Fate To Meet You

1471281_559082044178425_372556940_n

Title : Fate To Meet You

Author : Fera Annita

Cast(s) : Lu Han, Seo Joo- Hyun

Support Cast(s) : Find by Yourself

Genre(s) : Romance, Hurt/Comfort, Family, Alternate Universe (AU)

Rated : Teens

Length : 1/1

DISCLAIMER : FANFICTION AND STORYLINE IS MINE. CAST(S) IS BELONG TO GOD, THEIR PARENTS AND MANAGEMENT

 Read SeoHyun x Kris Version here

== FATE TO MEET YOU ==

 

“Cheers!” Semua orang bersorak senang sembari bersulang dengan menyentuhkan gelas berisi minuman secara bersamaan sehingga menyebabkan suara dentingan ketika permukaan gelas itu saling menyentuh.

“Woah… Ini benar-benar hebat. Kemenangan hari ini sungguh luar biasa, terlebih karena Lu Han yang memenangkannya.” Ucap salah satu orang sambil menunjuk seorang pria yang sepertinya tidak berminat untuk mengikuti pesta sekalipun pesta itu diadakan untuk dirinya.

Lu Han hanya menyibukan dirinya sendiri sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya, membuat salah satu gadis bernama Yoon A menghampiri dirinya.

“Hey,” Yoon A lalu duduk di samping Lu Han dengan membawa gelas minuman di genggamannya. “Kau sedang apa? Kenapa tidak ikut bersenang-senang?” tanya Yoon A sembari tersenyum menatap wajah Lu Han.

“Tidak,” jawabnya singkat sembari memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya. “Sudahlah, aku mau pergi.”

Lu Han lalu bangkit berdiri sembari mengenakkan jaket kulit berwarna hitam dan berjalan pergi. Dalam waktu yang sebentar saja, Lu Han sudah menghilang membuat Yoon A menghela nafasnya pelan.

Sebenarnya, Yoon A sudah lama menyimpan perasaan kepada Lu Han. Pria itu begitu tertutup seolah mempunyai dunianya sendiri yang tidak bisa dimasuki orang lain, wajar saja jika Yoon A menjadi tertarik kepadanya. Namun, sepertinya Lu Han sama sekali tidak menaruh perhatian dan malah mengabaikannya

“Jika kau memang selalu mengabaikanku lalu kapan kau akan mengetahui perasaanku?” gumam Yoon A lirih.

xxx

“Nah, Cheese Cake sudah selesai dihias berarti pekerjaanku selesai hari ini..” Seorang gadis berbicara dengan riang melihat hasil karya buatan miliknya. Namun, hal itu tentu saja membuat semua orang yang berada di Dapur salah satu Toko yang menjual cake langsung tertuju ke padanya.

“Hey, anak paruh waktu jika kau memang sudah tidak ada pekerjaan apapun lagi cepatlah pergi dari sini.” Teriak seorang paman berusia sekitar empat puluh tahunan yang sedang membuat adonan Cake. Sepertinya paman itu terlalu lelah karena pesanan yang menumpuk ketika natal sehingga sedikit sensitif.

“Jeosonghamnida, Ahjussi,” menyadari tingkahnya, gadis itu lalu meminta maaf dengan bahasa formal. “Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

“Cih, dasar anak muda zaman sekarang,” ucap ahjussi itu sembari berdecak kesal. “Lihat saja, bahkan saat ia bekerja saja selalu ingin cepat menyelesaikannya.”

“Setidaknya ia jauh lebih baik daripada kau, In Suk. Bahkan kau sendiri lupa memberikan hadiah untuk anak-anakmu di hari natal karena kau terlalu memaksakan diri untuk bekerja di Dapur.” Sahut salah satu Ahjuma yang berada di samping gadis itu sembari menepukkan tangannya di pundak gadis itu. “Aigo In Suk, kau bisa cepat tua jika kau terus marah-marah seperti itu. Seo Hyun memang masih muda, sudah jelas dia mempunyai rencana sendiri saat malam natal seperti ini.”

“Tapi memang aku tidak mempunyai rencana apapun untuk malam natal, Ahjuma. Sungguh.” Gadis bernama Seo Hyun mencoba mengelak ucapan Ahjuma, itu memang kenyataan jika ia sama sekali tidak mempunyai rencana apapun di malam natal sekalipun ia memang pekerja paruh waktu.

Mendengar ucapan Seo Hyun membuat sang Ahjuma tertawa mendengarnya, “Sudahlah kau tidak usah mengelak. Aku mengerti dengan perasaanmu, membuatku teringat pada masa mudaku dulu. Cepat sana pergi atau keajaiban di malam natal tidak akan menghampirimu.” Ucap beliau dengan nada bicara jahil seolah berusaha menggoda Seo Hyun.

Dengan wajah yang memerah karena malu, Seo Hyun lalu berjalan keluar dan melepaskan celemek yang dikenakannya dengan berbagai pertanyaan yang menggantung di otaknya mengenai sikap Ahjuma tersebut.

“Aku bingung dengan Ahjuma itu, apakah ia terlalu sering menonton drama? Atau mungkin memang faktor umurnya yzng memasuki usia senja sehingga membuatnya bersikap seperti itu?” gumam Seo Hyun, sebelum ia akhirnya mengendikan bahunya karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya.

xxx

Lu Han terus menambahkan kecepatannya, walaupun angka di spedometer yang tertera sudah hampir menunjukkan angka dua ratus kilometer per jam namun ia sama sekali tidak memperdulikannya. Ia pasti sudah gila, begitulah anggapan orang-orang yang melihatnya mengendarai motor seperti itu.

Namun, ia sama sekali tidak memperdulikannya. Ia tak perduli jika keselamatannya bisa terancam, ia juga tidak memperdulikan orang-orang yang sedang berkendara di jalanan jalur yang sama yang mengomel karena cara berkendaranya. Baginya, itu adalah satu-satunya cara agar bisa melupakan sesuatu yang menjadi beban pikirannya saat ini.

