Fate To Meet You

1471281_559082044178425_372556940_n

Title : Fate To Meet You

Author : Fera Annita

Cast(s) : Lu Han, Seo Joo- Hyun

Support Cast(s) : Find by Yourself

Genre(s) : Romance, Hurt/Comfort, Family, Alternate Universe (AU)

Rated : Teens

Length : 1/1

DISCLAIMER : FANFICTION AND STORYLINE IS MINE. CAST(S) IS BELONG TO GOD, THEIR PARENTS AND MANAGEMENT

 Read SeoHyun x Kris Version here

== FATE TO MEET YOU ==

 

“Cheers!” Semua orang bersorak senang sembari bersulang dengan menyentuhkan gelas berisi minuman secara bersamaan sehingga menyebabkan suara dentingan ketika permukaan gelas itu saling menyentuh.

Continue reading

Advertisements

Yes, I Love You – Chap 4

Please promote this story and dont forget to vote and leave your comment

“Wae? Kenapa aku harus naik?”

Luhan menatapku lama dia menarik napas sebelum menjawab. “Kai memintaku untuk mengantarmu.”

“Oppa? Tapi dia tidak mengatakan apa pun padaku tadi.”

Laki-laki itu mengangkat bahu. “Mungkin dia lupa.”

Kupandang Luhan dengan ragu. Benarkah Jongin oppa meminta laki-laki ini mengantarku. Lalu kenapa harus dia?

“Kau akan terus berdiri di situ?”

Sekali lagi aku berpikir, mengedarkan pandangan ke jalan yang cukup sepi. Dalam hati aku lega. Bukan apa-apa. Jika ada orang yang tahu, aku tidak akan terkejut jika besok seluruh kampus tahu dan itu berarti bencana untukku.

Menjadi musuh penggemar Luhan adalah hal terakhir yang kuinginkan. Napas panjang keluar dari hidungku. “Kajja.”

Luhan menyalakan mesin motornya, dia tak mengatakan apa-apa lagi selama perjalanan dan itu sungguh menyiksa. Begitu kami berdua sampai di depan rumah aku tidak tahu harus mengatakan apa atau apakah harus menyuruhnya mampir ke dalam rumah.

Sebagai gantinya laki-laki itu memandangku lama. Demi Tuhan kenapa dia suka sekali melakukannya.
“…kau datang ke pesta Yoona besok?”

Tahu darimana dia aku diundang ke pesta itu.
“…Eh aku tidak tahu.”

“Kurasa kita akan bertemu lagi.”

‘Glek!’

“..sampai jumpa.” dia menyalakan motornya pergi meninggalkanku dengan seluruh pertanyaan tak terjawab.

Hari ini sungguh aneh. Kenapa Luhan tiba-tiba memutuskan bicara padaku? Mungkinkah karena insiden kemarin. Oh mengingatnya saja membuatku malu.

Sudahlah aku tak mau berpikir macam-macam. Lebih baik kutanyakan pada Jongin oppa tentang sikap aneh sahabatnya itu.

***

“Kenapa kau menyuruh Luhan mengantarku?” celetukku, masuk ke dalam kamar Jongin tanpa permisi.

Seo Jongin menoleh, alisnya terangkat seakan dia baru saja mendengar hal aneh.
“Mwo?”

“Luhan. Dia mengantarku pulang, dia bilang oppa yang memintanya.”

“Luhan?” Wajah Jongin semakin heran. “Aku tidak menyuruhnya.”

Kini gantian aku yang menjadi bingung. “..tapi dia bilang…lalu kenapa dia mengantarku.”

“Aku tidak tahu.” ujar Jongin, “..lagipula tidak ada yang bisa menyuruh Luhan melakukan suatu hal.”

Bagus sekali. Sekarang pemuda itu memberikan hal lain untuk kupusingkan. Otakku mulai menyusun berbagai analisis yang mungkin tapi semuanya menjadi mustahil dalam waktu bersamaan.

