(Fanfiction) Let Me Catch Up With You

Cast : Luhan, Seo Joohyun
PG : General
Genre : Sad Romance, Fantasy

How to spell? How to mention? Ah, lupakan. Aku sendiri juga lupa. Aku tak tahu arah pikiranku ada di mana. Semua sudah tertuju. Satu orang. Membuatku lupa segalanya.
Hari ini Namsan Tower cukup sepi. Jadi lebih leluasa, berdiri di pojok pembatas menara. Membiarkan angin musim semi menyibak rambutku.
Benda kecil ini masih kugenggam.

-Continue Reading->

Advertisements

(FanFiction) The Way To Caring You

Cast: Seohyun SNSD, Luhan
Choi Sooyoung, Wendy Son.
PG: -14
Genre: Romance,
Author: rattafabilla
Halo, Readers. Semoga kalian nggak bosen sama ff gajeku yang satu ini. Semoga kalian terhibur 
Happy Reading 
>>>>>>
Dengan malas aku menutup kamus bahasa Mandarinku lalu menjatuhkan kepalaku di atasnya.
“Auu!” Pekikku kesakitan. Aku mengelus pipiku pelan, efek terlalu keras menjatuhkan kepala ke kamus.
“Ck, bodoh!” Aku menoleh, lalu mendengus kesal. Bocah sok-pendiam itu lagi -read more->

The Way To Caring You

Cast: Seohyun SNSD, Luhan
Choi Sooyoung, Wendy Son.
PG: -14
Genre: Romance,
Author: rattafabilla
Halo, Readers. Semoga kalian nggak bosen sama ff gajeku yang satu ini. Semoga kalian terhibur 
Happy Reading 
>>>>>>
Dengan malas aku menutup kamus bahasa Mandarinku lalu menjatuhkan kepalaku di atasnya.
“Auu!” Pekikku kesakitan. Aku mengelus pipiku pelan, efek terlalu keras menjatuhkan kepala ke kamus.
“Ck, bodoh!” Aku menoleh, lalu mendengus kesal. Bocah sok-pendiam itu lagi -read more->

[Drabble] A Girl and OS Teacher

Cast : Seohyun SNSD, Luhan
PG : 14+
Genre : Romance ‘
Author : rattafabilla

Halo, Readers. maafkan author kalau bikin kalian kecewa sama ff absurd yang aku ciptakan, yang menurut kalian gak nyambung sama blog ini :(. tapi beneran deh, aku nggak niat bikin kalian kecewa dan aku bukan shippernya luyoon. FF yang another story in the petshop itu kan juga seohan yang jadi pemeran utamanya, yoona cuma cameo gak jelas.
semoga ff absurd yang satu lagi ini nggak bikin kalian kecewa.
Sekali lagi aku minta maaf.