“YA!!” dengan sedikit terburu-buru Lu Han langsung mengerem secara mendadak karena ia melihat seseorang yang sedang menyebrang tepat satu garis lurus dengannya. Untung saja motor yang dikendarai Lu Han bisa di hentikan walaupun menimbulkan bunyi decitan ketika ban motor yang berputar sangat cepat harus dihentikan mendadak sehingga bersentuhan dengan aspal jalanan atau gadis itu mungkin akan dilarikan ke Rumah Sakit saat ini.

Buru-buru Lu Han segera melepaskan helm—nya, “Jeoseonghamniida. Maaf, apa kau terluka?” tanyanya.

Gadis yang hampir menjadi korban kecelakaan dengan motor Lu Han lalu menolehkan wajahnya, “Tidak, namun kau hampir saja menabrakku.” Jawab gadis yang tak lain Seo Hyun.

“Joo Hyun?” reaksi berbeda ditunjukkan oleh Lu Han, bukannya seharusnya ia merasa lega dengan ucapan Seo Hyun tetapi ia malah terkejut seolah mengenali wajah Seo Hyun yang sangat familiar. Mungkin lebih tepatnya, Lu Han amat sangat tidak asing dengan wajah Seo Hyun. “Kau Joo Hyun, kan?” tanyanya memastikan.

Seo Hyun lalu mengerutkan keningnya dengan raut wajah yang seolah mengatakan jikia ia sama sekali tidak mengerti. “Jeoseonghamnida, tapi mungkin kau salah mengenali orang karena orang yang kau maksud mirip denganku. Aku Seo Hyun, bukan Joo Hyun. Kau salah orang.” Jawab Seo Hyun.

“Ah, maafkan aku. Lagipula kau memang bukan dia, maafkan sikapku yang tidak sopan dengan kau yang baru bertemu hari ini.” Ucap Lu Han sembari menundukkan kepalanya. “Namamu adalah Seo Hyun, bukan? Namaku Lu Han.” Lu Han lalu mengulurkan tangannya.

Seo Hyun lalu menatap wajah Lu Han dan tangan Lu Han yang berada di hadapannya. Menyadari sikap Seo Hyun membuat Lu Han mendecakkan lidahnya. “Tenang saja, aku bukanlah orang jahat yang akan melakukan sesuatu yang buruk. Lagipula kau sudah menyebutkan namamu terlebih dulu jadi tidak ada salahnya untuk berkenalan.”

Apa aku bisa mempercayainya? Bagaimana jika semua ini hanyalah tipu muslihat yang biasa dilakukan para penjahat?’ Seo Hyun terus bertanya-tanya dalam batinnya sembari menatap wajah Lu Han.

‘Tenanglah Lu Han, ingat gadis dihadapanmu bukanlah Joo Hyun. Ia sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi untukmu jadi kau tak boleh banyak berharap jika Seo Hyun adalah dia.’ Di dalam batinnya, Lu Han terus memantapkan hatinya. Lagipula, bukankah ada seorang ilmuwan mengatakan jika seseorang mempunyai kemungkinan memiliki wajah yang sama dengan beberapa orang di dunia ini. Bisa saja gadis di hadapannya ini adalah salah satunya.

“Ng… Baiklah, senang bisa berkenalan denganmu.” ucap Seo Hyun seraya menerima uluran tangan Lu Han, itu adalah sebuah sikap sopan santun kepada seseorang lagi pula rasanya sangat tidak baik jika kau menolak untuk berkenalan dengan orang lain.

“Maafkan aku karena aku hampir menabrakmu, sekali lagi. Aku benar-benar tidak sengaja,” ucap Lu Han sembari mengenakan kembali helm-nya. “Mungkin di lain waktu kita bisa bertemu lagi dan mengobrol.”  Lu Han lalu memutar kunci starter motornya dan melaju pergi.

Seo Hyun lalu menghela nafasnya pelan, “Yang benar saja bahkan dia sama sekali tidak berpamitan dulu ketika akan pergi. Aku penasaran, dimana sopan santunnya?” gumam Seo Hyun lalu kembali berjalan menyebrang.

xxx

Lu Han langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur begitu ia tiba di rumahnya, pandangannya hanya menatap langit langit ruang kamarnya. Entah kenapa ada sesuatu yang salah dengannya, wajah Seo Hyun yang baru saja ia bertemu hari ini masih terbayang di benaknya sampai hari ini.

“Joo Hyun, kenapa aku masih terbayang wajah Seo Hyun? Apa karena dia mirip denganmu?” gumam Lu Han mengubah posisi berbaringnya menjadi menghadap ke kanan, di mana ada sebuah pigura foto di atas meja kecil di samping tempat tidur. Foto dirinya yang sedang memeluk Joo Hyun dan keduanya tengah tersenyum dengan latar belakang Taman.

Lu Han lalu memejamkan matanya, ingatannya lalu berputar saat foto itu tengah diambil.

“Ya! Ya! Joo Hyun, berhenti berlari. Aku sudah lelah mengejarmu.” Ucap Lu Han sembari mengatur nafasnya karena berlari namun gadis yang dipanggil Joo Hyun hanya tertawa.

 

“Coba tangkap aku jika kau bisa menangkapku, Oppa..”Joo Hyun menjulurkan lidahnya seolah sedang berusaha menggoda Lu Han.

 

“Ya! Ya! Kau bisa terjatuh jika terus berlari seperti itu..” Lu Han menghela nafasnya pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya, baiklah mungkin Joo Hyun sangat jauh dari kata sempurna namun gadis itu cukup menarik untuk Lu Han.

 

Kilasan ingatan yang terlintas di pikiran Lu Han tentu saja membuat Lu Hantal bening air mata menggenang di pelupuk mata pria bersurai blonde itu, ia lalu menutupi matanya dengan lengannya agar seorang pun yang tanpa sengaja memasuki kamarnya dan melihatnya seperti itu.

“Joo Hyun, mengapa kau meninggalkan aku begitu cepat?” gumam Lu Han lirih.