“Aku akan bertanya padanya jika itu mengganggumu.”

“Eh tidak perlu. Yeah itu tidak penting lagi.” benar, itu tidak penting. Anggaplah Luhan sedanh berbaik hati.

Jongin mengangguk.”Lalu bagaimana tentang pesta besok? Sudah memutuskan?”

Aku menghela napas panjang. Sejujurnya aku malas untuk datang, hanya saja Yoona langsung yang memintaku datang dan akan tidak enak jika menolaknya. “Apa aku boleh mengajak Wendy?”

“Tentu saja.” jawab Jongin, mungkin kakakku paham, aku tidak nyaman berada di lingkungan yang tidak kukenal.

“Gomawo, Wendy pasti senang. Rencananya aku besok berangkat dari rumahnya.”

“Oh.”

***

“Kau serius?!” teriak Wendy, gadis itu melonjak di atas ranjang miliknya.

“Mm.” gumamku.

Mata Wendy membulat. “Keren. Kau baik sekali mengajakku ke sana. Aku mencintaimu Seo Joohyun.” ujarnya memelukku.

“Ya! Singkirkan ini.”

Sahabatku tergelak. “Oh tidak!” dia terkesiap, “..kalau kita mau datang ke pesta, lebih baik kita bersiap-siap.”

“Aku sudah siap.” kataku.

“Kau bercanda??” tukas Wendy sarkastik. “..kau tak serius akan berpakaian seperti itu kan?”

“Memangnya kenapa? Aku serius.”

“Oh ya ampun Seo Joohyun, kau tak mau mempermalukan dirimu sendiri. Maksudku, ini pesta Im Yoona!” seru Wendy dengan nada dilebih-lebihkan.

Kutatap cermin di pojok ruangan. Apa yang salah dengan yang kupakai. Celana jins, kaos dan kemeja merah kotak-kotak favoritku.

Wendy menggeleng tegas. “No girl! Malam ini kau ada di tanganku.”

Aku hanya bisa memutar bola mata pasrah, berada di tangan Wendy sama saja bersedia menjadi boneka barbienya. Jadi saat aku memprotes gadis nakal itu karena memaksaku memakai pakaiannya, dia bersikeras kalau aku harus memakainya atau dia tak mau ikut bersamaku.

Dia tidak memberiku pilihan lain, tentu aku tak bisa membatalkan kehadiranku di sana sementara aku sudah bilang akan datang. Aku bukan orang yang suka mengingkari janji.

Wendy tersenyum puas. “Kau sungguh tidak bersyukur Seo Joohyun. Kau punya tubuh yang diimpikan semua perempuan.”

“Aku tidak suka tubuhku terekspos seperti ini, bisakah aku ganti bajuku saja, oh?”

Gadis itu menggeleng keras. “No! You’re beautiful, taruhan semua laki-laki akan jatuh di bawah kakimu.”

“Aku tak peduli dengan semua itu.” kataku kesal.

Wendy terkikik. “..jangan marah, ayo kita berangkat ini sudah jam tujuh, pestanya pasti sudah dimulai.”

Kuhela napas panjang sekali lagi menatap cermin, menarik ujung rok yang menempel ketat di setengah pahaku. Bagaimana bisa aku berjalan.

“..kajja.” Wendy mendorongku dari depan cermin. Ah Sial.

***

Yoona menyambut kedatangan kami dengan antusias. Sudah dapat dipastikan, tadinya dia sampai terkejut melihat penampilanku.

“Astaga! Joohyun-ah, kau..luar biasa.” katanya tertawa seperti seorang ibu melihat anaknya.

Hatiku sedikit tersentuh. Sejujurnya aku begitu resah tentang pandangan orang setelah mereka melihat penampilanku. Tapi melihat reaksi Yoona yang kagum, well kuduga ini tidaklah begitu buruk.