Selamat Membaca.
>>>>>>>>>

Ada satu pertanyaan yang mengganjal benakku. Sederhana saja. Terkesan tidak penting, namun tidak pernah terlupakan. Selalu muncul begitu saja, begitupun sebab pertanyaan ini. Malah lebih penting dari apapun.
Namun sulit menjelaskannya.
Semua ini cenderung melankoli, terlalu berandai-andai dengan segala spekulasi yang tiba-tiba datang.
Namun justru ini penyebabnya.
Tentang rasa, bukan. Bukan yang kalian bayangkan seperti rasa jeruk atau rasa stroberi. Ini tentang rasa yang membuat orang bisa mempahitkan rasa jeruk atau rasa stroberi itu.
Ini tentang rasa yang bisa membuatmu tiba-tiba tersenyum dan menangis. Ini tentang rasa yang bisa mengatur nafsu makanmu. Ini tentang rasa yang bahkan mengatur pagi harimu.
Manusia yang hatinya membatu pun merasakan ini, karena ini penyebab hatinya membatu.
First Love? Aku pikir semua remaja normal pernah merasakannya. Dan itu wajar, asal cinta pertama itu tidak menjerumuskannya ke lubang setan.
Kalau kita pikir semua ini tidak perlu terlalu diperhatikan. Tapi bagaimana kalau semua ini datang dan tiba-tiba memenuhi pikiran? Hilangkan, pergi jauh-jauh!
Tidak bisa. Sulit sekali. Kalian mati-matian melupakan seseorang. Sulit sekali.
Karena otak kita tidak pernah diatur untuk melupakan hal yang pernah memenuhi pikirannya.
Terkadang kita pernah berdiam lama sendirian dan tiba-tiba meneteskan air mat. Padahal tidak ada gunanga kita menangis, toh terkadang hal yang membuat kita menangis tidak peduli dengan puluhan lembar tisu yang mengusap air mata kita.
Lucu, ya? Ya, memang begitulah perasaan manusia.
Haha, aku pikir kata-kataku terlalu berlebihan. Seperti pertanyaanku yang terlalu berlebihan memenuhi pikiranku. Seperti senyumnya yang menjadi penyebab pertanyaanku ini.
* * *
“Seohyun Haksaeng?”
Aku melepas headphoneku ketika mendengar suara dari belakang tempatku bersandar di taman.
Aku menoleh. Mendapati seorang pembimbing muda yang tersenyum padaku.
Dia berkata padaku dengan isyarat tangannya.
“Ayo masuk kelas.”
Aku mengangguk. Tersenyum.
“Lu..han seonsaeng begitu tam..pan hari, hari..ini.” Aku mencoba melafalkan kata-kata itu dari mulutku meskipun sangat sulit.
Guru Luhan hanya tersenyum. Membuat tanganku semakin bergetar kaku.
“Ayo masuk kelas, kau ingin belajar menyanyi, bukan?” Dia berbicara dengan isyarat tangannya lagi.
“tapi sebelum itu sepertinya kau perlu merapikan rambut panjangmu dulu, karena kau tahu? Pembimbing vokalmu kali ini sangat tampan!”
Aku tersenyum. Tidak setampan dirimu. Aku ingin mengatakannya, sayangnya aku bisu.
Dia menguncir rambutku lalu menggenggam tanganku.
“Ayo sebelum kita terlambat. ”
Dia, dia penyebab pertanyaanku ini.
Apakah aku pantas mencintainya? Dengan segala kekuranganku.
* * *
END.

[Fanfiction] Another Story In The Petshop

Cast: Seohyun, Luhan
PG: General
Genre: Romance, Sad
Happy Reading 🙂

>>>>
“Annyeonghaseyo..”
Tak kusangka dia datang ketika toko baru saja kututup. Gelagapan aku membalas sapaannya. Segera membuka kembali toko.
“Oh, eoseo oseyo Tuan.”
“Maaf, karena malam malam begini aku merepotkanmu.”
“Gwenchanayo, aku senang bisa menunjukkanmu kemajuan J.Lo.”
“Benarkah? Apa itu?”
Aku tersenyum senang. “Hari ini J.Lo sudah bisa berlari seperti sebelumnya, sepertinya ia sangat senang karena itu.”
Ia langsung berjalan menuju kandang tempat J.Lo tertidur pulas. Anjing puddle itu seharian berlari mengejar bola karet yang kulempar saking senangnya.
“Annyeong, J.Lo-ya aku sangat senang mendengar kalau kau sudah bisa berlari.” Ia mengelus bulu putih J.Lo, membuat telinganya bergerak-gerak.
“Lusa aku akan membawanya pulang. Terima kasih telah merawatnya dengan baik.” Ia tersenyum. Imut sekali, aku benar benar menyukai lesung pipi kecilnya.
“Bukan masalah Tuan, aku sangat menyukai J.Lo ada di sini.”
“Baiklah, aku pulang dulu”
“Annyeong!”
Ia melambaikan tangan kepadaku lalu keluar dari toko dan masuk ke mobil mercedez mahalnya.
—–
Lusa datang cepat sekali. Sama halnya dengan kedatangannya pagi-pagi. Ia tersenyum bahagia sekali ketika aku menyambutnya.
“Hari ini sepertinya kau senang sekali, Tuan.”
Ia terkekeh. “Iya, akhirnya J.Lo sembuh total dan pulang bersamaku. Aku senang sekali.”
“Aku juga senang kalau kalau kau senang, Tuan.”
Aku mengambil anjing puddle itu dari kandang dan menaruhnya di box hewan. J.Lo menggonggong pelan. Suaranya imut sekali, seimut pemiliknya.
“Sudah berapa kali aku bilang jangan memanggilku Tuan, panggil saja namaku.”
Hatiku berdesir. Aku salah tingkah menaruh rambutku ke belakang telinga.
“Aku sudah terbiasa dengan memanggilmu begitu, Tuan.”
“Ya! Kau memanggilku begitu lagi.”
“Ah, ya umm..hm.. Luhan-ssi,” aku berkata ragu. lalu memberikan petbox itu kepadanya.
“Gomawo, Seo Joohyun.”
Aku mengangguk. Tersenyum.
Luhan keluar dari toko. Sekilas ia melambaikan tangan sebelum masuk ke mobil.
Untuk pertama kalinya aku membalas lambaian tangan itu. Menatap kagum kepada sosok menggemaskan itu.
Dan untuk pertama kalinya juga hatiku sedikit sesak, seperti ada yang hilang dalam hatiku. Aku merasa sedih ketika menyadari Luhan tidak akan datang ke toko ini lagi. Karena anjing peliharaannya sudah sehat seperti dulu.
“Annyeong, Lu..han.”
______