XXX

“Seo Hyun, tolong antarkan ini kepada pengunjung meja bernomor 7.” Ucap seorang Ahjusi berumur sekitar empat puluh tahunan kepada Seo Hyun yang sedang mengadukan adonan kue di dalam mangkuk besar. Hari ini adalah hari natal, tentu saja Cafe dimana ia bekerja paruh waktu sangat ramai oleh pengunjung.

“Baik, Ahjusi..” ucap Seo Hyun seraya menerima pesanan itu, sepotong tiramisu dan secangkir capucinno latte. Sangat mengugah selera.

Seo Hyun lalu menolehkan kepalanya, meja nomor tujuh ditempati oleh seorang pria yang sedang memandangi pemandangan di luar Cafe yang hanya dibatasi kaca. Ia lalu mengantarkan pesanan itu, “Pesanan anda, Agashi.” Ucap Seo Hyun formal sembari menaruh pesanan itu di atas meja.

Pria itu mendengar suara Seo Hyun segera menolehkan kepalanya, “Kau? Bukankah kau yang semalam secara tidak sengaja aku hampir menabrakmu?” tanyanya yang tidak lain adalah Lu Han.

Tak kalah terkejutnya, Seo Hyun juga tidak percaya dengan seseorang di hadapannya, “Kau? Bukankah kau yang semalam mengendarai motor dengan kecepatan yang cukup tinggi?” Seo Hyun berbalik bertanya. “Baiklah, tunggu sebentar disini. Aku pekerja paruh waktu dan jam kerjaku sebentar lagi selesai.” Ucap Seo Hyun seraya membungkukkan badannya dan berjalan pergi menuju Pantry untuk mengantarkan pesanan pengunjung yang lain.

“Ck, anak itu,” gumam Lu Han mendenggus melihat tingkah Seo Hyun. “Yang benar saja, apa  dia berpikir aku mencarinya karena aku hampir menabraknya semalam?”

Lu Han menyesap sedikit capucinno latte yang ia nikmati hari ini sambil memperhatikan Seo Hyun dari kejauhan. Perasaan memang benar jika Seo Hyun memang sangat mirip dengan Joo Hyun yang sangat ia kenal. Walaupun ada sedikit perbedaan jika Seo Hyun dengan poni membingkai wajahnya.

Setelah beberapa saat Seo Hyun lalu kembali dengan celemek yang kini sudah tak melingkar di pinggangnya. “Maaf jika tadi aku kurang sopan, aku bekerja di tempat ini jadi tadi aku harus kembali bekerja sebelum jam kerjaku berakhir.” Ucapnya menjelaskan tingkahnya membuat Lu Han hanya ber’oh’ ria mendengarnya.

“Kau bekerja di sini?” gumam Lu Han seraya menyesap sedikit minuman miliknya. Gadis itu lalu menganggukkan kepalanya.

“Ya, aku bekerja di sini. Lebih tepatnya aku bekerja paruh waktu.” Ucapnya membuat Lu Han mengerti.

‘Joo Hyun, sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku selalu melihat bayanganmu di gadis ini?’ Lu Han bergumam dalam hatinya, ada apa dengan dirinya? Sudah jelas jika Joo Hyun pergi untuk selamanya namun mengapa saat ia melihat Seo Hyun hatinya berdesir seperti apa yang ia rasakan saat melihat Joo Hyun?

“Ng..” Seo Hyun menatap bingung Lu Han saat menyadari pria itu menatapnya dengan tatapan seolah sedang memikirkan sesuatu. “Apakah ada sesuatu di wajahku?” tanya Seo Hyun bingung.

“Eh? Tidak, sungguh tidak ada apapun.” Sadar dengan tingkahnya, Lu Han lantas menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Seo Hyun lalu menghela nafasnya. “Ah ku kira ada sesuatu di wajahku. Aku takut jika krim yang ku gunakan untuk menghias cake menempel di wajahku tanpa aku menyadarinya.” Ucap Seo Hyun jujur.

Mereka berdua lalu terlibat dalam obrolan ringan seperti mengapa Lu Han mengebut di kemarin malam dan apa alasan Seo Hyun bekerja paruh waktu di Cafe. Satu poin penting yang dapat di tangkap oleh Lu Han tentang Seo Hyun saat mereka mengobrol, gadis itu tergolong seseorang yang cukup bersahabat. Ah, hal itu juga mengingatkannya kepada Joo Hyun.

“Astaga,” gumam Seo Hyun saat melihat jam di layar ponselnya. “Mengobrol denganmu sampai membuatku lupa jika hari ini adalah waktuku bekerja sebagai petugas perpustakaan.” Ucapnya terburu-buru.

“Jadi kau juga bekerja sebagai petugas perpustakaan?” Lu Han mengerutkan dahinya tak percaya mendengar ucapan Seo Hyun. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.

“Aku memang banyak bekerja sebagai paruh waktu di berbagai tempat. Hanya dengan hal itu aku bisa mendapatkan uang. Aku permisi, aku harus pergi. Senang bisa mengobrol denganmu, Lu Han.” Ujar Seo Hyun hendak beranjak meninggalkan Lu Han.

“Tunggu,” belum sempat Seo Hyun melangkahkan kakinya, tangan Lu Han mencengkram pergelangan tangannya memaksa gadis itu untuk bertatapan dengan pria itu bertanya-tanya. “Aku akan mengantarmu.”

“Eh?” Seo Hyun cukup terkejut dengan apa baru saja ia dengar. Apa telinganya bermasalah sehingga ia mendengar jika Lu Han akan mengantarnya? “T-Tidak, tidak usah mengantarku. Aku terbiasa naik bis untuk mencapainya.” Ujar Seo Hyun menolak dengan halus tawaran Lu Han seraya mengibaskan tangannya beberapa kali. Lu Han lalu mendecakkan lidahnya tak puas dengan respons Seo Hyun.

“Aku tak menerima penolakan,” sahut Lu Han segera menarik tangan Seo Hyun keluar meninggalkan Cafe itu. Mereka lalu berjalan menghampiri motor milik Lu Han yang terparkir di luar Cafe, pria itu lalu menyodorkan sebuah helm kepada Seo Hyun. “Pakailah.”