Kulirik Wendy yang sekarang tersenyum bangga. Dari cara dia meninggikan dagunya, aku hafal dia sedang membanggakan diri.

‘Lihat ini semua hasil karyaku’ seperti itulah yang bisa kutafsirkan darinya.

“Gomawo.” balasku pada Yoona.

“..kupikir kau tidak datang tapi Jongin bilang padaku kau pasti datang.”

Kepalaku mengangguk, “Aku sudah janji dan kenalkan ini Wendy.”

Wendy maju mengulurkan tangan, Yoona beralih menatap Wendy. Dia tersenyum ramah. “Hai, terimakasih telah mengundangku.”

“Sama-sama. Sepertinya kita pernah satu kelas.”

Temanku tersenyum kecil. “Ya, semester lalu kita satu kelas di psikologi.”

“Ah iya aku ingat. Okay semoga kalian menikmati pestanya. Aku harus melihat ke yang lain.”

Yoona memang cukup terlihat sibuk, dia menggenggam tanganku sebelum berpamit kepada kami berdua. Wendy menarikku masuk ke dalam rumah Yoona. Aku tidak terkejut lagi, sudah bukan rahasia jika Yoona memang anak orang kaya. Rumahnya saja berada di kawasan elit Ceodamdong.

“..keren sekali.” seru Wendy mengeraskan suara supaya tidak kalah dengan suara musik yang diputar oleh DJ.

Bagiku ini berisik dan mengganggu. Oh, jika bukan karena aku telah berjanji, aku lebih memilih berada di kamarku membaca buku.

“Ayo kita ke sana.” ajak Wendy

Kami beringsut membelah lautan manusia yang sibuk menari mengikuti hentakan musik. Di luar DJ berada di atas panggung memainkan musik dengan gaya yang khas. Akhirnya kami menemukan tempat yang sedikit sepi di luar.

“Kau mau minum sesuatu?”

“Ya, kupikir aku bisa mati kehausan.”

Wendy menertawai kekonyolanku. “Okay, aku akan kembali.”

Gadis itu meninggalkanku sendirian. Kuedarkan pandangan melihat seluruh pemandangan pesta yang gemerlap. Kupikir pesta Jongin oppa saja sudah terlalu ramai tapi ternyata itu bukan apa-apa. . .oh! Kepalaku berhenti berpikir saat pandangan mataku bertemu dengan sepasang mata hazel. . .mata hazel yang sama.

Laki-laki itu duduk bersama gerombolannya. Tenggorokanku berubah kering, dia nampak sangat tampan bahkan dari kejauhan. Luhan memakai kaos dan jaket kulit berwarna hitam, rambut hitamnya dibiarkan berantakan. Aku menelan ludah, tidak seharusnya aku memperhatikan penampilan laki-laki itu karena sekarang aku yakin Luhan pun sedang menelusurkan matanya menyapu seluruh tubuhku.

Sensasi ini? Kenapa seperti ada kupu-kupu berterbangan di dalam perutku. Demi Dewa Dewi.

“..Ini.”

Lamunanku segera buyar. Aku terpekik menoleh terkejut oleh kedatang Wendy yang sangat tiba-tiba.

“Kau mengagetkanku.”

Wendy mencibir. “..memangnya kau sedang apa?”

Aku berdeham. “Tidak ada.”

Sahabatku itu menatapku sangsi. Aku memilih meminum air soda yang disodorkan padaku.

Selanjutnya aku berusaha bersikap wajar, melupakan kegugupanku sebab saat aku mencuri pandang tadi jantungku melesak ke dasar perut pasalnya Luhan masih saja menatapku.

“Disini kalian rupanya.” sergah Yoona. “Ayo ikut aku. Kami akan bermain game, kami butuh orang lagi.”

“Eh aku tidak bisa.”

“Permainannya mudah. Ayolah.”

“Kupikir tidak buruk Joohyun-ah. Paling tidak kita tak harus diam di sini.”ungkap Wendy.

