsuji || Genre : Romance,Sad,Little-bit Comedy,School-Life,Friendship || Length : MultiChapter || Cast : Seo Joo Hyun-Luhan-Choi Jinri-Kim Jongin-OC ||

Note : Ini link untuk Part Sebelumnya. Check this out

https://exoshidaeseohan.wordpress.com/2015/05/23/chaptered-like-a-fiction-1/

.

.

.

=Happy Reading=

.

.

.

Alan… Nama yang aneh untuk pria korea pada umumnya,bukan?

Karena dia memang bukan kewarganegaraan korea. Dia adalah seorang laki-laki yang datang bersama semua kenangan buruk yang dia pendam. Dia memilih meninggalkan negara kelahirannya,meninggalkan orangtuanya dan tinggal bersama adik tiri serta keluarga yang mengasuhnya di Seoul.

Alan adalah orang dengan banyak kisah yang tidak dia ungkapkan…

Namun pertemuannya dengan gadis bernama Yiseul merubah semuanya. Membalikkan dengan cepat kehidupan tenang Alan,mengubahnya menjadi sebuah cerita penuh kesialan yang datang bertubi-tubi. Menyelamatkan gadis itu dari benturan kepala justru membuat lengan kanannya cedera. Keadaan ini semakin diperparah dengan Alan yang merupakan ketua osis sekaligus atlet basket. Bukankah untuk membubuhkan tanda tangan,untuk menggelindingkan bola basket di lapangan dan untuk kegiatan lain diperlukan lengan kanan?

Alan bukan kidal,sehingga agak menyulitkan baginya untuk menggunakan tangan kirinya. Pemikiran itulah yang kemudian memunculkan gagasan penting di kepalanya

Bahwa Yiseul bukanlah apa-apa kecuali pemberi kesialan

Bahwa Yiseul adalah pembawa mimpi buruk

Dan

Bahwa untuk tidak menyertakan gadis itu didalam hidup Alan adalah penting.

Namun,sepertinya takdir tak sependapat dengan gagasan Alan. Takdir senang membolak-balikkan keadaan.

Takdir itu…Tak pernah mau dibantah.

Penulis : Seo Joo Hyun

*

     Agaknya, cuaca cerah tak sejalan dengan perasaan Luhan kali ini. Laki-laki itu tak henti-hentinya merutuk sejak pertama kali membuka mata sejak terlelap hingga selesai mengenakan seragamnya yang tentu saja dilakukannya dengan susah payah. Semua akibat tangannya yang kini diperban. Lebih jauh lagi…

“Sial kau,Seo Joo Hyun!”

… Kesialannya itu diakibatkan Seo joo hyun.

Luhan mendengus kesal sembari menggatungkan tasnya pada bahu dan pintu kamar dibantingnya dengan kasar.

Hal ini memancing perhatian Jinri yang sejak tadi sibuk berbenah “yak,oppa! Jangan membanting pintu”

Cheom! (diamlah)”

Akhirnya tak ada yang bisa dilakukan gadis ini selain membiarkan kakaknya itu melakukan apapun yang membuatnya kesal.

Jinri bergegas menuruni tangga dan menemukan sang kakak yang kesulitan mengoleskan selai diatas roti tawar. Jinri tak menunggu lagi dan langsung merebut toples selai dari tangan sang kakak. Dialah yang kemudian menggantikan tangan sang kakak untuk mengoleskan selai ke roti

“Bahkan untuk masalah makanpun aku harus memerlukan bantuanmu”luhan berujar kesal. Laki-laki itu mendudukkan dirinya pada salah satu kursi di ruang makan dirumah mereka.

Sulli merotasikan matanya sebelum kemudian selesai mengoleskan selai ke rotinya juga “ayolah… Aku kan adikmu,oppa… Jadi tidak masalah jika sesekali kau mengandalkanku”

“Dan aku membenci hal itu”

“Ck”jinri berdecak usai mengambil posisi duduk. Ditatapnya dengan tajam sosok sang kakak sembari mengunyah rotinya “kau selalu saja begitu. Ingin selalu tampil sempurna”

“Aku memang harus begitu,Jinri. Kaupun mengerti pastinya”

“Aku mengerti…”Ujarnya “namun aku takkan mau memaklumi sepenuhnya sikap sok perfeksionismu itu,oppa”

“Aku tidak…”

“Sudahlah,ayo makan. Bukankah katamu ada urusan penting di OSIS hari ini?”