“Eh? Tapi.. Tapi..”

“Sudah, jangan banyak alasan.” Ucap Lu Han menatap tajam Seo Hyun, membuat gadis itu menghela nafasnya pelan dan hanya pasrah mengikuti apa yang di suruh oleh Lu Han. Motor kemudian melaju meninggalkan tempat itu.

 XXX

“Fuah, lelahnya..” gumam Seo Hyun ketika ia baru saja selesai mandi dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Sangat nyaman ketika tubuhnya menyentuh permukaan ranjang miliknya. “Tapi, aku masih tak mengerti kenapa pria bernama Lu Han itu selalu salah memanggilku dengan sebutan Joo Hyun. Siapa Joo Hyun yang di maksudkan?”

Memang benar, Lu Han terkadang salah memanggil nama Seo Hyun, pria itu lebih sering memanggilnya dengan sebutan Joo Hyun. Entah siapakah Joo Hyun itu, namun satu hal yang pasti yang dapat di tangkap oleh Seo Hyun ketika Lu Han sering melihatnya dengan sendu. Gadis bernama Joo Hyun itu mungkin adalah kekasih Lu Han.

Seo Hyun lalu menoleh kepada figur yang terletak di atas meja nakas dan meraihnya. Pandangannya berubah sendu saat melihat potret sebuah keluarga dengan dua orang anak perempuan yang di peluk oleh kedua orang tuanya.

“Appa, Eomma, kenapa kalian meninggalkanku? Kenapa Eomma lebih menyayangi Eonni dibandingkan aku?” gumam Seo Hyun terisak. Pelupuk kedua mata Seohyun kini telah basah oleh butiran Lu Hantal air mata yang membasahi, membuatnya teringat kepada masa kecilnya. Potongan ingatan yang sebenarnya jika Seo Hyun bisa, ia sangat ingin melupakannya.

“Eomma, Appa, Eoddiseyo?”

 

“Appa di mana? Eomma? Eonni?”

 

“Hiks.. Aku takut Eomma, kenapa Eomma meninggalkan aku sendirian? Apakah Seo Hyun adalah anak yang nakal? Kenapa Eomma lebih menyayangi Eonni dan meninggalkan Seo Hyun sendirian?”

 

Seo Hyun membuka matanya perlahan, berusaha menahan perasaannya sendiri untuk tidak kembali teringat akan masa lalunya. Sejak kecil ia memang sudah hidup terpisah dengan kedua orang tuanya dan saudaranya dan tinggal di Panti Asuhan. Entah apa alasan mereka meninggalkan Seo Hyun yang masih berumur enam tahun dan sekarang ia sudah berumur dua puluh tahun. Empat belas tahun ia hidup terpisah dari keluarganya membuatnya cukup mandiri bahkan selepas ia keluar dari Panti Asuhan. Yang tersisa jika ia mempunyai keluarga adalah sebuah foto yang terselip dalam tas yang Seo Hyun bawa saat itu.

“Kenapa kalian meninggalkanku?” gumam Seo Hyun lirih.

XXX

“Lu Han, lama tak berjumpa,” ucap kepala keluarga Kim ketika menyapa Lu Han di pintu masuk kediaman keluarga Kim. “Masuklah, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu.” Ucap pria berusia lima puluh tahun itu mempersilakan Lu Han untuk masuk.

Lu Han lalu mengikuti Tuan Kim menuju Ruang Tamu, di mana Nyonya Kim dan anak laki-laki keluarga Kim bernama Jung Kook sudah menunggunya.

“Apa yang ingin di bicarakan denganku? Dan kenapa kalian memanggilku sedangkan kalian tahu jika aku yang telah menyebabkan Joo Hyun meninggal?” tanya Lu Han lirih, teringat jika dirinya sendiri adalah penyebab mengapa Joo Hyun pergi untuk selamanya. Kalau saja hari itu ia tak mengajak Joo Hyun pergi, kalau saja ia tak membawa gadis itu dengan motor, kalau saja ia lebih cepat menghindari truk yang berlawanan arah di hadapan mereka dan kalau saja jika saat itu ia yang meninggal bukannya Joo Hyun.

Sadar jika Lu Han masih terpuruk dengan kematian Joo Hyun, Nyonya Kim menghela nafasnya pelan. “Lu Han, aku tahu kau masih menyalahkan dirimu sendiri atas kematian Joo Hyun. Tapi bukan hanya kau yang kehilangan Joo Hyun, kami semua juga kehilangan anak itu namun kau juga harus tahu tentang hal ini.” Ujar wanita itu.

“Sebenarnya kami juga tak bermaksud merahasiakannya, bahkan Joo Hyun sendiri tidak tahu akan hal itu. Mungkin ia sudah lupa tapi kami merasa kau harus mengetahuinya.” Tambah Tuan Kim, ia lalu menoleh kepada istrinya. Nyonya Kim yang terduduk di sampingnya menganggukkan kepalanya. “Sebenarnya Joo Hyun memiliki saudara kembar.”

“Apa kalian bercanda? J-Joo Hyun memiliki saudara kembar?” Lu Han seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kekasihnya memiliki saudara kembar? Lalu, di manakah ia sekarang?

“Sayangnya ia telah menghilang dari kami,” ucap Nyonya Kim lirih. “Joo Hyun dan Ri Hyun, mereka terlahir kembar dan Joo Hyun terlahir lebih dulu beberapa menit sebelum Ri Hyun lahir. Joo Hyun memiliki kepribadian yang sangat ceria berbeda dengan Ri Hyun yang tenang, karena itu kami harus memberikan perhatian ekstra kepada Joo Hyun dari pada Ri Hyun. Namun hal itu membuat kami menyesal akibat terlalu memberikan perhatian yang berlebih kepada Joo Hyun sampai kami tak menyadari jika Ri Hyun terpisah dengan kami saat sedang berlibur.”

“Kami sudah berusaha untuk mencari Ri Hyun, sayangnya semua orang yang datang kepada kami hanyalah orang-orang omong kosong belaka yang menginginkan uang saja sehingga kami menyerah untuk mencari Ri Hyun.” Ucap Tuan Kim menutup cerita.