Dua suara melawan satu suaraku menjadi tidak berarti melawan keinginan kuat kedua gadis itu. Aku pun menyerah mengikuti langkah keduanya. Yoona membawa kami ke sebuah meja yang terdiri dari gadis-gadis cantik. Beberapa dari mereka familier di kepalaku.

“Kenalkan ini Joohyun dan Wendy.”

Mereka mengangguk, ada yang memberinya senyum ramah tapi ada pula yang menatap kami berdua sinis. Aku tak ingin memusingkan sikap mereka, aku duduk di samping Yoona dan Wendy.

“Baiklah kita mulai.” kata salah seorang gadis. “Truth or Dare.”

Permainan itu? Batinku konyol. Sekarang aku tidak bisa lari. Yoona memutar botol, jantungku berdetak lebih cepat seiring botol itu bergerak. Napas lega keluar dari paru-paruku ketika moncong botol berhenti di depan gadis.

“Ari-ya truth or dare?”

“Truth.” kata gadis bernama Ari.

Yoona berpikir keras. “Kapan terakhir kau berciuman?”

Bibirku nyaris melongo dan nyaris menganga lebar begitu mendengar jawaban Ari.

“Setengah jam yang lalu.” dia menyeringai.

Oh dewi sekarang apa yang harus kulakukan. Kenapa memulai permainannya seperti ini. Tidak! Ini buruk. Mereka akan menertawakanku jika tahu kalau aku yeah masih perawan. Orang-orang ini tidak akan memberiku penghargaan. Menganggapku munafik, mungkin.

Ari menyeringai mengambil botol. Giliran dia memutar botol itu. Kulirik Wendy di sampingku yang terlihat sama-sama tegang seperti diriku.

Kami berdua sama-sama lega. Sahabatku itu pasti menyesal mau ikut ke dalam permainan konyol ini.

Lagi-lagi botol berhenti, kali ini korbannya adalah gadis cantik sangat cantik, sayang sekali dia termasuk dalam kelompok tidak ramah itu.

Ari berdeham kelihatan sekali dia tak nyaman dengan tatapan jemunya.
“Okay Jisoo-ya. Truth or dare?”

Jisoo menelengkan kepala lalu menjawab. “Dare.”

Sedikit dari kepalaku penasaran apa yang akan dilakukan mereka pada Jisoo. Tuhan apa aku mulai terlarut dalam permainan ini.

“Okay kalau begitu aku tantang kau pergi ke sana dan cium Luhan.”

Perutku seperti tertinju sesuatu. Aku menoleh mengikuti semua kepala. Kami semua memandang gerombolan The Boys yang tengah asik bercanda. Entah perasaanku atau memang Luhan bisa merasakannya.

Laki-laki itu mengalihkan perhatiannya, mengedarkan pandangan dan berhenti ke arah kami atau lebih tepatnya kepadaku.

Jisoo berdiri menunjukkan figur kecantikannya. Perhatianku teralihkan, darahku bergemuruh penuh antisipasi.

Gadis itu mulai melangkah meninggalkan tempat duduk kami. Langkahnya penuh percaya diri membelah ruangan. The boys berhenti tertawa mereka menyadari kedatangan Jisoo. Sehun bersiul menepuk lengan Luhan. Kyungsoo memiringkan kepala sementara Jongin oppa menyipit seperti berusaha meyakinkan bahwa akulah orang yang sedang duduk di sini.

Kami semua menahan napas. Tanpa kata-kata pembuka Jisoo mendudukkan bokong sexynya dipangkuan Luhan. Perasaan muak merangkak naik dari dalam diriku.

Jisoo mencium laki-laki itu. Dan yang bulu kudukku meremang adalah bukan karena melihat Jisoo mencium Luhan atau fakta bahwa teman-temanku terkesiap dengan bunyi ‘Oh’ keras. Bukan! Melainkan mata Luhan yang tetap lurus menahan mataku seakan siap melahapku habis.

