Yes, I Love You – Chap 4

Please promote this story and dont forget to vote and leave your comment

“Wae? Kenapa aku harus naik?”

Luhan menatapku lama dia menarik napas sebelum menjawab. “Kai memintaku untuk mengantarmu.”

“Oppa? Tapi dia tidak mengatakan apa pun padaku tadi.”

Laki-laki itu mengangkat bahu. “Mungkin dia lupa.”

Kupandang Luhan dengan ragu. Benarkah Jongin oppa meminta laki-laki ini mengantarku. Lalu kenapa harus dia?

“Kau akan terus berdiri di situ?”

Sekali lagi aku berpikir, mengedarkan pandangan ke jalan yang cukup sepi. Dalam hati aku lega. Bukan apa-apa. Jika ada orang yang tahu, aku tidak akan terkejut jika besok seluruh kampus tahu dan itu berarti bencana untukku.

Menjadi musuh penggemar Luhan adalah hal terakhir yang kuinginkan. Napas panjang keluar dari hidungku. “Kajja.”

Luhan menyalakan mesin motornya, dia tak mengatakan apa-apa lagi selama perjalanan dan itu sungguh menyiksa. Begitu kami berdua sampai di depan rumah aku tidak tahu harus mengatakan apa atau apakah harus menyuruhnya mampir ke dalam rumah.

Sebagai gantinya laki-laki itu memandangku lama. Demi Tuhan kenapa dia suka sekali melakukannya.
“…kau datang ke pesta Yoona besok?”

Tahu darimana dia aku diundang ke pesta itu.
“…Eh aku tidak tahu.”

“Kurasa kita akan bertemu lagi.”

‘Glek!’

“..sampai jumpa.” dia menyalakan motornya pergi meninggalkanku dengan seluruh pertanyaan tak terjawab.

Hari ini sungguh aneh. Kenapa Luhan tiba-tiba memutuskan bicara padaku? Mungkinkah karena insiden kemarin. Oh mengingatnya saja membuatku malu.

Sudahlah aku tak mau berpikir macam-macam. Lebih baik kutanyakan pada Jongin oppa tentang sikap aneh sahabatnya itu.

***

“Kenapa kau menyuruh Luhan mengantarku?” celetukku, masuk ke dalam kamar Jongin tanpa permisi.

Seo Jongin menoleh, alisnya terangkat seakan dia baru saja mendengar hal aneh.
“Mwo?”

“Luhan. Dia mengantarku pulang, dia bilang oppa yang memintanya.”

“Luhan?” Wajah Jongin semakin heran. “Aku tidak menyuruhnya.”

Kini gantian aku yang menjadi bingung. “..tapi dia bilang…lalu kenapa dia mengantarku.”

“Aku tidak tahu.” ujar Jongin, “..lagipula tidak ada yang bisa menyuruh Luhan melakukan suatu hal.”

Bagus sekali. Sekarang pemuda itu memberikan hal lain untuk kupusingkan. Otakku mulai menyusun berbagai analisis yang mungkin tapi semuanya menjadi mustahil dalam waktu bersamaan.

“Aku akan bertanya padanya jika itu mengganggumu.”

“Eh tidak perlu. Yeah itu tidak penting lagi.” benar, itu tidak penting. Anggaplah Luhan sedanh berbaik hati.

Jongin mengangguk.”Lalu bagaimana tentang pesta besok? Sudah memutuskan?”

Aku menghela napas panjang. Sejujurnya aku malas untuk datang, hanya saja Yoona langsung yang memintaku datang dan akan tidak enak jika menolaknya. “Apa aku boleh mengajak Wendy?”

“Tentu saja.” jawab Jongin, mungkin kakakku paham, aku tidak nyaman berada di lingkungan yang tidak kukenal.

“Gomawo, Wendy pasti senang. Rencananya aku besok berangkat dari rumahnya.”

“Oh.”

***

“Kau serius?!” teriak Wendy, gadis itu melonjak di atas ranjang miliknya.

“Mm.” gumamku.

Mata Wendy membulat. “Keren. Kau baik sekali mengajakku ke sana. Aku mencintaimu Seo Joohyun.” ujarnya memelukku.

“Ya! Singkirkan ini.”

Sahabatku tergelak. “Oh tidak!” dia terkesiap, “..kalau kita mau datang ke pesta, lebih baik kita bersiap-siap.”

“Aku sudah siap.” kataku.

“Kau bercanda??” tukas Wendy sarkastik. “..kau tak serius akan berpakaian seperti itu kan?”

“Memangnya kenapa? Aku serius.”

“Oh ya ampun Seo Joohyun, kau tak mau mempermalukan dirimu sendiri. Maksudku, ini pesta Im Yoona!” seru Wendy dengan nada dilebih-lebihkan.

Kutatap cermin di pojok ruangan. Apa yang salah dengan yang kupakai. Celana jins, kaos dan kemeja merah kotak-kotak favoritku.

Wendy menggeleng tegas. “No girl! Malam ini kau ada di tanganku.”

Aku hanya bisa memutar bola mata pasrah, berada di tangan Wendy sama saja bersedia menjadi boneka barbienya. Jadi saat aku memprotes gadis nakal itu karena memaksaku memakai pakaiannya, dia bersikeras kalau aku harus memakainya atau dia tak mau ikut bersamaku.

Dia tidak memberiku pilihan lain, tentu aku tak bisa membatalkan kehadiranku di sana sementara aku sudah bilang akan datang. Aku bukan orang yang suka mengingkari janji.

Wendy tersenyum puas. “Kau sungguh tidak bersyukur Seo Joohyun. Kau punya tubuh yang diimpikan semua perempuan.”

“Aku tidak suka tubuhku terekspos seperti ini, bisakah aku ganti bajuku saja, oh?”