Lu Han terdiam, benarkah seperti itu? Dan kenapa pikirannya langsung terlintas Seo Hyun saat kedua orang tua Joo Hyun menceritakan tentang Ri Hyun, saudara kembar Joo Hyun?

“Tidak ada maksud apa-apa kami menceritakan hal ini kepadamu dan Jung Kook. Kami tak berharap bisa bertemu dengan Ri Hyun sekali lagi, kami hanya tak ingin tak ada rahasia yang harus di sembunyikan sehingga kami tak perlu merasa bersalah seperti apa yang kami rasakan kepada Joo Hyun.”

XXX

“Ya! Seo Hyun, tolong antarkan ini kepada pengunjung di meja nomor sebelas.” Ujar seorang Ahjuma menaruh sepotong sandwich dan segelas milkshake cokelat di atas nampan yang di bawa Seo Hyun ketika gadis itu menghampirinya.

“Baik, Cho Rong Ahjuma.” Ucap Seo Hyun pelan sebelum berjalan menuju meja nomor sebelas untuk mengantarkan pesanan. Di hari weekend seperti ini Cafe memang buka lebih awal bertepatan dengan jam sarapan karena pemilik Cafe, Jessica, sangat mengetahui jika hari Minggu banyak warga kota Seoul yang menyempatkan diri untuk bangun di hari libur lebih awal untuk berolahraga. Sudah tentu jika mereka selesai olah raga, mereka akan mencari sesuatu untuk mengisi perut mereka.

Cafe di hari Minggu pagi tidak cukup ramai namun tidak bisa di katakan cukup sepi juga, setidaknya Seo Hyun bisa tetap menarik nafas lega dalam menyelesaikan pekerjaannya. Langkahnya lalu membawa dirinya mencapai meja nomor sebelas. “Pesanan anda, Agashi.” Ujar Seo Hyun formal seraya menaruh piring dan gelas di atas meja.

“Yo, selamat pagi Seo Hyun.” Ucap seseorang yang menempati meja nomor sebelas menolehkan kepalanya, seseorang yang tak lain Lu Han cukup membuat Seo Hyun tidak percaya.

“Kau lagi?” gumam Seo Hyun pelan, namun masih dapat di dengar oleh pria itu.

“Kenapa?” sahut Lu Han. “Memangnya aku tak boleh datang lagi ke Cafe ini?”

“Eh?” Seo Hyun cukup terkejut dengan sahutan Lu Han. Tangannya lalu di kibaskannya beberapa kali. “B-Bukan begitu, hanya saja apa yang kau lakukan di hari Minggu pagi seperti ini?”

“Seperti yang kau lihat, aku sedang sarapan pagi.”

“Aku juga tahu akan hal itu. Bukan itu yang ingin ku tanyakan.”

“Ey, kau cukup perhatian sekali kepadaku,” ucap Lu Han menyunggingkan sebuah senyuman jahil di wajahnya. “Apa kau mulai menyukaiku? Apa kau menyukai wajahku yang tampan sampai kau sangat perhatian kepadaku?”

Seo Hyun lantas memutar bola matanya malas, seakan jengah dengan apa yang di ucapkan oleh Lu Han yang membanggakan dirinya sendiri. “Tidak, sudahlah aku akan kembali bekerja. Selamat menikmati hidangannya.” Ucap Seo Hyun sopan dan berbalik hendak berjalan pergi.

“Tunggu sebentar,” ucap Lu Han seraya menahan tangan Seo Hyun agar gadis itu tidak pergi. “Temani aku sarapan.”

“Tapi aku harus bekerja, maaf aku tak bisa.” Ucap Seo Hyun berusaha melepaskan genggaman tangan Lu Han yang menggenggamnya erat.

“Bukankah pelanggan itu adalah Raja? Kalau begitu, aku memintamu untuk menemaniku sarapan saja tidak lebih.” Ucap Lu Han. Seo Hyun lalu menoleh kepada Jessica yang tengah memperhatikannya tidak jauh darinya berusaha untuk meminta bantuan. Namun bukannya membantunya, gadis itu malah memberikan isyarat untuk menuruti apa yang di minta oleh Lu Han sembari mengedipkan sebelah matanya.

“Jika kau mau menemaniku sarapan aku berjanji akan membawa teman-temanku kemari.” Ucap Lu Han membuka mulutnya berbicara. Seohyun lalu menghela nafasnya pelan dan menganggukkan kepalanya pasrah.

“Baiklah, hanya menemanimu sarapan dan tidak lebih.” Ucap Seo Hyun seraya menarik kursi yang terletak di hadapan Lu Han.

XXX

Ada yang berubah dari Lu Han belakangan ini, ia sama sekali tak berinteraksi dengan teman-temannya bahkan hanya untuk sekedar berkumpul saja tidak. Pria itu kini lebih sering datang mengunjungi Cafe di mana Seo Hyun bekerja daripada kembali kepada kebiasaan lamanya seperti balapan liar.

Hal itu tentu saja membuat Seo Hyun pusing di buatnya, terlebih ketika Lu Han sering kali memaksanya untuk membantu Seo Hyun seperti mengantarkan pesanan kepada pengunjung atau membereskan meja yang baru saja di tinggalkan oleh pengunjung yang baru saja pergi meninggalkan Cafe.

“Ya! Ya! Kau..” Seo Hyun mendecakkan lidahnya kesal seraya menunjukkan jari telunjuknya di depan wajah Lu Han. “Bisakah kau berhenti menggangguku? Kau tahu bukan aku bekerja paruh waktu di sini jadi kau tak usah bersusah payah untuk menungguku hingga jam kerjaku selesai atau mencoba membantuku.”

“Tapi aku tak bermaksud untuk mengganggumu, aku hanya ingin membantu.” Ucap Lu Han seraya mengangkat bahunya asal.

Seo Hyun berdesis saat Lu Han menyahutnya seperti itu. “Ya! Lu Han, aku menghargaimu karena mau membantuku tapi aku minta maaf karena kau tak boleh membantuku.”