Pikiran Luhan teralihkan pada setumpuk dokumen yang belum ditandatanganinya, belum pula pekerjaan ini itu dan pengurusan kegiatan penyambutan mahasiswa baru…

“Kau benar”

*

“Jangan terlalu banyak bergerak,Seohyun! Oh tuhan,mengapa anak perempuanku mendadak jadi hiperaktif begini?!”

Pagi hari setelah pergerakannya tak lagi dibatasi dengan adanya selang yang terhubung pada cairan infus,Seohyun langsung bergegas menyambar tas miliknya. Nyonya Seo,sang ibu yang baru saja menyusul ke rumah sakit itu kini dibuat repot dengan anak gadisnya yang harus mengikuti ujian masuk National Education School of Seoul,sekolah menengah atas yang terkenal itu. Agaknya,meski baru saja mengalami insiden yang sempat memicu traumanya,toh nyatanya gadis ini terlihat sangat baik kondisinya.

“Ah…Yak,yak! Seohyun-a! Tenanglah,dan habiskan dulu sarapanmu”

Aniyo,eomma. Aku sudah terlambat!”

Seohyun menyambar lembar roti yang disediakan sang ibu pagi tadi setelah menciumi wanita yang melahirkannya itu “aku pergi,eomma!

“Eoh,hati-hati…”

Seohyun berlari menyusuri koridor rumah sakit hingga akhirnya melangkah dengan semangat melewati beberapa anak tangga untuk mencapai lantai dasar. Dia memilih untuk tidak menggunakan lift,sekalian berolahraga menurutnya.

Baru saja menuruni anak tangga terakhir,sosok Jongin langsung tertangkap oleh penglihatannya. Namja itu terlihat mengenakan jaket dan syal,dan tengah membaca catatan kecil yang hampir tak pernah jauh darinya itu.

Jongin adalah siswa teladan yang tak jarang menjadi pahlawan untuknya,meskipun…

Seohyun menggeleng kuat,mengejutkan beberapa perawat yang melintas didepannya sebelum akhirnya berlari dengan semangat menghampiri Jongin “Jongin-ni…”

Namja yang dipanggil memejam sebentar matanya,menutup buku yang dia baca dan menatapi Seohyun segera setelah gadis itu berada dihadapannya dengan senyum ceria “annyeong…”

Jongin mendesah pelan. Entah desahan yang bermakna apa,tetapi dia melempar senyum setelah itu “lima menit lebih awal” Jongin berujar “rekor yang keren untuk dipecahkan seorang pasien rawat inap pemalas sepertimu,Seo-a”

“Yak,Kim Jong In!”Seohyun mengerucutkan bibir “aku tidak pemalas! Lihat,aku bahkan sudah disini sebelum…”

“Sebelum waktu yang kutentutan,bukankah begitu?”

“Cih!”

“Mau melanjutkan debatnya,nona? Kita akan terlambat nanti”

Arrayo,arraseyo! Lagipula aku tidak pernah menang ketika berdebat denganmu!” Seohyun berujar “kau hebat,chinguya… Neomu… Daebak!” Seohyun memberi penekanan pada kata “chinguya..!”,membuat Jongin mendesah. Antara kecewa dengan harapannya dengan sedih akibat. Wajah tampan itu tertunduk,sebelum kemudian kembali terangkat dan menampakkan ekspresi tenangnya. Jongin kemudian berkata, “Baiklah,kuanggap itu pengakuan”

Seohyun yang mendengarnya mengerutkan dahi “pengakuan? Museon soriya (apa maksudmu)?”

Jongin menyimpan buku sakunya,lalu menggamit jemari Seohyun,menariknya pergi melewati pintu gedung rumah sakit tersebut.

“Heih… Pengakuan apa yang kau maksud tadi,jongin-ni? Jelaskan padaku! Aku benci dibuat penasaran dan kau tau itu bukan?!”

Tak ada jawaban yang terlontar dari mulut Jongin. Keduanya kini berjalan menuju halte untuk menaiki bis.

Setibanya di halte yang tak begitu jauh dari rumah sakit,Seohyun menghentikan langkah Jongin. Namja itu menoleh “wae?”