Gadis itu menggeleng keras. “No! You’re beautiful, taruhan semua laki-laki akan jatuh di bawah kakimu.”

“Aku tak peduli dengan semua itu.” kataku kesal.

Wendy terkikik. “..jangan marah, ayo kita berangkat ini sudah jam tujuh, pestanya pasti sudah dimulai.”

Kuhela napas panjang sekali lagi menatap cermin, menarik ujung rok yang menempel ketat di setengah pahaku. Bagaimana bisa aku berjalan.

“..kajja.” Wendy mendorongku dari depan cermin. Ah Sial.

***

Yoona menyambut kedatangan kami dengan antusias. Sudah dapat dipastikan, tadinya dia sampai terkejut melihat penampilanku.

“Astaga! Joohyun-ah, kau..luar biasa.” katanya tertawa seperti seorang ibu melihat anaknya.

Hatiku sedikit tersentuh. Sejujurnya aku begitu resah tentang pandangan orang setelah mereka melihat penampilanku. Tapi melihat reaksi Yoona yang kagum, well kuduga ini tidaklah begitu buruk.

Kulirik Wendy yang sekarang tersenyum bangga. Dari cara dia meninggikan dagunya, aku hafal dia sedang membanggakan diri.

‘Lihat ini semua hasil karyaku’ seperti itulah yang bisa kutafsirkan darinya.

“Gomawo.” balasku pada Yoona.

“..kupikir kau tidak datang tapi Jongin bilang padaku kau pasti datang.”

Kepalaku mengangguk, “Aku sudah janji dan kenalkan ini Wendy.”

Wendy maju mengulurkan tangan, Yoona beralih menatap Wendy. Dia tersenyum ramah. “Hai, terimakasih telah mengundangku.”

“Sama-sama. Sepertinya kita pernah satu kelas.”

Temanku tersenyum kecil. “Ya, semester lalu kita satu kelas di psikologi.”

“Ah iya aku ingat. Okay semoga kalian menikmati pestanya. Aku harus melihat ke yang lain.”

Yoona memang cukup terlihat sibuk, dia menggenggam tanganku sebelum berpamit kepada kami berdua. Wendy menarikku masuk ke dalam rumah Yoona. Aku tidak terkejut lagi, sudah bukan rahasia jika Yoona memang anak orang kaya. Rumahnya saja berada di kawasan elit Ceodamdong.

“..keren sekali.” seru Wendy mengeraskan suara supaya tidak kalah dengan suara musik yang diputar oleh DJ.

Bagiku ini berisik dan mengganggu. Oh, jika bukan karena aku telah berjanji, aku lebih memilih berada di kamarku membaca buku.

“Ayo kita ke sana.” ajak Wendy

Kami beringsut membelah lautan manusia yang sibuk menari mengikuti hentakan musik. Di luar DJ berada di atas panggung memainkan musik dengan gaya yang khas. Akhirnya kami menemukan tempat yang sedikit sepi di luar.

“Kau mau minum sesuatu?”

“Ya, kupikir aku bisa mati kehausan.”

Wendy menertawai kekonyolanku. “Okay, aku akan kembali.”

Gadis itu meninggalkanku sendirian. Kuedarkan pandangan melihat seluruh pemandangan pesta yang gemerlap. Kupikir pesta Jongin oppa saja sudah terlalu ramai tapi ternyata itu bukan apa-apa. . .oh! Kepalaku berhenti berpikir saat pandangan mataku bertemu dengan sepasang mata hazel. . .mata hazel yang sama.

Laki-laki itu duduk bersama gerombolannya. Tenggorokanku berubah kering, dia nampak sangat tampan bahkan dari kejauhan. Luhan memakai kaos dan jaket kulit berwarna hitam, rambut hitamnya dibiarkan berantakan. Aku menelan ludah, tidak seharusnya aku memperhatikan penampilan laki-laki itu karena sekarang aku yakin Luhan pun sedang menelusurkan matanya menyapu seluruh tubuhku.

Sensasi ini? Kenapa seperti ada kupu-kupu berterbangan di dalam perutku. Demi Dewa Dewi.

“..Ini.”

Lamunanku segera buyar. Aku terpekik menoleh terkejut oleh kedatang Wendy yang sangat tiba-tiba.

“Kau mengagetkanku.”

Wendy mencibir. “..memangnya kau sedang apa?”

Aku berdeham. “Tidak ada.”

Sahabatku itu menatapku sangsi. Aku memilih meminum air soda yang disodorkan padaku.

Selanjutnya aku berusaha bersikap wajar, melupakan kegugupanku sebab saat aku mencuri pandang tadi jantungku melesak ke dasar perut pasalnya Luhan masih saja menatapku.

“Disini kalian rupanya.” sergah Yoona. “Ayo ikut aku. Kami akan bermain game, kami butuh orang lagi.”

“Eh aku tidak bisa.”

“Permainannya mudah. Ayolah.”

“Kupikir tidak buruk Joohyun-ah. Paling tidak kita tak harus diam di sini.”ungkap Wendy.

Dua suara melawan satu suaraku menjadi tidak berarti melawan keinginan kuat kedua gadis itu. Aku pun menyerah mengikuti langkah keduanya. Yoona membawa kami ke sebuah meja yang terdiri dari gadis-gadis cantik. Beberapa dari mereka familier di kepalaku.

“Kenalkan ini Joohyun dan Wendy.”

Mereka mengangguk, ada yang memberinya senyum ramah tapi ada pula yang menatap kami berdua sinis. Aku tak ingin memusingkan sikap mereka, aku duduk di samping Yoona dan Wendy.

“Baiklah kita mulai.” kata salah seorang gadis. “Truth or Dare.”