“Kenapa aku tak boleh membantumu?”

“Karena ini adalah pekerjaanku. Sudah tugasku untuk melakukan banyak hal selama bekerja.”

“Kalau begitu aku akan meminta bosmu untuk memberiku juga pekerjaan di tempat ini.”

“Eh?” Seo Hyun sama sekali tak mempercayai apa yang baru saja Lu Han katakan. “Ya! Hey, jangan bodoh!” ucapnya seraya menjitak kepala Lu Han yang dengan bangganya mencetuskan ide seperti itu. Hey ayolah, Lu Han itu sangat jauh berbeda dengan dirinya. Apa yang sebenarnya di pikirkan oleh pria itu hingga ia mendapat ide gila seperti itu?

“Haissh.. Aku tak bodoh, dan yang kedua aku serius dengan ucapanku,” ucap Lu Han seraya mengusap kepalanya beberapa kali. “Aku memang ingin bekerja di sini karena ku lihat Cafe ini kekurangan karyawan. Aku bisa membantu kalian bukan?”

“Jebal, Lu Han,” Seo Hyun menghela nafasnya pelan. “Bisakah kau berhenti saja sekali untuk mencoba membantuku?”

Lu Han segera menggelengkan kepalanya. “Maaf aku tak bermaksud untuk mengganggumu, hanya saja wajahmu sangat mirip dengan seseorang.” Ucapnya lirih, teringat dengan Joo Hyun.

“Kekasihmu?” Seo Hyun mengerutkan dahinya bingung.

“Tidak usah di bahas, aku akan menceritakannya nanti.” Ucap Lu Han menolak untuk bertatapan wajah dengan Seo Hyun.

XXX

“Aku penasaran kenapa kau tinggal sendirian di sini.” Ucap Lu Han ketika malam ia mengantar Seo Hyun pulang dan memutuskan untuk mampir sebentar di rumah kecil milik Seo Hyun.

“Aku memang tinggal sendirian.” Sahut Seo Hyun menyodorkan segelas minuman kepada Lu Han. Hanya segelas jus jeruk, tak buruk menurutnya karena jarang orang yang datang bertamu ke rumah milik Seo Hyun.

“Orang tuamu?” tanya Lu Han mengerutkan dahinya. Mendengar pertanyaan Lu Han membuat raut wajah Seo Hyun seketika berubah sedih.

“Tidak tahu,” ucap Seo Hyun lirih. “Mereka meninggalkanku sejak kecil bahkan aku tak tahu di mana mereka sekarang dan siapa namaku sebenarnya. Namaku sekarang adalah pemberian Ibu pemilik panti asuhan.”

“Panti asuhan?” Lu Han kembali mengerutkan dahinya. Mendengar cerita Seo Hyun membuatnya kembali teringat kepada cerita orang tua Joo Hyun. Mungkinkah Seo Hyun adalah Ri Hyun, adik kembar Joo Hyun?

“Ya, sudahlah aku tak mau membahasnya.” Ucap Seo Hyun seraya mengusap pelupuk matanya yang basah beberapa kali karena air mata yang mulai menggenang.

Lu Han, dengan sekali sentuhan tangannya langsung menarik Seo Hyun ke dalam pelukannya erat. Tangannya mengusap kepala Seo Hyun beberapa kali mencoba menenangkan gadis dalam pelukannya. “Kau tak usah menangis, aku mengerti perasaanmu.” Ucap Lu Han tepat di telinga Seo Hyun.

Gadis itu terdiam. Bukannya ia tak bisa memberontak atau membuat Lu Han menjauh darinya namun entah mengapa tubuhnya tak bisa menolak saat Lu Han memeluknya seperti ini. Hatinya terasa hangat dan nyaman, inikah pelukan yang penuh kasih sayang yang selama ini ia rindukan? Jika tidak, mengapa Seo Hyun tak bisa menolaknya sama sekali?

Lu Han lalu menatap Seo Hyun seraya mengusap puncak kepala gadis itu lembut. “Aku tak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi besok ada sesuatu yang perlu aku pastikan dan ini menyangkut denganmu.”

XXX

“Joo Hyun?” Ibu Joo Hyun benar-benar tak mempercayai apa yang di lihatnya saat Lu Han membawa Seo Hyun ke rumah Joo Hyun. Untuk memastikan sesuatu.

“Maaf Ahjuma, namun namaku adalah Seo Hyun bukan Joo Hyun. Anda salah orang.” Ucap Seo Hyun mengintrupsi. Mencoba untuk maklum kepada wanita berusia lima puluh tahun di hadapannya.

“Tidak, mungkin aku salah memanggil namamu tapi aku tak mungkin salah mengenali wajah itu. Kau adalah anakku.” Ucap Nyonya Kim seraya memeluk Seo Hyun membuat gadis itu terdiam. Kenapa pelukan wanita yang memeluknya terasa tidak asing sedangkan ini adalah pertama kalinya ia bertemu?

“Ada apa ribut-ribut, Shin Hye?” ucap Tuan Kim keluar dari kamarnya karena mendengar suara yang berisik. Kedua mata pria paruh baya itu cukup terkejut saat melihat istrinya memeluk seorang gadis, dan ia mengenali siapa wajah gadis yang tengah di peluk oleh istrinya. “Joo Hyun?”

“Eommoni, Abeoji,” ucap Lu Han akhirnya membuka mulutnya berbicara. “Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan, aku tak tahu ini adalah kenyataan atau hanya perasaanku saja tapi harus ku pastikan dan ini menyangkut dengan Ri Hyun, saudara kembar Joo Hyun.”

XXX

“Ri Hyun?” Seo Hyun mengerutkan dahinya tak mengerti. “Jadi namaku yang sebenarnya adalah Ri Hyun?”

Tuan dan Nyonya Kim segera menganggukkan kepalanya. “Benar, namamu yang sebenarnya adalah Ri Hyun. Kau benar-benar anak kami, aku sama sekali tak menyangka akan bertemu lagi denganmu.” Ucap Tuan Kim dengan haru tak percaya anaknya yang telah lama menghilang bertemu dengannya lagi.