“Itu… Apa maksudmu dengan pengakuan yang kau katakan tadi?! Eoh?”

Jongin menatapnya dalam kali ini. Mata legamnya memandang tepat ke manik mata Seohyun yang memantulkan bayangan dirinya. Jongin tahu,jika memandang mata gadis itu lebih lama maka akan beresiko bagi persahabatannya dengan Seohyun,sehingga dia memilih untuk segera mengalihkan pandangannya dengan mendorong kepala Seohyun menggunakan telunjuknya “nanti saja…”

Perlakuan Jongin yang kemudian menyisahkan tanya besar dikepalanya hingga bis datang dan mereka naik dengan langkah terburu-buru.

*

Jinri berkali kali harus menahan diri untuk tidak menabrakkan sepedanya pada tiang listrik disekitar jalanan di area distrik tempat tinggal mereka. Sejak tadi,Luhan yang dia boncengi tak henti-hentinya menggerutu. Bahkan,tas kesayangan Jinri,yang dia peroleh dengan kerja keras—menjual secara diam-diam foto kakaknya pada teman seangkatan—juga tak luput dari sasaran rasa kesal sang kakak akibat kejadian yang menimpanya.

“Yak,kurangi kecepatanmu Jinri! Kau nyaris membuatku tak bisa menggunakan tanganku yang satunya juga!”

“Eugh..!”Jinri menggeram “kau tahu oppa… Kau bahkan semakin menyebalkan dan jadi banyak bicara sejak tanganmu terkilir kemarin…”

Tadinya namja itu berniat untuk membalas perkataan adiknya dengan lebih sengit. Tadinya dia berpikir untuk turun dan mengejar bis terakhir. Namun,kata-kata Jinri kemudian justru membuatnya tertegun. Luhan terpikirkan sesuatu

Benarkah Luhan berubah menjadi monster cerewet hanya dalam waktu semalam?

   Benarkah tangan terkilir ini yang memicu perubahan itu?

Sebelum Luhan menjawab pertanyaan yang bersiliweran di kepalanya,Jinri langsung mengembalikan perhatian Luhan dengan ucapannya “…tapi,jika harus jujur… Aku berpikir itu lebih baik”ungkapnya tulus

“Apa maksudmu Jinri?”

Jinri menghela nafas,kemudian menengok ke belakang,menatapi sang kakak sembari berkata, “maksudku…kau seharusnya lebih banyak berkata-kata padaku. Sekalipun mengumpat, tetapi, asal kau tidak mendiamkanku… Aku tidak akan merasa kakakku berada jauh dariku.”

Luhan tak merespon. Bukan karena tidak memahami ucapan Jinri. Terlalu mudah untuk membaca karakter Jinri karena dasarnya adik tirinya itu tipe yang sulit menyembunyikan sesuatu–terutama darinya. Mengenal diri Jinri baginya akan semudah membaca komik. Tetapi untuk ucapan Jinri yang ini,dia memilih untuk diam.

Luhan masih ingin memendam semuanya sendiri. Luhan masih tidak mau membaginya…

Untuk sekarang… Dia tak berkeinginan untuk mengorek sesuatu yang mengingatkannya pada apapun yang terjadi dimasa lalu.

Disaat yang sama,Jinri teringat sesuatu. Bukankah dia harus mengantar kakak tirinya itu sekolah?

Dan sepeda dikayuhnya dengan kekuatan maksimal. Sebisanya, dia harus membuat Luhan dan dirinya tidak terlambat.

*

“Kau masih bisa setenang ini setelah dia menciummu?! Sekarang aku bahkan ragu kau itu makhluk yang memiliki hati walaupun kita sudah berteman lama”

“Dia yang menciumku,bukan aku. Jadi,apa yang seharusnya kupikirkan?”

“Bukankah sebuah ciuman itu istimewa?”

“Istimewa bagi mereka yang saling suka. Tapi disini,dia yang menyukaiku,Seo-a”

Seohyun terperangah dengan ucapan Jongin barusan. Setidak penting itukah arti sebuah ciuman untuk Jongin? Tapi,lelaki itu benar–bahwa disini Kyungri lah yang menciumnya,dengan perasaan sepihak–mengenai fakta yang satu itu. Namun,tetap saja,ciuman adalah ciuman… Yang di didalam pemikiran Seohyun adalah sesuatu yang istimewa.