Permainan itu? Batinku konyol. Sekarang aku tidak bisa lari. Yoona memutar botol, jantungku berdetak lebih cepat seiring botol itu bergerak. Napas lega keluar dari paru-paruku ketika moncong botol berhenti di depan gadis.

“Ari-ya truth or dare?”

“Truth.” kata gadis bernama Ari.

Yoona berpikir keras. “Kapan terakhir kau berciuman?”

Bibirku nyaris melongo dan nyaris menganga lebar begitu mendengar jawaban Ari.

“Setengah jam yang lalu.” dia menyeringai.

Oh dewi sekarang apa yang harus kulakukan. Kenapa memulai permainannya seperti ini. Tidak! Ini buruk. Mereka akan menertawakanku jika tahu kalau aku yeah masih perawan. Orang-orang ini tidak akan memberiku penghargaan. Menganggapku munafik, mungkin.

Ari menyeringai mengambil botol. Giliran dia memutar botol itu. Kulirik Wendy di sampingku yang terlihat sama-sama tegang seperti diriku.

Kami berdua sama-sama lega. Sahabatku itu pasti menyesal mau ikut ke dalam permainan konyol ini.

Lagi-lagi botol berhenti, kali ini korbannya adalah gadis cantik sangat cantik, sayang sekali dia termasuk dalam kelompok tidak ramah itu.

Ari berdeham kelihatan sekali dia tak nyaman dengan tatapan jemunya.
“Okay Jisoo-ya. Truth or dare?”

Jisoo menelengkan kepala lalu menjawab. “Dare.”

Sedikit dari kepalaku penasaran apa yang akan dilakukan mereka pada Jisoo. Tuhan apa aku mulai terlarut dalam permainan ini.

“Okay kalau begitu aku tantang kau pergi ke sana dan cium Luhan.”

Perutku seperti tertinju sesuatu. Aku menoleh mengikuti semua kepala. Kami semua memandang gerombolan The Boys yang tengah asik bercanda. Entah perasaanku atau memang Luhan bisa merasakannya.

Laki-laki itu mengalihkan perhatiannya, mengedarkan pandangan dan berhenti ke arah kami atau lebih tepatnya kepadaku.

Jisoo berdiri menunjukkan figur kecantikannya. Perhatianku teralihkan, darahku bergemuruh penuh antisipasi.

Gadis itu mulai melangkah meninggalkan tempat duduk kami. Langkahnya penuh percaya diri membelah ruangan. The boys berhenti tertawa mereka menyadari kedatangan Jisoo. Sehun bersiul menepuk lengan Luhan. Kyungsoo memiringkan kepala sementara Jongin oppa menyipit seperti berusaha meyakinkan bahwa akulah orang yang sedang duduk di sini.

Kami semua menahan napas. Tanpa kata-kata pembuka Jisoo mendudukkan bokong sexynya dipangkuan Luhan. Perasaan muak merangkak naik dari dalam diriku.

Jisoo mencium laki-laki itu. Dan yang bulu kudukku meremang adalah bukan karena melihat Jisoo mencium Luhan atau fakta bahwa teman-temanku terkesiap dengan bunyi ‘Oh’ keras. Bukan! Melainkan mata Luhan yang tetap lurus menahan mataku seakan siap melahapku habis.

Aku gugup tak mengerti dengan reaksiku akibat tatapan Luhan yang panas. Kenapa laki-laki itu memberikan efek seperti ini padaku.
Kusambar gelas di atas meja tak peduli minuman itu milik siapa atau apa isinya. Apa pun ity jika bisa menghapus kegilaan ini.

Sekali teguk kemudian aku tersedak begitu hebat. Rasa minuman itu sangat menyengat membakar kerongkongan. Sial!  Tubuhku ikut berguncang  karenanya membuatku menumpahkan isi gelas.

Wendy menepuk punggungku keras, dia mengambil alih gelas. Aku memberi kode padanya.
“Kamar mandi.”

Wendy mengangguk.

“Gwenchana?” tanya Yoona khawatir.

Aku mengangguk bertingkah seperti orang bisu.

Rasa menyengat minuman tadi tak juga hilang. Batukku sudah berhenti sekarang kekesalanku digantikan oleh baju yang basah dan lengket.

Menyebalkan. Ini semua gara-gara Luhan. Bukan! Ini murni kesalahanku. Andaisaja aku tak bersikap bodoh. Sejak kapan aku bersikap tidak masuk akal. Kuhentakkan kaki kesal setelah itu mematut diriku lagi di depan cermin. Kuhela napas panjang lalu memutuskan keluar.

“Kau tidak apa-apa?”

Satu pekikan lolos dari bibirku. Mataku melebar. Demi Tuhan, dia tak bisa berhenti membuat jantungku copot.

Aku berdeham tahu Luhan menunggu jawabanku. “Oh. Kau datang untuk bertanya?”

Dia mengangkat bahu. Kebiasaan kecil yang selalu dia lakukan. Astaga! Bahkan aku sudah mulai menghapalnya.

“Bajumu basah.”

Aku menatap ke bawah mengikuti pandangannya. “Ya ada untungnya…eh tunggu apa yang kau lakukan?” DEWI! Erangku dalam hati.

Luhan melepaskan jaket hitamnya lalu memakaikan jaket itu kepadaku. Aku membeku oleh perhatiannya. Aku terpaku terhipnotis oleh intens nya tatapan laki-laki itu.

Luhan mendekat, paru-paruku lupa caranya bekerja, bisa kurasakan jantungku memukul dadaku kencang. Aku menutup mata menunggu…

P.s : Hai mksh utk comment n vote kalian. Gimana ff ini?apa kalian suka? Aku ingin dengar pendapat kalian tentang ff ini. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. Karena chapter selanjutnya akan bergantung dr bykny vote n komentar kalian ^^ thank you

[Series] It’s Not just A Fairy Tale – Chap. 4

IT’S JUST NOT A FAIRY TALE

Chapter 4

Author : Caesar

Judul : It’s Just Not a Fairy Tale

Genre : Romance, Comedy.