Awalnya, Lu Han sedikit menceritakan tentang Seo Hyun membuat mereka sedikit tak mempercayai ucapan pria itu. Namun setelah Seo Hyun menunjukkan foto potret keluarga yang terselip saat ia terpisah dengan keluarganya membuat Tuan dan Nyonya Kim percaya jika Seo Hyun memang benar-benar anak mereka.

“Aigo, Ri Hyun, kau pasti sangat menderita sekali?” ucap Nyonya Kim mengusap pipi Seo Hyun. “Eomma benar-benar minta maaf tidak bisa menjagamu dengan baik saat itu dan lebih memperhatikan kakakmu. Eomma sungguh menyesal.”

“Maaf, tapi anda tak usah meminta maaf,” ucap Seo Hyun segera menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Tak seharusnya anda meminta maaf.”

“Tapi kalau saja saat itu Eomma menjagamu dengan baik maka kau pasti tumbuh bersama dengan Joo Hyun. Masuk di sekolah yang sama, tumbuh bersama dan berbagi kamar bersama.”

“Tidak perlu merasa bersalah kepadaku, ehm… Eomma.”

“Tunggu sebentar, Eomma dan Appa akan mengambilkan album foto kalian sewaktu kecil.” Ucap Tuan dan Nyonya Kim bangkit berdiri. “Jangan ke mana-mana, tetap di sini.”

Seo Hyun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Selepas Tuan dan Nyonya Kim menghilang dari pandangan, tangannya lalu terulur mengambil pigura foto yang terletak di atas meja kecil di sampingnya. Sebuah foto saat seseorang yang mirip dirinya di apit oleh Tuan dan Nyonya Kim bersama seorang anak laki-laki. Itu pasti Joo Hyun, pikir Seo Hyun.

“Itu adalah ketika kami lulus sekolah. Kau bisa melihat sendiri Joo Hyun yang mirip denganmu, dan anak laki-laki itu adalah Jung Kook. Adik Joo Hyun yang secara langsung juga merupakan adikmu.” Ucap Lu Han seraya menunjuk anak laki-laki dalam foto itu.

“Benarkah? Aku iri dengan Joo Hyun Eonni,” sahut Seo Hyun tersenyum miris. “Bahkan ia di kelilingi banyak orang yang menyayanginya. Berbeda denganku yang menyayangiku hanya Ibu Panti Asuhan.”

“Tapi sekarang kau sudah mempunyai keluarga, Seo Hyun. Banyak orang yang menyayangimu.” Sahut Lu Han memberanikan diri untuk memegang tangan Seo Hyun. “Kau sudah tak sendirian.”

“Lu Han,” panggil Seo Hyun menatap Lu Han. “Boleh aku mengetahui mengapa kau tetap berusaha untuk membantuku? Apa karena wajahku yang mirip dengan Joo Hyun Eonni?” tanya Seo Hyun.

Lu Han menghela nafasnya pelan. “Awalnya seperti itu, aku mencoba untuk dekat denganmu karena kau mirip dengan Joo Hyun namun kemudian aku sadar jika kau adalah Seo Hyun bukan Joo Hyun. Sekalipun aku sangat mencintai Joo Hyun aku akan merasa bersalah sudah menyamakanmu dengan Joo Hyun. Anak itu sudah pergi dan tak akan kembali untuk selamanya, aku tahu akan hal itu dan aku adalah penyebab semuanya. Kalau saja bukan karena ku, semua itu tak akan terjadi.”

“Tidak, Lu Han tidak. Itu semua bukan salahmu.” Ucap Seo Hyun menggelengkan kepalanya. “Kau boleh percaya kepadaku, Joo Hyun Eonni meninggal bukan karena mu.”

“Maaf, aku minta maaf kepada mu karena aku memisahkan kalian akibat kecelakaan itu,” ucap Lu Han. Tubuhnya sedikit bergetar. “Aku sungguh minta maaf.”

“Kau tak perlu meminta maaf kepada ku, Lu Han dan kau tak perlu merasa bersalah kepada Joo Hyun Eonni. Semuanya sudah terjadi dan ini adalah takdir, sesuatu yang tak bisa di hindari.” Ucap Seo Hyun seraya memeluk Lu Han. “Kau tak perlu merasa bersalah lagi, Lu Han. Joo Hyun Eonni pasti mengerti, ia akan mengatakan hal yang sama denganku.”

XXX

“Aku heran denganmu Seo Hyun, padahal kau sudah di tawari oleh orang tuamu untuk tinggal bersama mereka dan tak perlu bekerja paruh waktu lagi di sini tapi kenapa kau menolaknya?” tanya Lu Han di suatu kesempatan saat ia datang mengunjungi Seo Hyun di tempat gadis itu bekerja.

“Kenapa memangnya?” tanya Seo Hyun berbalik bertanya. “Aku hanya ingin hidup mandiri. Lagi pula walaupun aku meminta untuk mereka memanggilku dengan nama Seo Hyun dan kembali ke rutinitasku seperti dulu aku akan mengunjungi mereka sesekali. Aku cukup berterima kasih kepadamu karena kau membuatku menemukan orang tuaku dan mengetahui namaku sebenarnya, itu sudah cukup bagiku.”

“Hm.. Tapi menurutku memang nama Seo Hyun terdengar lebih indah dibanding dengan nama lahirmu Ri Hyun.” Ucap Lu Han.

“Eh?” mendengar ucapan Lu Han yang lebih menyukai namanya sekarang di bandingkan nama lahirnya membuat pipi Seo Hyun bersemu merah.

“Lu Han? Kau di sini?”

Mendengar suara seseorang memanggil Lu Han membuat keduanya menolehkan kepalanya. Tampak teman-teman lama Lu Han seperti Chan Yeol, Se Hun, Kai dan Yoon A. Namun gadis itu cukup terkejut saat melihat Seo Hyun, tidak percaya jika ia akan melihat wajah milik Joo Hyun yang sudah jelas meninggal di hadapannya.