Aku gugup tak mengerti dengan reaksiku akibat tatapan Luhan yang panas. Kenapa laki-laki itu memberikan efek seperti ini padaku.
Kusambar gelas di atas meja tak peduli minuman itu milik siapa atau apa isinya. Apa pun ity jika bisa menghapus kegilaan ini.

Sekali teguk kemudian aku tersedak begitu hebat. Rasa minuman itu sangat menyengat membakar kerongkongan. Sial!  Tubuhku ikut berguncang  karenanya membuatku menumpahkan isi gelas.

Wendy menepuk punggungku keras, dia mengambil alih gelas. Aku memberi kode padanya.
“Kamar mandi.”

Wendy mengangguk.

“Gwenchana?” tanya Yoona khawatir.

Aku mengangguk bertingkah seperti orang bisu.

Rasa menyengat minuman tadi tak juga hilang. Batukku sudah berhenti sekarang kekesalanku digantikan oleh baju yang basah dan lengket.

Menyebalkan. Ini semua gara-gara Luhan. Bukan! Ini murni kesalahanku. Andaisaja aku tak bersikap bodoh. Sejak kapan aku bersikap tidak masuk akal. Kuhentakkan kaki kesal setelah itu mematut diriku lagi di depan cermin. Kuhela napas panjang lalu memutuskan keluar.

“Kau tidak apa-apa?”

Satu pekikan lolos dari bibirku. Mataku melebar. Demi Tuhan, dia tak bisa berhenti membuat jantungku copot.

Aku berdeham tahu Luhan menunggu jawabanku. “Oh. Kau datang untuk bertanya?”

Dia mengangkat bahu. Kebiasaan kecil yang selalu dia lakukan. Astaga! Bahkan aku sudah mulai menghapalnya.

“Bajumu basah.”

Aku menatap ke bawah mengikuti pandangannya. “Ya ada untungnya…eh tunggu apa yang kau lakukan?” DEWI! Erangku dalam hati.

Luhan melepaskan jaket hitamnya lalu memakaikan jaket itu kepadaku. Aku membeku oleh perhatiannya. Aku terpaku terhipnotis oleh intens nya tatapan laki-laki itu.

Luhan mendekat, paru-paruku lupa caranya bekerja, bisa kurasakan jantungku memukul dadaku kencang. Aku menutup mata menunggu…

P.s : Hai mksh utk comment n vote kalian. Gimana ff ini?apa kalian suka? Aku ingin dengar pendapat kalian tentang ff ini. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. Karena chapter selanjutnya akan bergantung dr bykny vote n komentar kalian ^^ thank you

The Way To Caring You

Cast: Seohyun SNSD, Luhan
Choi Sooyoung, Wendy Son.
PG: -14
Genre: Romance,
Author: rattafabilla
Halo, Readers. Semoga kalian nggak bosen sama ff gajeku yang satu ini. Semoga kalian terhibur 
Happy Reading 
>>>>>>
Dengan malas aku menutup kamus bahasa Mandarinku lalu menjatuhkan kepalaku di atasnya.
“Auu!” Pekikku kesakitan. Aku mengelus pipiku pelan, efek terlalu keras menjatuhkan kepala ke kamus.
“Ck, bodoh!” Aku menoleh, lalu mendengus kesal. Bocah sok-pendiam itu lagi -read more->

ATTENTION!

Halo 🙂
Ok langusng aja. Ulil minta maaf krn sdh lama bgt ngga buka blog ini, kebetulan Ulil lagi persiapan buat UN hehehe jadi belajar terus. So.. buat author freelance atau yg mendaftar mjd salah satu crew disini mhn perhatiannya dan kesabarannya(?) sesering mungkin Ulil bakal ngecek email.
Dan buat crew tetap disini ayoo ayoo terus semangat meramaikan blog ini ya^^
Sekian,
Keep Smile!