Main Cast : Seohyun SNSD ǀ Luhan EXOǀ

Other Cast : Fx Krystal, Other member SNSD & EXO

PLEASE DON’T BE PLAGIARISM, RCL PLEASE^^

ǀ

ǀ

ǀ

HAPPY READING

Desclaimer : Story ini terinspirasi dari sebuah film berjudul ‘A Cinderella Story’. Meresepsi plot ceritanya kemudian aku kombinasikan dengan ide dan imaginasiku. Semoga cerita ini bisa menghibur. RCL please^^

Continue reading

[Series] Gentleman Destiny – Chap. 7

GENTLEMAN DESTINY

Chapter 7

Author : Caesar

Judul : Gentleman Destiny

Genre : Romance, Mistery.

Main Cast : Joohyun SNSD ǀ Luhan EXOǀ

Other Cast : Kai EXO ǀ Tao EXO ǀ Xiumin EXO ǀ Kyuhyun SJ ǀ Other member SNSD & EXO ǀ

Desclaimer : This Fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves.

PLEASE DON’T BE PLAGIARISM, RCL PLEASE^^

HAPPY READING

Continue reading

[Series] Gentleman Destiny – Chap. 6

GENTLEMAN DESTINY

Chapter 6

Author : Caesar

Judul : Gentleman Destiny

Genre : Romance, Mistery.

Main Cast : Joohyun SNSD ǀ Luhan EXOǀ

Other Cast : Kai EXO ǀ Tao EXO ǀ Xiumin EXO ǀ Kyuhyun SJ ǀ Other member SNSD & EXO ǀ

Desclaimer : This Fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves.

PLEASE DON’T BE PLAGIARISM, RCL PLEASE^^

HAPPY READING Continue reading

[Series] It’s Not Just A Fairy Tale – Chap. 3

IT’S JUST NOT A FAIRY TALE

Chapter 3
Author : Caesar
Judul : It’s Just Not a Fairy Tale
Genre : Romance, Comedy.
Main Cast : Seohyun SNSD ǀ Luhan EXOǀ
Other Cast : Fx Krystal, Other member SNSD & EXO
PLEASE DON’T BE PLAGIARISM, RCL PLEASE^^
ǀ
ǀ
ǀ
HAPPY READING
Desclaimer : Story ini terinspirasi dari sebuah film berjudul ‘A Cinderella Story’. Meresepsi plot ceritanya kemudian aku kombinasikan dengan ide dan imaginasiku. Semoga cerita ini bisa menghibur. RCL please^^

Bukan bunyi alarm yang membangunkan tidur Seohyun. Dia pikir dia sedang bermimpi ada gempa, itu sebelum dia terbangun dan menyadari suara bising itu berasal dari ibu tirinya, yep teriakan itu dimaksudkan untuk Seohyun.

“Seo Joohyun! cepat bangun!!”

Seohyun mengerang menutupi telinga dengan bantal, meski terbukti hal itu sama sekali tidak merubah apa pun. Dia yakin dua atau tiga tahun lagi gendang telinganya akan bermasalah jika harus mendengar teriakan mengerikan Ae Jung setiap hari. Mungkin dia harus mulai menabung untuk mengasuransikan telinganya, yeah untuk berjaga-jaga saja. Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi.

Pintu kamar Seohyun terbuka tanpa peringatan, membentur dinding membuat beberapa buku Seohyun yang ada di atas rak bergoyang.

“Cepat bangun, pemalas!” jika tadi Seohyun belum bangun, kini dia terjaga sepenuhnya. Dia terduduk di atas ranjang kamarnya yang sempit, sedikit linglung bertanya siapa dirinya. Efek yang dihasilkan ketika kalian dibangunkan secara tiba-tiba.

“Wah, wah. Enak sekali Kau sudah menumpang di rumah ini, kerjaanmu hanya malasn-malasan saja!”

“Ada apa?” tanya Seohyun dengan suara khas bangun tidur.

“Kenapa mobilku belum dicuci?!” teriak Ae Jung di depan wajahnya membuat Seohyun terhenyak mundur.

“Kau tahu Aku kerja sampai malam, jadi Aku belum sempat mencucinya,” jawab Seohyun.

“Aku tidak peduli apa yang kau lakukan! Cuci mobilku!!”

“Sekarang?” pertanyaan bodoh.

“Tahun depan!!” kata ibu tirinya penuh sarkasme, “Tentu saja sekarang! Aku akan memakainya!”

“Ini masih jam lima pagi,”

“Lalu?!”

Tidak ada gunanya berdebat dengan Ae Jung, yang ada dia hanya akan makan hati.

“Aku tidak mau tahu, mobilku harus bersih.”

Setelah berkata begitu, ibu tirinya pergi meninggalkan kamar Seohyun. Seohyun mendesah panjang. Dia meregangkan badan. Tubuhnya sedikit kaku masih lelah karena kerja semalam. Dia beranjak bangun dan membuka jendela, berharap udara pagi yang dingin bisa membuatnya tetap terjaga.

“Well, Selamat pagi. Pagi yang menyenangkan kurasa.” Katanya ironis.

***

Intuisi Seohyun mengatakan harinya sudah salah sejak pagi, apalagi yang bisa jadi pertanda buruk. Selama ini teriakan ibu tirinya sudah pasti menjadi awal yang buruk untuk memulai harinya. Firasat itu seratus persen benar. Pagi ini dia terlambat mengejar bus. Dan sekarang jika dia sedikit saja beruntung, dia hanya akan terlambat sepuluh menit, ah tidak, mungkin lima belas menit jika jalanan padat.