“Pfft.. Jadi itukah alasanmu mengapa belakangan ini kau sulit sekali di hubungi karena kau sekarang berpacaran dengan pelayan Cafe? Ini benar-benar tak bisa di percaya.” Ujar Kai seraya berusaha menahan tawanya.

“Astaga Lu Han, aku tahu ia cantik dan mirip dengan Joo Hyun tapi matamu tak bermasalah bukan? Lihatlah ada Yoon A di sini dan kau malah lebih memilih pelayan Cafe ini.” Tambah Se Hun seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Lu Han memilih untuk tak menanggapi ucapan pedas dari teman-temannya, ia lalu menolehkan kepalanya menatap Seo Hyun namun gadis itu malah berusaha tersenyum kepada teman-temannya. “Teman-temanmu, Lu Han? Kalau begitu aku permisi, masih banyak hal yang harus aku kerjakan di belakang.” Ucap Seo Hyun membungkukkan badannya sopan dan berjalan pergi.

“Wow, ia tidak sopan sekali meninggalkan pengunjung Cafe tempatnya bekerja seperti ini aku akan membicarakan ini dengan bosnya agar ia memecat pelayan itu.” Ucap Ji Yeon seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis itu lalu di rangkul oleh kekasihnya, Chan Yeol.

“Sudahlah, kau tak boleh membuat kekasih Lu Han kehilangan pekerjaannya. Memangnya mau dari mana gadis itu hidup jika ia kehilangan pekerjaannya?” sahut Chan Yeol seraya tertawa.

“Jadi, kapan kau akan kembali bergabung dengan kami Lu Han? Kami akan berpesta hari ini, apa kau mau ikut?” tawar Kai menoleh kepada Lu Han.

“Bergabung?” Lu Han menyahut ajakan Kai dengan datar. “Sejak kapan aku bergabung dengan kalian? Aku tak pernah merasa aku adalah salah satu bagian dari kalian.”

“Han? Come on, kami hanya bercanda dengan kekasihmu. Kenapa kau menjadi sensitif seperti ini?” sahut Se Hun.

“Kalian salah besar jika kalian bercanda seperti itu. Kalian bahkan jauh lebih buruk daripada apa yang aku duga. Justru aku yang menyesal karena pernah kenal dengan kalian,” ucap Lu Han berbalik. Ia lalu menoleh sekali lagi kepada teman-temannya – mungkin sudah bukan baginya sekarang. “Mulai sekarang jangan pernah lagi mencoba menghubungiku untuk apapun termasuk taruhan konyol yang kalian lakukan, aku tahu kalian hanya mencari keuntungan dari ku saja dengan alasan pertemanan. Tidak lebih.”

Lu Han lalu berjalan mendekati Yu Ri, salah satu teman kerja Seo Hyun untuk menanyakan keberadaan gadis itu. Yu Ri lalu mengatakan jika Seo Hyun berada di Pantry, benar saja saat Lu Han mendatangi di sana tampak Seo Hyun sedang mengusap air matanya.

“Seo Hyun..” panggil Lu Han hendak menghampiri Seo Hyun.

“Jangan mendekat,” sahut Seo Hyun membuat pergerakan Lu Han terhenti. “Teman-temanmu benar, Lu Han. Seharusnya kau tak berada di dekatku, aku hanya seorang pelayan berbeda denganmu. Dunia kita sangatlah berbeda.”

“Siapa bilang berbeda?” sahut Lu Han melangkahkan kakinya dan menatap Seo Hyun. “Kita berpijak di tempat yang sama dan menghirup udara yang sama jadi apa yang membedakan kita? Kasta? Itu hanyalah pikiran orang yang dangkal, aku tak pernah menganggapmu rendah.”

“Tapi..”

“Seo Hyun, tatap aku. Apa aku pernah memperlakukanmu seperti itu?” tanya Lu Han membuat Seo Hyun terdiam. Apa yang di ucapkan Lu Han memang setengahnya benar, bahkan mungkin sepenuhnya benar.

“Jika aku berpikiran yang sama dengan orang lain, kenapa aku bisa jatuh cinta denganmu Seo Hyun?”

“Eh?” Seo Hyun sama sekali tak mempercayai apa yang baru saja Lu Han ucapkan. Apa ia tak salah mendengar?

“Aku serius dengan ucapanku, aku mencintaimu Seo Hyun.” Ucap Lu Han memperjelas ucapannya.

“Tapi..”

“Tapi kenapa, Seo Hyun? Kau berpikir jika aku mencintaimu karena melihat sosok Joo Hyun pada dirimu?” ucap Lu Han membuat Seo Hyun diam dan hanya mengigit bibir bawahnya. Lu Han lalu menghela nafasnya pelan. “Kau salah besar. Aku memang mencintai Joo Hyun, tapi aku harus tetap melanjutkan hidup. Aku sadar jika kau adalah Seo Hyun, dan aku tak melihatmu sebagai Joo Hyun. Aku melihatmu sebagai Seo Hyun.”

Lu Han lantas memeluk Seo Hyun. “Lu.. Kau serius?” tanya Seo Hyun tak percaya.

“Aku serius dengan ucapanku. Jangan pernah meragukan ucapanku.” Ucap Lu Han.

Tangan Seo Hyun lalu tergerak membalas pelukan Lu Han. “Aku juga mencintaimu, Lu Han.” Ucapnya terisak.

 XXX

“Jaga ia untukku, Seo Hyun. Lu Han Oppa, aku akan selalu mencintaimu.” Tampak sesosok seorang gadis dengan wajah yang mirip dengan Seo Hyun dengan pakaian yang serba putih – Joo Hyun tersenyum dengan lembut saat melihat Lu Han berpelukan dengan Seo Hyun.

“Semoga kalian berbahagia..” ucap Joo Hyun kemudian perlahan menghilang, tepat saat bibir Lu Han dan Seo Hyun bersentuhan berciuman.

END

Advertisements

One thought on “Fate To Meet You

Silahkan berkomentar~ ^^ #AceBabySeoHanjjang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s