Hari ini aku tidak datang menjaga toko. Aku menyuruh Chanwoo untuk menggantikanku. Aku benar-benar malas. Seharian hanya tidur di atas ranjang dan makan.
“Aku pulang!” Seru Chanwoo dari lantai bawah. Aku menengoknya dari balkon dalam rumah. Masih sore, mungkin hari ini sepi pengunjung.
“Sudah datang? Apa kau lapar?”
Chanwoo mengangguk. “Lapar sekali.”
“Ada kimbap di kulkas, kau bisa memanaskannya.”
“Shirreo, aku mau cumi bakar buatanmu, Noona.”
Bocah itu duduk di sofa sambil menatapku yang masih berada di balkon dalam rumah dengan tatapan sok imutnya.
Aku menghela nafas. “Ah, baiklah baiklah. Aku tidak tahan dengan tatapan sok imutmu.”
“Saus pedas atau kecap asin?”
“Kecap asin, Noona.”
Aku membakar cumi kering yang kubeli semalam. Mengolesinya dengan minyak sesame dan menyajikannya di meja makan.
“Makanlah, Chanwoo-ya. Aku mau tidur lagi.”
Aku berjalan gontai menaiki anak tangga.
“Oh, Noona! Chankamman.”
Aku menoleh malas. “Hm.. Ada apa?”
“Tadi siang ada yang mencarimu.”
Alisku mengernyit. “Nugu?”
“Seorang laki-laki, tidak terlalu tinggi, memakai coat oranye, dan rambutnya-”
“Apa yang dia katakan?” Aku menyela perkataannya, tidak penting.
“Dia hanya mencarimu dan bilang dia akan menunggumu di depan toko nanti pukul..pukul berapa ya? umm.. pukul delapan sepertinya.”
“Ah, baiklah. Mungkin orang yang hendak mengambil hewan peliharaannya.”
“Ani, aku menanyakannya apa ia ingin mengambil hewan peliharaan tapi bukan itu maksudnya.”
“Benarkah? Baiklah, aku akan ke toko nanti malam. Cepat makan cumi bakarnya sebelum mendingin!”
“Ne, Arraseo Ahjumma.”
Aku menatapnya tajam. Dasar! Bocah jaman sekarang tak ada yang punya sopan santun. Bahkan Noona-nya sendiri dikatakan Ahjumma!
____