Tetap saja Ae Jung dan Jiwon selalu mempunyai cara merusak harinya. Seohyun memijit lengannya yang terasa pegal dampak mencuci mobil Ae Jung pagi tadi. Satu masalah selesai datang lagi masalah yang lain. Jiwon membuatnya harus menyetrika hanya gara-gara ada sedikit kerutan di baju gadis itu.

Rasanya ingin sekali dia berteriak, dan memprotes mengapa hidupnya harus seperti ini. Namun, dia tahu semua itu tak ada gunanya. Bagaimanapun hidup Seohyun sudah seperti ini sejak kematian ayahnya. Seohyun sudah terbiasa, meski sebagai manusia normal dia ingin menuntut keadilan. Mau bagaimana lagi, toh dia tak mampu melawan ibu dan adik tirinya itu. Selain karena dia tak mempunyai keluarga, dia juga masih di bawah umur jika ingin tinggal sendiri. Seohyun sudah mulai belajar menerima nasib, dia hanya berharap ini semua tidak terjadi untuk selamanya.

Bus berhenti di halte dekat sekolahnya, Seohyun bergegas turun tak ingin membuang waktu. Dia kemudian berlari sembari berdoa gerbang sekolahnya belum ditutup. Setidaknya doanya kali ini terkabul, mungkin Tuhan masih menyayanginya. Dia menghembuskan nafas lega begitu kakinya melangkah melewati gerbang.

‘Fiuuuhhhh’ untung saja.

Seohyun melirik jam tangan murahan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Okay sekarang dia harus cepat. Untung saja jam pertama itu pelajaran Kim seonsaengnim yang selalu datang terlambat. Meskipun begitu dia tidak boleh santai, keberuntungan tidak datang dua kali kan. Jadi Seohyun mempercepat langkahnya tak menghiraukan kanan kiri. Sampai-sampai dia tak dapat mencegah ketika tubuhnya menubruk seseorang di tikungan koridor.
Tubuh-tubuh mereka jatuh tak dapat tertolong. Seohyun mendarat pada sesosok tubuh nan kokoh.

“Kau tidak akan menyingkir dari atas tubuhku?”

Suara itu membuatnya terkesiap. Ya Tuhan jangan dia, batin Seohyun.
Tuhan rupanya sedang ingin bergurau, dari sekian banyak populasi pria yang ada di dunia ini, mengapa orang yang ditabrak Seohyun harus dia. Oh Seohyun sebal harus menatap wajah tampan plus sombong itu lagi.

“Apa Kau tidak akan menyingkir?”

Dan ini memalukan. Seohyun segera menggeser tubuhnya dari posisi yang sedikit eng bisa dikatakan romantis sebenarnya, seperti yang ada di adegan film-film. Ketika si tokoh pria dan wanita bertubrukan lalu mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Kau, si gadis cafe itu?”

Suara Luhan membuyarkan fantasinya. Nyatanya fantasi itu sangat jauh dari kenyataan. Luhan berdiri membersihkan kotoran yang menempel pada bajunya, dia melempar pandangan kesal kepada Seohyun.

“Maaf Aku sedang buru-buru,” ngomong-ngomong soal buru-buru, Aku tidak punya waktu di sini. Jadi tanpa menghiraukan kesopanan dia berpamitan dengan laki-laki itu.

“Aku harus pergi, sekali lagi maaf.”

“Ya!!”

***

Okay gadis itu benar-benar selalu membuatnya kesal. Kok bisa setiap kemunculan Si ‘Gadis Cafe’ itu selalu membawa bencana. Kepalanya masih belum melupakan bekas akibat timpukan kaleng malam itu. Dan sekarang gadis itu kabur setelah menabraknya hingga jatuh.

Luhan berjanji lain kali, jika gadis itu membawa masalah lagi kepadanya, dia tidak akan membiarkannya lolos begitu saja. Ya, lihat saja nanti. Seringai jahil menari-nari di bibir Luhan, menampilkan kesan yang bertolak belakang dengan wajah malaikatnya.

“Luhan-ah,”

Tubuh Luhan menegang mendengar panggilan yang sudah sangat akrab di telinganya.

‘Oh tidak, jangan dia kumohon’ katanya dalam hati.

“Luhan kenapa Kau diam saja,” Krystal muncul di samping Luhan, langsung mengamitkan tangan pada lengan Luhan.

Dia mengeluarkan senyum kecut, “Mian Krystal-ah, Aku harus kembali ke kelas.”

“Oh tunggu dulu,” kata gadis itu manja.

Okay ini mulai menyebalkan.

Dia mengurungkan kepergiannya alih-alih dia menunggu gadis pujaan sekolah ini bicara padanya.

“Kau sudah punya pasangan untuk pesta dansa nanti?”

Sekarang Luhan mulai bisa membaca arah pembicaraan ini. Sejujurnya, tanpa bermaksud menyombongkan diri, tapi dia tahu Krystal akan berhasil menyudutkan Luhan untuk mengajaknya menjadi pasangan gadis itu. Maka dari itu, dia mati-matian menghindari Krystal beberapa hari ini.

“Lu?” rengeknya.

Dia menghela nafas panjang, “Aku sudah mempunyai pasangan,”

Mata Krystal membulat tidak percaya.

“Siapa?! Aku ingin tahu siapa gadis itu?!”

Siapa? Luhan sendiri tidak tahu tepatnya siapa itu ‘Ordinary Girl’. Dia bahkan tidak berpikir bagaimana rupa gadis itu. Yang dia tahu, dia menyukainya, dia merasa nyaman dengan gadis itu. Setidaknya Luhan menjadi dirinya sendiri ketika ngobrol dengan gadis itu, dia bukanlah si Luhan siswa populer yang super perfect.

“Kau tidak akan tahu.”