Ccckkt…!

Suara gesekan ban dengan aspal terdengar,menyusul suara suara beberapa orang ataupun benda yang terjatuh. Sang supir baru saja mengerem secara mendadak.

“Mianhaeyo. Tadi sepertinya ada yang ingin umurnya memendek dengan menabrakkan sepeda mereka pada bisku”

Penjelasan dari sang supir kontan menimbulkan suara-suara,bisik penuh tanya dari beberapa penumpang,tak terkecuali Seohyun dan Jongin.

“Hei,anak muda! Kalian ingin mati,eoh?!”

Entah apa yang mendorong Seohyun untuk mengikuti arah suara dari sang supir. Matanya membelalak begitu diketahuinya bahwa salah satu dari mereka adalah Jinri…

…Dan lelaki yang berdiri tak jauh dari Jinri,dengan lengan kanan yang diperban itu… Adalah laki-laki itu…

“…luhan?”

*

“Hei! Percepat lajunya,Jinri. Aku mengatakan kau tidak boleh ngebut,tetapi bukan berarti kau harus selambat ini mengayuhnya! Aku bisa terlambat dan–”

Luhan baru akan melanjutkan menggerutu ketika Jinri secara tiba-tiba mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi. Gadis itu lebih seperti orang kesetanan. Dan entah bagaimana dia memunculkan kekuatan pada dirinya untuk mengayuh sepeda menggunakan kaki-kakinya itu, dengan kecepatan seperti itu, apalagi dengan membonceng Luhan.

“H-hei! Kubilang–”

Braak!

Tubuh Luhan rasanya seperti baru mengalami guncangan. Untuk sesaat dia merasa ini seperti menyaksikan sebuah adegan disalah satu drama ataupun film. Namun,dia keliru rupanya. Ini benar-benar nyata. Semua yang dia rasakan beberapa saat lalu. Dengan wajah memucat Jinri dan suara omelan dari seorang dengan usia kira-kira empat puluhan,berwajah sangar dan berseragam seperti supir pada umumnya

“Hei,anak muda! Kalian ingin mati,eoh?!”

Kesialan apalagi ini? Bahkan,hari ini,tanpa Seohyun didekatnya pun kesialan menimpanya? Bagaimana bisa?

Meski tak benar benar memastikan,Luhan cukup yakin bahwa Seohyun tak ada disekitar situ atau dimanapun. Mungkin kesialan itu hanya kebetulan atau…

“Jinri,bisa kau antarkan Jongin ke National Education School of Seoul?! Dia akan terlambat dan ini satu-satunya kesempatannya!”

Jongin menoleh kepada Seohyun dengan dahi mengernyit,Jinri membelalak,dan Luhan melakukan keduanya.

Mworago?!”

*

“Kau itu bodoh juga menyebalkan,asal kau tahu!”

Sebagian hati Seohyun menerima perkataan Luhan–nyaris membenarkannya–dan sebagian hatinya berusaha menyadarkannya bahwa gadis itu masih memiliki harga diri untuk tidak membiarkan dirinya dicela oleh siapapun–termasuk Luhan

Namun,dengan mengingat lengan kanan lelaki itu,yang dibaluti perban,mungkin ada baiknya memilih untuk diam.

Biarkan saja dia begitu sampai kau mengantarnya,Seo Joo Hyun‘ seohyun meremas ujung roknya kuat

Baik Luhan maupun Seohyun tak berkata apapun setelah itu. Keduanya memilih diam,dan suasana didalam taxi cukup tenang dengan alunan lagu beritme lembut yang dinyanyikan penyanyi duet favorit Seohyun,15&. Keadaan bertahan sampai taxi kemudian berhenti dan mereka telah berada didepan gerbang sekolah elit lainnya di Gyeongju. Gyeonghee Science School.

“I-ini…”

Seohyun menoleh kepada Luhan. Diamatinya lelaki itu dengan seksama,kemudian beralih menatap beberapa siswa yang berpenampilan sama dengannya.

Seragam elit… Gaya bagai bangsawan… Dan dirinya… Dengan penampilan biasa.