Aku menatap langit Seoul yang sempurna tertutup awan. Hari ini salju turun cukup deras memenuhi kota. Aku baru saja sampai di depan toko dan tak melihat siapapun ada di sana. Apa Chanwoo hanya membohongiku? Ah, sialan!
Aku langsung menekan beberapa tombol di ponsel untuk menghubungi bocah biadab itu.
“Ya! Chanwoo-ya. Tidak ada siapapun di sini, kau membohongiku, hah?”
“Mian, Noona. Aku baru ingat kalau laki-laki tadi mengatakan kalau dia akan ke toko pukul tujuh bukan pukul delapan.”
“Hah? Dan kau baru mengatakannya sekarang! Dasar bocah! Aku akan membunuhmu ketika sampai di rumah nanti!”
Aku menekan tombol merah lalu merapatkan blazer biruku. Pipiku merah karena cuaca yang sangat dingin ini.
“Hei, Joohyun. Jangan jadi pembunuh gara-gara aku.”
Suara itu mengejutkanku dari belakang. Aku segera berbalik dan mendapati laki-laki yang tidak terlalu tinggi dan menggunakan kemeja putih yang dilapisi coat oranye. Seperti yang dikatakan Chanwoo. Dan rambutnya, ada yang berubah. Ia kembali mewarnai rambutnya dengan warna hitam. Ah, aku bisa gila! Ia terlihat tampan jika rambutnya seperti itu.
“Oh, eeuh.. Lu..han-ssi. Annyeonghaseyo.”
Ia tersenyum. “Kenapa hari ini kau tidak bekerja?”
Aku menggaruk tengkuk yang tiba-tiba terasa geli. “Aa… Aku.. Aku hanya merasa sedikit flu.”
“Kalau begitu kenapa kau malah keluar jam segini, tubuhmu tidak apa-apa?”
“Gwenchana, karena umm.. ada yang mencariku.”
Ia tersenyum. “Mianhae, karena membuatmu keluar malam malam begini. Tapi aku ingin mentraktirmu makan malam, anggap saja aku ingin membalas budi padamu.”
“Oh, begitu. Baiklah.”
Luhan menuntunku menuju mobilnya yang terletak tak jauh dari toko. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat ada J.Lo yang berbaring di jok belakang.
“J.Lo-ya, annyeong!”
“Ternyata kau membawa J.Lo juga, Luhan-ssi.”
Ia mengangguk. “Aku pikir dia merindukanmu.”
“Oh, apa kau menungguku lama tadi?”
Alisnya mengernyit, seperti berpikir. Lalu mengangguk. “Cukup lama.”
“Maaf, ini semua karena Chanwoo yang memberikan informasi yang salah.”
“Bukan masalah.”
“Asal kau tidak membunuhnya ketika sampai di rumah nanti.” Ia tertawa.
Mobilnya berhenti di depan sebuah restoran Jepang yang cukup terkenal di Seoul. Ia membukakan pintu untukku dan membawa serta J.Lo.
“Kau mau makan apa?” tanyanya.
“Hmm.. terserah kau.”
“Bagaimana kalau paket olahan salmon untukmu? Kalau begitu akan kupesankan. Chankamman.”
Setelah pesanan datang, menghabiskan makan malam dan cukup lama mengobrol, ia mengantarku pulang.
“Sepertinya kau baik-baik saja,” ucap Luhan ketika dalam perjalanan.
“Ah, ya karena.. karena tadi umm… aku umm.. sudah minum obat.”
“Benarkah? Aku tidak melihat gejala sakit apapun di wajahmu.”
“Kau berbohong, ya?” lanjutnya.
Aku menggelengg cepat. “Tidak!”
“Kau tidak bekerja karena kau berpikir aku tidak akan mengunjungi petshop-mu lagi?”
“Bu.. bukan begitu!”
Luhan tertawa. “Kau merindukanku?”
Aku menoleh menatapnya. “Hmm?”
“Aissh, yang benar saja.” Ia kembali menatap jalan raya.
J.Lo menggonggong pelan. Membuatku semakin salah tingkah. Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus bilang sejujurnya? Bilang apa? Kalau aku menyukainya? Bahkan sejak kedatangan pertamanya di toko ketika sekolah menengah dulu.
“Hmm.. Ya, aku memang merindukanmu,” ucapku pelan. Jantungku berdebar. Bagaimana reaksinya? Apa dia hanya diam saja? Bagaimana wajahku sekarang?!!
“Jangan merindukanku, Joohyun.”
Hatiku mencelos. Menatapnya ragu, mataku berkedip bingung.
Kenapa?
“Kenapa kau rindu padaku?”
Aku menunduk. Memainkan kuku jariku.
“Karena.. Karena aku.. aku menyukaimu, Luhan-ssi.”
“Wae?”
Aku menggeleng. Entahlah.
Kami diam sesaat. Hingga akhirnya mobilnya berhenti di depan toko.
“Kau tidak keberatan, kan turun di depan toko?”
“Hmm.. Gwenchanayo.”
Aku hendak membuka pintu mobil ketika ia menahan tanganku.
“Maaf, jika selama ini aku terlalu memberi pengharapan padamu. Sekali lagi aku minta maaf, Joohyun. Aku.. Aku sudah punya tunangan. Dan aku sangat menyayangi Yoona. Hilangkan perasaan itu dari dirimu, maaf.”
Ia merenggangkan dekapan tangannya. Membiarkanku pergi. Aku turun dari mobil dan tersenyum sebiasa mungkin.
Dan kakiku melemas ketika mobilnya hilang di tikungan jalan. Tubuhku jatuh di trotoar depan toko. Mataku panas. Ini lebih sesak dari apapun, bahkan aku tidak peduli tubuhku kedinginan karena salju. Sungguh aku tidak menyalahkan Luhan yang terlalu baik padaku sehingga aku mengira ia juga punya perasaan sama sepertiku.
Aku hanya ingin menangis karena bodohnya perasaanku.

Aku.. aku hanya ingin menangis ketika menyadari aku jatuh cinta dan sakit hati pada saat yang sama.