Krystal tersenyum mendengar jawaban Luhan.

“Kau bohong kan? Kau bilang begitu karena ingin menghindar,”

“Tidak, Aku bersungguh-sungguh,” meskipun kalau dia tidak mempunyai pasangan dansa, dia akan menggunakan alasan itu untuk menjauhkan Krystal.

Intinya adalah, tidak ada gadis di sekolah ini yang membuat Luhan tertarik. Baginya mereka sama saja, mereka semua itu palsu. Dan Luhan paling tidak suka tipikal gadis manja, kebanyakan dari mereka terlalu sibuk pada penampilan mereka.

Luhan sudah sangat bosan. Pengalaman kencannya yang segudang telah memberinya pelajaran. Para gadis lebih mementingkan kecantikan luarnya saja. Mereka selalu meributkan hal-hal sepele. Sibuk berdiet ketika tubuh mereka bahkan sekurus tiang. Terkadang Luhan heran, tubuh seperti apa yang menjadi kriteria ideal mereka.

Dia lebih menyukai gadis dengan tubuh dan nafsu makan yang sehat. Bukan berarti dia menyukai gadis gemuk, hanya saja dia lebih menhargai ketika gadisnya nanti lebih mementingkan kesehatan tubuhnya, daripada menahan diri tidak makan gara-gara diet.

Dan satu hal, dia menyukai gadis yang membuatnya nyaman. Gadis itu juga harus menjadi dirinya sendiri, dia sudah lelah menghadapi kepalsuan mereka. Terkadang seorang lelaki tidak selalu tertarik oleh kesempurnaan fisik seorang gadis, dia percaya pesona seorang gadis dipancarkan dari hatinya.

“Aku tidak percaya!” kata Krystal membuat Luhan menarik diri dari pikirannya.

“Percaya atau tidak Kau bisa melihatnya nanti,”

Ordinary Girl-nya akan datang kan ke pesta itu. Ya gadis itu sudah berjanji, dia tidak akan mengecewakan Luhan dengan tidak datang.

“Baiklah, Aku akan ada di sana untuk melihat Kau berbohong,” Krystal tersenyum sangat percaya diri kemudian dia pergi meninggalkan Luhan.

Setelah kepergian Krystal, Luhan tidak kembali ke kelas. Pelajaran pertama kelasnya adalah sejarah, coba ada saja guru yang iseng meletakkan pelajaran yang membuatnya mengantuk di awal jam. Sudah bisa dipastikan, murid-murid akan terlelap ke alam mimpi mereka mendengar ocehan guru tentang sejarah yang terjadi di masa lalu. Maksudnya, siapa sih yang peduli.

Jadilah Luhan memilih pergi ke gedung olahraga, tempat biasanya dia latihan basket bersama timnya. Dia memilih bangku di tribun penonton. Gedung itu sepi sekali, sekaligus sangat tenang, tubuh Luhan seketika rileks ketika menyelonjorkan kakinya ke bangku di depannya. Lama dia menengadahkan kepala menatap langit-langit atap yang tinggi.

Baru dia teringat, sejak pagi dia belum chatting dengan gadis favoritnya. Luhan rasa dia mulai dalam batas tidak waras, dia pikir dia tidak hanya menyukai gadis itu. Tapi gadis itu membuatnya terobsesi, rasanya satu hari saja dia tidak mengobrol dengan ‘Ordinary Girl-nya’ hidup Luhan hampa. Ini memang sedikit klise, mungkin kalian akan muntah mendengarnya, tapi begitulah kenyataannya, dia selalu merasa kosong jika tidak mengobrol dengan gadis itu.

Semakin dekat pertemuan mereka semakin membuat Luhan berdebar-debar. Seumur hidup baru kali ini dia merasa tidak percaya diri. Kalian percaya itu? Ini adalah kejadian luar biasa. Bagaimana mungkin dirinya seorang Luhan takut jika dia ditolak.

Ada alasannya mengapa di merasa pesimis. Dia takut, Luhan telah menyembunyikan fakta dia ini siswa populer, dan mengingat gadis itu anti sekali dengan yang berbau siswa populer, membuat Luhan sedikit was –was. Okay tidak sedikit, dia sangatlah cemas menunggu reaksi gadis itu.

***
Hari Pesta Dansa

Seharian ini Seohyun sudah merubah pikirannya setidaknya sepuluh kali. Dan haris yang dinanti sekaligus hari yang ingin cepat dia lewati, telah datang. Yep, hari ini tepat akan dilaksankannya pesta dansa sekolah Seohyun. Pesta itu akan dimulai pukul tujuh malam ini.
Ngomong-ngomong tentang itu, sekarang jam di dinding Seohyun sudah menunjukkan pukul tiga sore, itu artinya empat jam lagi sebelum dimulainya pesta. Dan Seohyun masih belum yakin dia akan pergi.

Separuh hatinya ingin sekali pergi ke pesta dan menemui pangeran impiannya. Separuhnya lagi berdebat dia akan mati oleh Ae Jung jika dia datang ke pesta itu. Lagipula dia tidak mempunyai baju yang tepat untuk ke sana. Nah, mengingat betapa baiknya ibu tiri Seohyun, dia tidak mungkin meminjamkan baju mahalnya dipakai oleh dirinya. Jika itu terjadi pasti dunia sudah terbalik.

Seakan menjawab kekhawatiran Seohyun, ibu tirinya memanggil Seohyun.

“Kau memanggilku?”

“Oh, Aku ingin Kau membersihkan rumah.” Kata Ae Jung yang wajahnya sedang tertutupi masker.

“Aku sudah melakukannya,”

“Kalau begitu kau bisa mengatur ulang buku-buku milik ayahmu yang ada di perpustakaan,” kata Ae Jung dengan wajah kaku.