“Ya,sekolahku.” Ujarnya datar “dan kau tidak bisa masuk kedalam…”

Seohyun merasa tercekat ketika Luhan menatapnya “…kecuali kalau kau siswa disini atau kau mendapat izin khusus dariku”

*

“Pantas Seohyun memilih mengamankan kakakmu dan menyuruhku untuk pergi bersama denganmu…”

Jinri menelan ludahnya dengan berat. Suara baritone Jongin agaknya terdengar menakutkan kali ini. Mungkin lelaki itu sedang dalam suasana hati yang buruk?

Entah. Jinri tak pandai mengartikan sikap laki-laki…

“A-apa maksudmu?” Jinri bertanya dengan ragu

“Kau…”Ujar Jongin “pengemudi yang buruk”

Jinri berpikir tadi ; mungkin saja Jongin akan mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan dan tenaga seorang perempuan akan sulit untuk membonceng seorang laki-laki, atau dirinya yang seharusnya dibonceng oleh seorang lelaki yang sebelah tangannya tidak sedang cedera.

Tetapi… tidak.

Jongin justru mencelanya. Kurang lebih sama seperti kakaknya tadi. Hanya bedanya,Jongin adalah laki-laki yang dia sukai. Lelaki yang selalu dia harapkan untuk memberikan hati dan sayangnya,sama seperti Jinri menyayangi dan membiarkan hatinya terisi oleh perasaannya kepada lelaki itu.

Jinri tertunduk mengingat hal itu. Dan Jongin mendapatinya seperti itu ketika menoleh. Hati lelaki itu merasakan sesuatu yang… Entah apa. Dia tak bisa memastikannya. Namun rasa itu yang kemudian mendorongnya untuk berkata demikian “jadi,kau harus pastikan dirimu dibonceng dan bukannya yang membonceng”

“Apa itu berarti… Aku harus membiarkanmu memboncengku dengan sepeda mulai sekarang?!” Wajah Jinri berseri-seri

“Tentu saja tidak” Jongin menanggapi ekspresi itu dengan dingin “kau harus cari orang lain–selain kakakmu–untuk memboncengmu!”

Ucapan tegas Jongin seketika meruntuhkan angan sedetik milik Jinri. Tentu saja,Jongin tak mungkin melakukan itu.

Namun,walaupun begitu… Dia tetap ingin menanyakan itu pada Jongin…karena dia menyukainya.

*

“Untuk sementara… Hanya sampai tanganku pulih… Kau menjadi siswi sekolah ini juga anggota OSIS”

Dengan izinmu,tentu saja!‘ Seohyun menyambung ucapan Luhan dalam hatinya.

Entah bagaimana nanti hari-harinya dengan kehidupan sekolah elit ini.

Entah bagaimana hidupnya nanti dengan Luhan dan osisnya.

Dan entah bagaimana hidupnya jika tanpa Jongin

TBC

Catatan penulis : maaf untuk penyusunan alur cerita yang kurang mantap, yang seolah dibuat secara asal-asalan ini. Agaknya pada chapter pertama saya menemukan bahwa banyak bagian pada chapter pertama yang cukup sulit untuk dipadukan dengan ide yang terpikirkan oleh saya untuk chapter-chapter selanjutnya. Meski sulit,saya pribadi berharap ada sedikit pada chapter ini yang akan memberi kesan juga memiliki keterkaitan alur yang bagus dan sesuai dengan chapter sebelumnya ataupun chapter selanjutnya yang akan saya usahakan untuk rampung 🙂

Apresiasi kalian tentunya merupakan pendorong saya untuk menulis,sehingga kritik serta saran akan sangat berarti. Kekuatan untuk saya melanjutkan tulisan.

Dan seperti kemarin… Saya menyertakan juga balasan untuk komentar kalian pada chapter sebelumnya ^^ Ini dia…

 

alysiavpa : good bagus ceritanya eon, tapi ada beberapa kata yg aku kurang ngerti, next…^^

@alysiavpa : Terima kasih banyak, Alys ^^ Mudah”an untuk chapter selanjutnya pendeskripsian eon semakin baik, dan semakin jelas bagian per bagiannya =D

 

fauziyahfarkha : Ini kerennnn Di tunggu part selanjutnya

@fauziyahfarkha : Terima kasih banyak, Ziyah ^^ Tidak apa-apa yah saya panggil Ziyah… Iya ^^

 