Apa ini? Seohyun mulai mencium sesuatu yang tidak beres.

“Mianhe, bisakah Aku melakukannya besok?”

Mata ibu tirinya yang sedari tadi terpejam langsung terbuka, dia bangun dari posisi tidurnya.

“Apa Kau punya alasan menolak perintahku,”

Baiklah, ini mungkin serasa mustahil. Tapi bukan berarti tidak ada keajaiban kan. Jadi kenapa dia tidak mencoba bertanya pada wanita itu. Lagipula sejak berdiri di depan ibu tirinya ini, Seohyun telah memutuskan untuk datang ke pesta.

Dia ingat kembali ucapan Chanyeol tentang seharusnya dia sedikit menikmati hidupnya.

“Eng begini,” katanya, “Malam ini ada pesta dansa di sekolah, Aku bermaksud datang ke sana.”

Sebelah alis wanita itu terangkat membuat retakan kecil di masker wajahnya, “Kau? Untuk apa Kau datang kesana?”

“Yah mungkin Kau lupa Aku bersekolah di sana tentu Aku harus datang,”

Kilatan di maat Ae Jung memberinya peringatan.

“Dengar Seo Joohyun! Kurasa Kau cukup tahu diri. Kau ini tinggal menumpang dengan kami. Karena belas kasihankulah Kau tidak terlempar ke jalanan!”

Kalimat itu menyakitkan. Meskipun hatinya terluka, tapi Seohyun memasang wajah tanpa ekspresi. Dia tidak akan membuat Ae Jung puas dengan mengetahui Seohyun tersakiti oleh kata-katanya.

“Bukankah setidaknya Kau harus membalas budi. Aku menyuruhmu mengatur ulang perpustakaan, lagipula itu barang-barang ayahmu!” ungkapnya, masker wajah Ae Jung kini pecah akibat wajahnya yang tegang.

“Kecuali,”

Seohyun menahan nafas,

“Kecuali Kau ingin buku-buku itu dibuang!”

Tidak! Dia tidak akan membiarkan koleksi kesayangan ayahnya dibuang. Seohyun menahan air mata sekuat tenaga. Bagaimana mungkin ayahnya menikahi wanita kejam ini. Nenek sihir ini seharusnya tidak berada di sini, di istana milik ayahnya.

Ae Jung memandang Seohyun puasn, tahu ucapannya mengenai Seohyun telak. Senyum kejam muncul di bibir wanita itu.

‘Wanita iblis’ seru Seohyun dalam hati.

“Eomma,” Jiwon masuk ke dalam kamar ibunya. Dia mendengus melewati Seohyun.

“Ada apa sayang?”

“Ayo kita berangkat, Aku harus ke butik dan ke salon,”

“Baiklah, eomma akan bersiap-siap,”

Jiwon menggumamkan sesuatu yang tak bisa dicerna Seohyun, hatinya terlalu bergemuruh untuk memahaminya.

“Kenapa Kau masih ada di situ Seo Joohyun?!”

Dia membalas tatapan Ae Jung dengan nanar, melemparkan sumpah serapah non verbal melalui pandangan matanya.

“Aku akan mengantar Jiwon, setelah itu Aku ada acara bersama teman-temanku,”

Acara menghabiskan uang ayahnya, batin Seohyun.

“Jika tengah malam nanti Aku menemukan Kau tidak melaksanakan perintahku, akan kupastikan Kau terlempar ke jalanan seperti apa yang sudah ingin kulakukan!”

Tak menunggu di usir Seohyun keluar dari kamar neraka itu dengan langkah penuh amarah. Dia marah, dia kesal sekaligus frustasi. Seohyun ingin menyalahkan Tuhannya karena nasibnya yang menyedihkan, dia ingin menyalahkan ayahnya karena telah meninggalkan Seohyun pada kekacauan ini.

Begitu keluar dari kamar, Jiwon sudah menunggunya. Oh dia tahu, saudara tirinya itu ada di sana untuk menertawakannya.

“Kau tidak akan bisa pergi ke pesat! Ibu dan Aku tidak akan membiarkannya!” ungkapnya,

“Lagipula Kau kan Cuma upik abu, kau tidak pantas datang ke pesat itu!”

Gadis itu tertawa, menertawai kemalangannya.

Begitulah Ae Jung dan Jiwon pergi meninggalkan rumah pukul lima sore tadi. Sedangkan Seohyun masih saja berkutat dengan buku-buku tua milik ayahnya. Air matanya sudah mengering setidaknya setengah jam yang lalu, kini harapan untuk datang ke pesta sudah mencapai titik nyaris mustahil. Jam di dinding menunjukkan pukul 18.30, itu artinya setengah jam lagi pesta akan dimulai.

Ponselnya dia biarkan mati, dia tidak sanggup memberi tahu Pangeran impiannya bahwa dia tidak akan datang ke pesta. Dia benci harus mengecewakan Mr No_Name. Dia menatap rak-rak yang berjajar di sepanjang dinding. Tidak heran ayahnya sangat menyukai buku. Tinggal dua rak buku dengan isi setidaknya ada dua ratus buku menanti untuk diatur ulang oleh Seohyun.
Tepat saat itu bel pintunya berbunyi. Seohyun menghela nafas dan berjalan keluar ke arah pintu masuk. Dia membuka lalu menemukan sahabatnya tengah berdiri dan tersneyum cerah.

“Kenapa Kau masih seperti itu?”

Park Chanyeol terlihat tampan, memakai setelan tuxedo berwarna hitam. Baru sekarang Seohyun menyadari sahabatnya ini adalah laki-laki yang tampan.

“Kabar bagus, Aku tidak akan pergi,” wajahnya pasti sinis sekali saat mengucapkannya

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Masuklah,” kata Seohyun,

Chanyeol mengikutinya masuk ke dalam rumah.

“katakan ada apa?”

“Kau tidak bisa menebaknya?” Suaranya penuh sinisme, “Ibu tiriku tersayang mengancam akan melemparku ke jalan jika Aku ketahuan pergi ke pesta itu,”

“Jinjja ya?! Itu keterlaluan!”

Seohyun tersenyum menghargai pembelaan Chanyeol.

“Lalu? Kau tidak akan datang?”

Dia mengangkat bahu, “Apa Aku punya pilihan?”

“Bagaimana dengan Mr No_Name?”

Mendengar nama itu disebutkan, bahu Seohyun terkulai lesu.

“Yeah, mungkin kami belum ditakdirkan untuk bertemu,”

“Tidak bisa,”

“Apa?”

“Kau sudah menunggu moment ini Seohyun-ah, sekali ini Kau harus melawan Ae Jung,”

“Kau gila? Apa kau ingin melihatku jadi gelandangan,”

“Tetap saja,”

“Tidak Chanyeol-ah, Aku tidak segila itu,”

“Jadi Kau akan menyerah begitu?”

“Aku tidak punyai pilihan, jika Kau belum tahu inilah hidupkua,”

“Oh Aku sangat tahu, tapi bagaimana jika kau kehilangan Mr No_Name?”

“Jika begitu, yeah” Seohyun menelan pil pahit yang mengganjal tenggorokannya, “Mungkin dia tidak benar-benar serius,”

“Kau bodoh kalau kau melepaskannya, Aku tahu betapa berartinya pertemuan ini,”

Kalimat Chanyeol memunculkan kembali emosi yang berusaha dia redam. Sahabatnya ini tidak tahu apa-apa. Dia sudah belajar untuk menerima semuanya, Seohyun sudah mulai belajar untuk menjalani hidupnya yang pahit. Lalu dengan gampangnya Chanyeol mengatakan bahwa dia bodoh.

Baiklah, mungkin saja dia benar. Namun, dia hanya ingin realistis.

“Kalau kau begitu bijaksan, katakan apa yang harus kulakukan?!”

Chanyeol menatapnya dalam, “Kau harus datang,”

“Sekalipun itu mungkin, Aku tetap tidak mempunyai pakaian yang pas untuk datang ke sana,”

Senyum tulus merekah di bibir sahabatnya, membuat Seohyun bertanya-tanya.

“Tenang saja. Malam ini Aku adalah ibu perimu”

***

Luhan mengawasi dari sudut ruangan pesta dansa. Dia mengenakan tuxedo hitam hampir seperti sebagian besar siswa pria yang datang malam ini. jantungnya tidak bisa diam di tempatnya, sedari tadi dia terlonjak setiap ada wanita yang melewati tengah lantai dansa. Dia sudah membuat janji dengan ‘Ordinary Girl-nya’ untuk bertemu di tengah lantai dansa.

Tapi di sinilah dia justru berada di pinggiran lantai dansa. Luhan hanya tidak bisa berdiri di tengah-tengah pesta dansa sementara dirinya begitu gugup menantikan pertemuan ini.
Kris dan Sehun datang menghampirinya. Kris memakai setelan tux putih sementara Sehun biru tua.

“Krystal sudah mengatakan katanya Kau sudah mempunyai pasangan, benarkah itu?” tanya Sehun.

Gosip menyebar dengan cepat rupanya.

“Ya,” meskipun Luhan mulai tidak yakin apakah gadisnya akan datang. Ini sudah lewat satu jam dari waktu perjanjian mereka.

“Jeongmal? Kau tidak mengatakannya pada kami?” gantian Kris menyelidikinya.

“Haruskah?” jawab Luhan sekenanya.

Sehun mendecakkan lidahnya, “Kurasa itua alasanmu saja untuk menghindar, Krystal juga berpendapat begitu,”

Pesetan dengan pendapat mereka semua. Yang dipedulikan adalah sekarang ini sudah jam sembilan, dan gadis itu belum juga muncul.

Kris menghentikan maid yang membawa minuman, dia menyorongkan satu gelas minuman untuk Luhan.

Alunan musik berubah menjadi lebih soft, iramanya sangat pas untuk berdansa. Tiba-tiba saja atmosfer berubah. Semua aktivitas terhenti begitu saja. Suara-suara terkesiap menyeruak di dalam ruangan pesta. Hanya satu orang yang tidak menyadari perubahan suasana itu, ya orang itu adalah Luhan.

“Ya, kalian kenal dengan gadis itu?” Kris menyenggol lengan Luhan.

“Entahlah, Aku tidak mengenali wajahnya karena tertutupi topeng, Luhan-ah apa kau tahu?” timpal Sehun.

Luhan mengalihkan perhatian tidak tertarik pada objek yang dibicarakan. Tapi semuanya berubah saat dia menatap puncak anak tangga dimana berdirilah seorang wanita yang luar biasa anggun, dengan gaun putih indah. Jantung Luhan terhenti untuk alasan yang tidak jelas. Gadis itu mulai menuruni anak tangga, sesuatu yang kontras dari penampilan gadis itu menarik perhatian Luhan.

Dari cara gadis itu berjalan, mengapa dia merasa aura misterius gadis itu begitu terpancar, mungkin pengaruh topeng yang menutupi wajah cantiknya. Sang dewi menyibak kerumunan, musik seakan terhenti, seluruh dunia berpaling memandangnya, dan dunia Luhan runtuh di sekelilingnya.

Ya Tuhan gadis itu berdiri tepat di tengah-tengah lantai dansa.

“Ordinary Girl,” ucapnya lirih hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Wajah tampan itu pun tersenyum ketika melihat malaikat impiannya telah datang menjawab semua harapan seorang pria yang putus asa.

-To Be Continue-