Haeril Jjang : wh bnr2 unik crtx.tnp d sangka seohyun msk dlm kryx sndr.bnr2 lcu,,
next chapx jgn lm2 chingu

@Haeril Jjang : Terima kasih banyak,Haeril ^^ Hihi, iya. Dan semoga fic ini tetap bisa menghibur kalian ^^ Iya, siap! =D

 

Cho Ara : Keren keren ^^ aku sangat mengantisipasi lanjutannya. Lanjut ya eon ^^ ditunggu

@Cho Ara : Terima kasih banyak, Ara-ya~~ Tetap nantikan chapter per chapternya yah ^^ Siap! =D

 

dhanusekar : Aaaa di tunggu lanjutannya eon + d tunggu seohan momentnya ^^

@dhanusekar : Aaa~~ Dhanu-chan >__< Terima kasih banyak yah ^^ Siap =D

 

Little : lanjuut keon,,oh yha mian risna imnida,,bangapta eooni,,:)

@Little : iya, terima kasih banyak Risna ^^ Ne, bangapseumnida Risna =D Semoga tetap menikmati ceritanya ^^

 

Vanessa Walker : Next..thor

@Vanessa Walker : Iya =D Terima kasih Vanesa ^^

 

 

anandamitha34 : lanjut….. 🙂

@anandamitha34 : Siap! =D

 

Aristoteles : ada sedikit typo tapi tak apa,terus lanjutkan

@aristoteles : Terima kasih untuk informasinya. Kedepannya insyaallah makin berkurang typonya ^^ Sip J

 

nia    : keren thor aku.mkin pnasaran dgn crita ini. ouh y thor disini seo jdi ank SMA/ank kuliahan ?

@nia : Kebetulan mereka adalah siswa yang baru akan mendaftar SMA ^^ siap, insyaallah chapter-chapter selanjutnya akan segera posting ^^ Terima kasih banyak untuk komentarnya Nia ^^

 

Rosepink : ada beberapa yg masih bingung tapi bagus kok ^^ next~

@Rosepink : wah~~ Berarti pendeskripsiannya mesti diasah lagi ^^ Alhamdulillah masih berkenan walaupun dengan pendeskripsian yang sangat kurang ^^ Siap

 

AgnesiaAyu : Kok luhan tanganny bisa di perban sih?? ceritanya ckup menarik kok.. next yaah

@agnesiaAyu : Sempat saya jelaskan di beberapa bagian terakhir—meski tidak lengkap, karena saya termasuk buruk dalam mendeskripsi—sebab Luhan mengalami itu. ^^ Alhamdulillah jika berkenan mengikuti kelanjutannya ^^ Siap!

 

hana0709 : nextt thorrr.. joha joha lah.. yoyoyo~

@hana0709 : ne, ne! Gamsahamnida ^^

Advertisements

7 thoughts on “[Chaptered] Like a Fiction… (2 of …)

  1. wuahh ff nya lucu…
    penasaran gimana kehidupan seohyun selanjunya di sekolah nd waktu selama jd OSIS
    Next chapt d tunggu bangett….Fighting 🙂

  2. Eon!!! Itu gimana jadinya ya?? Kan secara Seohyun itu anak murid yang gk sepintar Kai apalagi Luhan….. Terus gimana dia bisa jadi anggota OSIS…. Apa nanti dia dibully? Atau tiba-tiba jadi pintar? Atau jadi primadona karena kecantikkan-nya?

  3. wahh apa jongin pnya rasa sma seohyun?? rasa strawberry misalnya #plak #abaikan

    luhqn mah sok cuek sama seohyun,entar naksir lohh ^o^
    lanjut lagi eon ^^

  4. ksian jongin cintax brtepuk sblh tngn & ksian seohyun yg hrs jd pihk yg trtinds akbt ulhx sndr pd luhan.next chapx jgn lm2 chingu

  5. akhirnya di post juga lama gak kesini soalnya pada jarang update kesini pas chap awal memang sedikit bingung tapi di chapter yg ini bisa sedikit mengerti oke lanjut

  6. blog ini dh ngg aktif lg yh???
    ff” dsni yg mseh Blom slsae pd terbengkalai noh..
    aktifin lg deh…
    mseh bnyk koq yg masih setia ama seohan(jd acebaby)
    FIGHTING ne 😀

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s